Showing posts with label rem koolhaas. Show all posts
Showing posts with label rem koolhaas. Show all posts

Friday, September 25, 2020

The Countryside Meets the Big City by Budi Pradono (Pameran Hasil riset Rem Koolhaas dan AMO di Guggenheim New York)

Koolhaas Exhibition Arrives in New York

         Countryside, The Future, an exhibition by renowned architect Rem Koolhaas, is currently on display at the Guggenheim Museum in New York City. The exhibition shines a spotlight on the environmental and societal issues faced around the world today, as a result of expanding industrialization. Koolhaas has collaborated with accomplished scientists and environmentalists to analyze the various factors contributing to climate change and the rise and fall of ecosystems and communities around the world. The exhibition provides fascinating insight on human migration patterns, and explains different scenarios which cause civilizations to move from the countryside to the city (and, eventually, back to the countryside).


The Inspiration behind Countryside, The Future

         Koolhaas defines the countryside as “the 90% of the Earth’s surface not occupied by cities.” In Countryside, The Future, Koolhaas draws on ideologies from ancient civilizations – particularly, the Romans and the Chinese, who valued rural areas for environmental and spiritual reasons. Koolhaas believes that modern society should uphold similar beliefs. “The countryside was where you went to think, an environment where you could unfold private ambitions. There was an inherent respect for nature,” he states in an interview with The New Yorker. “We wanted to put the countryside back on the agenda, and also show that the countryside is a terrain, or domain, where you can have a fulfilling life.”

         Koolhaas shares interesting observations about the transition from the countryside to city living. In the late twentieth century, the United States and Europe experienced a shortage of food after the war. This resulted in the expansion of farming sites in rural areas, and efforts to improve the efficiency of agricultural production. The commercialization of farm land was also a catalyst for migration from the countryside to the city, as many people were pushed out of their homeland and exposed to the urban lifestyle. As time went on, the mentality in developed countries shifted, and western, capitalistic thinking became the standard for doing business. As a result, the valuation of the countryside was gradually forgotten, and replaced with ambitions of material success found in cities. In Countryside, The Future, Koolhaas demonstrates several innovative solutions to intertwine ancient principles and scientific methods with the technology of today.

Futuristic Farming

Before even stepping foot inside the Guggenheim Museum, visitors are immediately confronted with a striking dichotomy that exemplifies Koolhaas’s studies. Outside the building is an indoor farming complex, which uses pink LED lights to grow pesticide-free tomatoes. The indoor farm has successfully produced 100 pounds of tomatoes per week. With the bustling life of New York City in the background, Countryside, The Futurehas landed at the perfect location to help prove Koolhaas’s theories.

         The indoor tomato farm isn’t the only futuristic setup Koolhaas has on display. Inside the museum, a device called a PhenoMate is busy scanning plant leaves and calculating the efficiency of the photosynthesis cycle for each individual. There is also a “pixel farming” display, which Koolhaas explains is based on a Mayan farming technique. The idea is to plant different types of crops next to each other in order to maximize the nutrients in the soil. Plants that have a symbiotic relationship to one another also provide protection from pests and disease. Although there is still much research to be done, experiments such as these have the potential to pay big dividends as the scientific community continues to look for answers to control climate change.

         Throughout the Guggenheim, Koolhaas’s exhibits take visitors on a tour of a utopian world where nature and industry work together in perfect harmony. One room shows a scene of an African village powered entirely by wind. Another illustrates scenarios of protected animal species peacefully interacting with people. Koolhaas does not appear to take a negative stance on technology – in fact, he seems to believe that it plays a starring role in solving some of the world’s most pressing problems. Throughout his displays, Koolhaas utilizes mobile devices, drones, and artificial intelligence to unite ecosystems with economic activities and strike a healthy balance between urbanization and conservation.


Returning to the Countryside

A recent study by the United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change found that humans take up 70% of the ice-free land on the planet. Unfortunately, 25% of that land is impacted by environmental degradation that can be directly attributed to human activity and interference. In Countryside, The Future, Koolhaas emphasizes the importance of using innovation, technology, and research to give back to the planet what we took from it. Ironically, humanity relies on the countryside now more than ever. As Koolhaas put it, “Just 200 years later, we have to ‘save’ nature to save ourselves.”

Tuesday, April 30, 2019

Bigness dan Masalah Keluasan [1993] – oleh REM KOOLHAAS

“Bigness and the Problem of Large,”OMA< Rem Koolhaas, dan Bruce Man, S, M, L, XL, (New York: Monacelli Press, 1995), 494-516. Hak cipta Rem Koolhaas dan the Monacelli Press, Inc.

Jenis
Terlepas dari perhitungan skala tertentu, arsitektur memerlukan Bigness. Alasan paling tepat untuk meneliti bignessadalah alasan yang diungkapkan oleh pendaki-pendaki di Gunung Everes : “Karena hal itu memang ada”. Bigness merupakan arsitektur yang penting.

Menarikanya, ukuran dari suatu bangunan itu sendiri menimbulkan suatu permasalahan ideologi dan keinginan arsiteknya.
Dari kesemua kategori yang ada, bigness dipandang tidak layak untuk mendapatkan suatu manifesto; tak dianggap sebagai suatu permasalahan intelektual, bigness rupanya tengah lambat laun mulai padam – persis seperti yang terjadi pada kepunahan dinosaurus. Padahal, fakta menunjukkan bahwa hanya teori tentang bigness yang menuntun pada paham kompleksitas yang akhirnya mengarah pada ilmu-ilmu arsitektur dan bidang lain yang terkait.
Seratus tahun yang lalu, arsitektur BIG BANG dipamerkan oleh suatu generasi yang berhasil melakukan terobosan konseptual dan memanfaatkan teknologi pendukung untuk melakukan terobosan tersebut.  Dengan cara mengacak sirkulasi dan sirkuit jarak pendek, merekayasa interior, mengurangi massa atau berat, memperluas dimensi, dan meningkatkan kualitas tidak hanya konstruksi, namun juga lift, listrik, AC, baja, dan akhirnya, infrastrukutur baru tersebut dianggap telah berhasil menunjukkan suatu perubahan yang signifikan atau “mutasi” yang kemudian mempelopori jenis-jenis arsitektur yang lain. Penemuan ini menghasilkan berbagai efek, antara lain struktur bangunan yang tidak hanya lebih tinggi dan jauh lebih besar daripada yang pernah dibangun sebelumnya, namun juga yang memiliki banyak potensi untuk perubahan dunia sosial, yaitu inovasi yang jauh lebih beragam dan kaya.

Jenis
Terlepas dari perhitungan skala tertentu, arsitektur memerlukan Bigness. Alasan paling tepat untuk meneliti bignessadalah alasan yang diungkapkan oleh pendaki-pendaki di Gunung Everes : “Karena hal itu memang ada”. Bigness merupakan arsitektur yang penting.

Menarikanya, ukuran dari suatu bangunan itu sendiri menimbulkan suatu permasalahan ideologi dan keinginan arsiteknya.
Dari kesemua kategori yang ada, bigness dipandang tidak layak untuk mendapatkan suatu manifesto; tak dianggap sebagai suatu permasalahan intelektual, bigness rupanya tengah lambat laun mulai padam – persis seperti yang terjadi pada kepunahan dinosaurus. Padahal, fakta menunjukkan bahwa hanya teori tentang bigness yang menuntun pada paham kompleksitas yang akhirnya mengarah pada ilmu-ilmu arsitektur dan bidang lain yang terkait.
Seratus tahun yang lalu, arsitektur BIG BANG dipamerkan oleh suatu generasi yang berhasil melakukan terobosan konseptual dan memanfaatkan teknologi pendukung untuk melakukan terobosan tersebut.  Dengan cara mengacak sirkulasi dan sirkuit jarak pendek, merekayasa interior, mengurangi massa atau berat, memperluas dimensi, dan meningkatkan kualitas tidak hanya konstruksi, namun juga lift, listrik, AC, baja, dan akhirnya, infrastrukutur baru tersebut dianggap telah berhasil menunjukkan suatu perubahan yang signifikan atau “mutasi” yang kemudian mempelopori jenis-jenis arsitektur yang lain. Penemuan ini menghasilkan berbagai efek, antara lain struktur bangunan yang tidak hanya lebih tinggi dan jauh lebih besar daripada yang pernah dibangun sebelumnya, namun juga yang memiliki banyak potensi untuk perubahan dunia sosial, yaitu inovasi yang jauh lebih beragam dan kaya.

Te



Monday, February 5, 2018

S M L XL : What Ever Happened to Urbanism? oleh Rem Koolhaas

S M L XL : Abad ini telah kalah dalam pertarungan melawan masalah kuantitas.

Terlepas dari awal yang menjanjikan dari keberaniannya, urbanisme tidak dapat dikembangkan dan diterapkan pada skala yang diminta oleh demografi yang telah rusak. Dalam 20 tahun, Lagos telah berkembang dari 2 ke 7, lalu 12 dan 15 juta; Istanbul telah tumbuh dua kali lipat dari 6 menjadi 12. China bahkan bersiap untuk pertambahan yang lebih menakjubkan lagi.

Bagaimana menjelaskan sebuah paradoks bahwa urbanisme, sebagai profesi, telah menghilang disaat urbanisasi terjadi dimana-mana – setelah beberapa dekade pertumbuhan pesat yang konstan – menuju jalan “kemenangan” globalnya dari kondisi kota?
Janji semu modernisme – mengubah kuantitas menjadi kualitas melalui abstraksi dan pengulangan – telah gagal, sebuah kabar burung: sihir yang tidak berfungsi sama sekali. Idenya, sisi estetikanya bahkan strateginya semuanya telah berakhir. Ditambah lagi, usaha untuk membuat permulaan baru hanya akan menodai gagasan tentang permulaan baru itu sendiri. Sekumpulan dari rasa malu yang muncul dari kekacauan ini telah meninggalkan lubang besar pada bagaimana pemahaman kita tentang modernitas dan modernisasi.



Apa yang membuat pengalaman ini menjadi membingungkan dan (untuk arsitek) memalukan adalah daya tahan kuat dari kota dan kekuatan yang gigih, meskipun ada sekumpulan kesalahan dari semua bagian yang bertindak atau mencoba untuk mempengaruhinya – secara kreatif, logika, politik.
Para ahli kota seperti pemain catur yang kalah saat melawan komputer. Kendali otomatis yang terus mencoba berbagai cara untuk menguasai kota, menghabiskan semua ambisi dari definisinya, mengejek pernyataan paling ambisius mengenai kegagalannya saat ini dan ketidak mungkinannya di masa depan, mengendalikan kelemahannya lebih jauh lagi. Setiap bencana yang diprediksi, entah bagaimana terserap dibawah selimut tak terbatas dari kota.
Meskipun saat pendewaan urbanisasi tampak mencolok dan tak terhindarkan secara matematis, rangkaian dari  aksi dan posisi untuk keluar darinya menahan momen akhir dari pengakuan untuk dua profesi yang sebelumnya sangat terlibat dalam pembuatan kota-kota – arsitektur dan urbanisme. Urbanisasi yang sudah mengakar telah mengubah kondisi kota lebih dari apa yang dikenal sebelumnya. “Kota” tidak lagi ada. Saat konsep kota terdistorsi dan berkembang melebihi contoh yang ada, setiap usaha memunculkan kondisi sebelumnya – baik dari sisi citra, aturan, pembuatan – berakhir pada nostalgia tak berakhir yang tidak berhubungan.

Bagi kaum urban, penemuan kembali yang terlambat dari keagungan kota klasik pada saat ketidak mungkinan yang pasti dari mereka mungkin telah menjadi titik dimana mereka tidak bisa kembali, momen fatal putusnya hubungan, diskualifikasi. Mereka sekarang ahli dalam rasa sakit semu: para doktor mendiskusikan sejarah awal medis dari bagian badan yang teramputasi.


Transisi dari posisi kekuatan sebelumnya menuju ke titik yang tereduksi dari kerendahan hati sangat sulit dilakukan. Ketidakpuasan dengan kota kontemporer tidak dapat membawanya menuju pengembangan dari jalan alternatif yang kredibel; sebaliknya, hal ini telah menginspirasi berbagai cara yang lebih baik dalam memperpanjang ketidak puasan. Sebuah profesi yang terus berada dalam fantasinya, ideologinya, kepura-puraannya, dan ilusi dari keterlibatan dan pengendaliannya, dan karena itu, hal ini tidak memungkinkan untuk membuat kesopanan yang baru, intervensi sebagian yang baru, pengubahan strategis baru, posisi yang berbahaya yang mungkin dapat mempengaruhi, mengarahkan ulang, menyukseskan dalam hal yang terbatas, mengumpulkan kembali, memulai dari titik nol lagi, tetapi tidak akan pernah bisa memulihkan kendalinya. 

Karena generasi Mei ’68 – generasi terbesar yang pernah ada, yang tenggelam dalam “narsisme kolektif dari ledakan demografi” – sekarang menguasai, sangatlah menggoda untuk berpikir bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas berakhirnya urbanisme – sebuah kondisi dimana kota-kota tidak dapat lagi dibangun – secara paradoks karena mereka menemukan dan menciptakan kembali kota.
Sous le pave, la plage (dibawah trotoar, pantai) : pada awalnya, generasi Mei ’68 meluncurkan ide sebuah permulaan baru untuk kota. Sejak saat itu, kita telah dilibatkan dalam dua operasi pararel: mendokumentasikan kekaguman kita yang luar biasa pada kota yang sudah ada, mengembangkan filosofi, proyek, purwa rupa untuk mempertahankan dan pembentukan kembali kota dan, pada saat yang sama, menertawai bidang profesional dari urbanisme atas keberadaannya, membongkarnya dengan kebencian kita pada mereka yang merencanakan (dan membuat kesalahan besar dalam perencanaan) bandara, Kota baru, kota satelit, jalan tol, gedugn pencakar langit, infrastruktur, dan semua yang tidak selaras dengan modernisasi. Setelah menyabotase urbanisme, kita telah merendahkannya hingga titik dimana seluruh fakultas di universitas ditutup, kantor dibangkrutkan, biro tidak lagi menjadi badan swasta. “Kecanggihan” kita menyembunyikan gejala besar dari ketakutan yang berpusat pada permasalah sederhana dari pengambilan posisi – mungkin aksi paling mendasari dalam membuat sebuah kota. Kebijaksanaan kita yang kompleks dapat secara mudah dibuat karikaturnya: menurut Derrida, kita tidak bisa menjadi Seluruhnya, menurut Baudrillard kita tidak bisa menjadi Nyata, menurut Virilio kita tidak bisa ada Disana.

“Terbuang di Dunia Virtual”: sebuah plot untuk film horor. Hubungan kita saat ini dengan “krisis” dari kota sangatlah tidak jelas: kita masih tetap menyalahkan satu sama lain untuk situasi dimana utopianisme yang tidak bisa disembuhkan dari keduanya dan ketidak setujuan kitalah yang sebenarnya bertanggung jawab. Karena hubungan munafik kita dengan kekuasaan – tidak setuju namun tamak akannya – kita membongkar seluruh disiplin ilmu kita, melepaskan diri dari proses operasi, dan menyalahkan seluruh populasi atas ketidak mungkinan untuk menyandikan peradaban pada wilayah mereka – subyek dari urbanisme.
Sekarang, kita hidup dengan dunia tanpa urbanisme, hanya arsitektur dan selebihnya juga arsitektur. Kerapihan dari arsitektur adalah daya tariknya: hal itu membuatnya lebih jelas, eksklusif, terbatas, terpisah dari “lainnya” tetapi juga mengkonsumsi. Dia mengeksploitasi dan menghabiskan potensi yang pada akhirnya hanya dapat diciptakan oleh urbanisme, yang hanya imajinasi khusus dari urbanisme yang dapat menciptakan dan memperbaharuinya.
Kematian dari urbanisme – tempat perlindungan kita dari parasitisme arsitektur – menciptakan bencana besar: semakin dan semakin banyak substansi yang dicangkokan pada akar yang sedang lapar.

Dalam momen saat kita lebih permisif, kita menyerah pada estetika kekacauan – kekacauan “kita”. Tetapi, bila dilihat dari sisi teknis, kekacuan adalah sesuatu yang terjadi saat tidak ada sesuatu yang terjadi, bukan hal yang dapat dirancang atau didatangkan; hal ini adalah sesuatu yang muncul; ini tidak dapat dibuat dengan sengaja. Satu-satunya hubungan yang nyata yang dapat dimiliki arsitek dengan subyek dari kekacauan adalah untuk mengambil tempat semestinya dalam sekumpulan pasukan yang berjuang untuk melawannya, dan mereka gagal.
Bila ada yang akan menjadi “urbanisme baru” hal itu tidak akan berdasarkan pada fantasi kembari dari keteraturan dan kemahakuasaan; hal itu akan menjadi pertunjukan ketidak pastian; hal itu tidak akan lagi dipandang sebagai hal yang berkaitan dengan penataan dari sedikit banyak obyek permanen, tetapi berhubungan dengan irigasi dari wilayah-wilayah dengan potensi; ini juga tidak akan membidik konfigurasi yang stabil, tetapi untuk penciptaan dari pengadaan area yang mengakomodasi proses-proses yang menolak untuk dikristalisasi menjadi bentuk yang pasti; ini tidak akan lagi tentang definisi yang detail, pengungkapkan batas, tetapi tentang mengembangkan gagasan, menolak batasan, tidak tentang memisahkan dan mengidentifikasi wujud, tetapi tetnang menemukan perpaduan yang tak bernama; ini tidak lagi terobsesi dengan kota, tetapi dengan manipulasi infrastuktur untuk intensifikasi dan diversifikasi tak berujung, jalan pintas dan distribusi ulang – penemuan kembali dari psikologi ruang. Dikarenakan kota saat ini sudah sangat terbuka, urbanisme tidak pernah lagi tetnang hal “baru”, tetapi hanya tentang “lebih” dan “yang termodifikasi.” 

Hal ini tidak akan tentang peradaban, melainkan tentang kurangnya perkembangan. Sejak hal ini tidak lagi terkendali, kota hampir menjadi vektor utama dari imajinasi. Setelah didefinisikan ulang, urbanisme tidak akan hanya, atau sebagian besar, sebagai profesi, melainkan cara berpikir, sebuah ideologo: untuk menerima apa yang ada. Kita membuat istana pasir. Sekarang, kita berenang dilaut yang menghancurkannya.

Untuk bertahan, urbanisme harus membayangkan pembaruan yang baru. Terbebas dari tugas lamanya, urbanisme didefinisikan ulang sebagai sebuah jalan untuk beroperasi yang akan menyerang arsitektur tanpa bisa dihindari, menjajah wilayahnya, membawanya keluar dari benteng pertahanannya, merusak kepastiannya, meledakkan batasannya, merendahkan keasyikannya pada benda dan substansi, menghancurkan tradisinya, mengusir para praktisinya.

Kegagalan yang terlihat dari kota menawarkan kesempatan yang besar, dari untuk ketidak seriusan Nietzschean. Kita harus membayangkan 1.001 konsep lain dari kota; kita harus mengambil resiko besar; kita harus berani untuk tidak mengkritik; kita harus menelan dalam-dalam dan memaafkan apapun yang ada. Kepastian dari kegagalan harus menjadi gas tawa/oksigen kita; modernisasi obat kita yang paling mujarab. Karena kita memang tidak bertanggung jawab, kita harus menjadi tidak bertanggung jawab.

Dalam lanskap peningkatan kebijaksanaan dan kefanaan, urbanisme tidak lagi harus menjadi keputusan kita yang paling serius; urbanisme dapat lebih santai, menjadi Gay Science = Urbanisme Ringan.
Apakah yang kita nyatakan hanya sebatas tidak ada krisis – mendefinisikan ulang hubungan kita dengan kota tidak sebagai pembuatnya, tetapi hanya sebagai subyek, sebagai pendukungnya?
Lebih dari sebelumnya, kota adalah satu-satunya yang kita miliki.

Wednesday, October 21, 2015

Kekinian dan Masa Depan dalam praktek Arsitektur oleh Budi Pradono,

Kekinian dan Masa Depan dalam praktek Arsitektur[1]
disampaikan dalam seminar Forsight, di UAJY, 19 Mei 2015
Budi Pradono[2]


Latar Belakang

Dalam kesempatan seminar ini yang diselenggarakan oleh Jurusan arsitektur Universitas Atma jaya Yogjakarta, saya diberi tema yang cukup sulit untuk diterjemahkan, temanya “forshight” dalam tema itu mengacu pada pandangan pandangan arsitek pada masa depan, dimana pandangan tersebut harus mengacu pada masa lalu dan masa kini.
Menjadi praktisi arsitek adalah sebuah pilihan. Menurut survey yang dilakukan baik itu di kampus-kampus terkemuka di seluruh dunia, maupun sekolah arsitektur yang ada rata-rata hanya dua persen saja dalam satu angkatan yang benar-benar menjadi arsitek atau arsitekpreneur, yang membuka kantor arsitek sendiri maupun bersama-sama dengan koleganya. Sisanya menjadi banker, pengusaha yang masih berhubungan dengan dunia arsitektur misalnya membuka kantor developer, menjadi kontraktor, menjadi animator, maupun menjadi supplier bahan bangunan. Patut diakui profesi arsitek merupakan profesi yang unik, keren tetapi melelahkan, kita harus mencurahkan segala energy dan pikiran kita pada pekerjaan ini, baik dilakukan secara normal seperti orang kantoran kebanyakan atau super serius yang mengharuskan kita lembur demi mencapai deadline waktu. Sejak kita kuliah adalah saat dimana seleksi alam itu dimulai. Setiap mahasiswa dituntut untuk memiliki passion yang kuat, semangat yang membara dan juga cinta… sehingga berhari-hari lembur pun dilakukan dengan gembira. Kembali kepada ema yang ditawarkan jadi kalau saya harus merunut masa lalu masa kini dan masa depan tentu saja ini menjadi autobiografi yang menarik, menjadi referensi bagi para mahasiswa.



Pemahaman Sejarah

Penting sekali bagi setiap lulusan arsitektur mempelajari sejarah, mata kuliah ini yang diberikan hanya 2 sks nyatanya sangat berguna, sebagai alat untuk mendefinisikan dirinya sendiri ketika akan lulus. Kita bias melihat bahwa semua arsitek besar masa kini merupakan arsitek yang berhasil menemukan keunikan / keunggulannya dari yang lain. Keunggulan itu diperoleh karena pemahaman sejarah, karena latihan ( Zaha hadid perlu 20 tahun untuk kalah dalam mengikuti berbagai kompetisi didunia, tetapi tetap konsisten dengan metode nya dengan strategi perancangannya baginya kompetisi adalah exersize yang tiada henti. Dari studio nya yang kecil di London, sekarang dia memiliki 400 karyawan yang mengerjakan rancangan bangunan di seluruh dunia.) yang kedua adalah banyak melihat, kita yang tinggal di Indonesia bias iri karena terlalu sedikit contoh rancangan bangunan internasional dengan kualitas A ada di Indonesia. Hal ini dimaklumi karena ilmu arsitektur masih terlalu baru untuk ukuran Indonesia, seperti kita ketahui lulusan arsitek pertama dari ITB Indonesia, adalah pada tahun 1958. Dalam rentang waktu itu hingga kini para arsitek Indonesia belum mendapatkan tempatnya karena situasi politik dan pemerintahan yang memandang itu hanya sebelah mata. Masa keemasan arsitek Indonesia adalah masa jaman presiden pertama RI, karena di saat awal kemerdekaan itu Soekarno ingin membangun Jakarta agar setara dengan kota –kota metropolitan di duina. Tetapi setelah era Soekarno yang menyelenggarakan banyak kompetisi bangunan public, selama 30 tahun kita dikendalikan oleh penguasa yang otoriter
 yang kurang paham pada tatanan arsitektur. Tentu saja selama itu pula arsitektur yang dianut adalah arsitektur barat kapitalistik. Itu adalah masa-masa dimana terjadi boom minyak bumi dan sepanjang jalan sudirman Thamrin dibanjiri bangunan box kaca yang generic, inilah hadirnya international style.  

Saat saya menyelesaikan study arsitektur tahun 1995 dan kemudian menimba ilm dengan bekerja di berbagai Negara selama kurang lebih 10 tahun.  Saya merasakan hadirnya orde reformasi setelah orde sebelumnya tumbang. Pada masa itu hingga sekarang kita mendapatkan gempuran informasi yang begitu cepat, massif dan bombastis, gempuran gempuran itu sebenarnya bagian dari globalisasi dan penyetaraan persepsi. Sosial media tumbuh pesat yang menyebabkan menipisnya batas geografis seseorang. Sosial media yang tumbuh subur menjadikannya mediator bagi pertukaran gambar/ image ke seluruh dunia. Pertukaran ini menyebabkan arsitektur telah direduksi menjadi komoditas yang hanya dilihat dari image / tampaknya saja, tetapi pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bangunan itu terbangun menjadi sangat kurang, konsep dalam berarsitektur telah direduksi hanya sebagai kulit luar tanpa arti.


Arsitektur Moderen

Tonggak sejarah arsitektur modern dicanangkan oleh Le Corbusier (1887-1965) pada tahun 1931, ketika dia dengan semangat membara meluncurkan sebuah buku klasik berjudul “Towards A New Architecture”  : salah satu argument dari Corbu adalah tentang arsitektur atau revolusi: The history of Architecture unfolds itself slowly across the centuries as a modification of structure and ornament, but in the last fifty years steel and concrete have brought new conquest, which are the index of greater capacity for construction, of an architecture in which the old codes have been overturned. If we challenge the past, we shall learn that “styles” no longer exist for us, that style belonging to our period has come about; and there has been Revolution.[3]
Corbu juga mengingatkan bahwa Architecture has nothing to do with the “styles” argument ini tetap relevan hingga saat ini.

Tonggak berikutnya adalah buku karya Rem Koolhaas “Delirious New York: Retroactive Manifesto for Manhattan (1978)  sebuah buku wajib bagi arsitek maupun mahasiswa arsitektur di seluruh dunia dalam buku ini Rem Koolhaas menyatakan  "The City is an addictive machine from which there is no escape"
 aspek kunci dari arsitektur yang Koolhaas perkenalkan adalah"Program": dengan munculnya modernisme di abad ke-20 "Program" menjadi tema utama dari desain arsitektur. Gagasan Program melibatkan "tindakan untuk mengedit fungsi dan aktivitas manusia" sebagai dalih desain arsitektur: dicontohkan dalam Form follow Function, pertama kali dipopulerkan oleh arsitek Louis Sullivan pada awal abad ke-20. Gagasan ini pertama kali dipertanyakan di Delirious New York, dalam analisisnya arsitektur bertingkat tinggi di Manhattan. Sebuah metode desain awal yang berasal dari pemikiran tersebut adalah "cross-pemrograman", memperkenalkan fungsi tak terduga dalam program ruang, seperti menyediakan trek lari di gedung pencakar langit.[4]

Tonggak berikutnya adalah buku Rem Koolhaas :S,M,L,XL setebal 1376 halaman
Buku yang diterbitkan tahun 1995 menggabungkan esai, manifesto, buku harian, fiksi, perjalanan, dan meditasi di kota kontemporer. Hampir sepuluh tahun Karya karya Rem Koolhaas di OMA yang gagal terealisir ditampilkan dalam buku ini sebuah implementasi dari hasil riset buku yang pertama, merupakan interpretasi dalam Manhatannisme, banyak istilah yang kemudian menjadi umum dalam istilah arsitektur seperti Biggness dan urbanisme.


Arsitektur dalam praktek pada firma BPA

Pada praktek arsitektur yang saya jalankan dan dalam mengantisipasi kemajuan dalam informasi teknologi dan dalam mengantisipasi perubahan cara bertinggal, urbanitas yang baru sehingga disadari perlu adanya firma rsitektur dengan kerangka riset yang kuat. Budi Pradono Architects (BPA) berdiri tahun 2005, didefinisikan sebagai firma arsitektur yang berbasis riset.[5] Hal ini memberikan output yang luas baik di bidang perancangan urban, bangunan privat, maupun bangunan kebudayaan dan komersial. Sebenarnya basis penelitian ini memberikan kesempatan yang luas agar BPA dapat selalu berinovasi dengan begitu karya-karyanya merupakan sesuatu yang benar-benar baru sehingga ke depannya dapat menggoreskan sejarah arsitektur di Indonesia. Dari sisi perancangan juga diharapkan dapat menjadi global karena mereduksi batas geografis suatu Negara, diharapkan ke depan dapat menjadi bagian dunia yang lebih luas. BPA karena berfokus pada perubahan lifestyle masyarakat kontemporer. tentu saja bersentuhan dengan kehidupan masyarakat dunia terkini, hal inilah yang menyebabkan analysis-analysis pada perubahan masyarakat ini yang akan menentukan rancangan sehingga rancangan-rancangannya menjadi sangat spesifik. Dalam presentasi kali ini saya akan menjelaskan metode dan sekaligus rancangan-rancangan terkini, yang terdiri dari beberapa studi kasus; proyek arsitektur ini semuanya memiliki beberapa pendekatan yang berbeda-beda, namun juga memiliki garis merah yang sejalan antara lain adalah pendekatan programming dan diagraming yang dapat diimplementasikan pada setiap study kasus. Perbedaan mendasar dari setiap proyek adalah karakteristik lokalitasnya atau konteks. Dengan begitu ramuan arsitekturnya adalah perkawinan antara programming dan konteks tempatnya atau the spirit of place nya.



[1] Disampaikan dalam Seminar arsitektur di Universitas Atma Jaya Yogjakarta, 19 Mei 2015
[2] Budi Pradono (1971), anggota IAI professional, principal architect pada Budi Pradono Architects [BPA], firma arsitektur berbasis riset, direktur JADUL (Jakarta Digital Urban Lab), saat ini ditunjuk sebagai curator untuk pameran Austellung 70’s bad di Sciltach, Jerman 2014-2015, ditunjuk sebagai advisor pada pengembangan industry creative bidang desain dan arsitektur antara Indonesia dan UK 2014-2015,
[3] Le Corbusier, Towards A New Architecture, 1986, hal 7,
[4] Delirious New York: A Retroactive Manifesto for Manhattan, New York, Monacelli Press, 1994; Rem Koolhaas, et al, originally published by Oxford University Press 1978, New York: Monacelli Press 1995), dalam buku tersebut Rem Koolhaas dengan rinci menceritakan bagaimana program yang terus berubah secara dinamik mengisi tower-tower di dalam grid yang tidak berubah

[5] BPA adalah singkatan dari Budi Pradono Architects, PT: Firma arsitektur berbasis riset yang didirikan pada tahun 2005. Sejak tahun 2005 berturut-turut mendapatkan penghargaan Emerging architecture award-UK, Cityscape Awards, Dubai, Silver Interach medal dan honorary diploma , Bulgaria (2007& 2009), WAF, World Architecture Festival, Barcelona (2008), World architecture Community, Barcelona (2009), dan IAI awards (2011& 2012), Karyanya juga terpilih dipamerkan pada Venice Architecture Biennale, Italy (2014), Jakarta Contemporary Ceramic (2014), dan Bamboo Biennale (2014)

Saturday, June 18, 2011

REM KOOLHAAS Pulang kampung nih! oleh Budi Pradono (1)


Rem Koolhaas yang sempat tinggal selama 4 tahun di Jakarta tentu saja kangen dengan makanan khas Jakarta: nasi goreng, bakso, sate, dan krupuk.
Sebenarnya Rem Koolhaas sudah beberapa kali ke Jakarta dan Bali sekedar melepas kangen dengan keindahan Indonesia, pernah ditanggap oleh ikatan arsitek Indonesia beberapa tahun lalu, tapi dia merasa membutuhkan lawan yang seimbang, dia ingin para arsitek muda Indonesia yang professional dan intelektual untuk hadir seperti menjadi lawan tanding yang sempurna menghadapi kehadiran goliath di bidang arsitektur, itulah sebabnya kedatangan Koolhaas kali ini yang diorganisir oleh Jong arsitek dan IAI dibuat gratis di Blitz megaplex! tanggal 20 Juni 2011. Tiketnyapun ludes dalam waktu 1 hari.





Tidak dipungkiri lagi bahwa kebesaran Rem sebagai pemikir utama arsitektur. Seorang intelektual yang kita hormati. Merupakan sosok yang cerdas, brilian sekaligus pemarah. Saya adalah salah satu penggemarnya mendatangi beberapa proyeknya baik yang pertama Kunsthal di Rotterdam maupun Prada store di New York. Untuk ukuran Indonesia kita pasti dibuat bingung karena Rem dengan segala ketrampilannya mengolah program, sementara eksekusi akhir materialnya selalu mengikuti tempat dimana bangunan itu berada. Keindahan yang ditawarkan Koolhaas adalah kebenaran yang seharusnya, sebuah kewajaran yang tidak dibuat-buat.

Rem Koolhaas bernama panjang Remment Lucas Koolhaas kelahiran 17 November 1944, adalah seorang arsitek, teoritikus arsitektural, urbanis, sekaligus professor in Practice di Grad school of design, Harvard, USA. Dia belajar di Netherlands Film and Television Academy (NFTA) di Amsterdam, lalu di AA school, London, dan di Conell University Ithaca, New York.
Rem pendiri kantor arsitektur dan urbanism OMA dan juga studio riset AMO, dia juga penggagas kelahiran Volume magazine bersama Mark Wigley dan Ole Bouman.
Tahun 2000 Rem Koolhaas memenangkan Pritzker Prize, sebuah penghargaan tertinggi bidang arsitektur yang setara dengan hadiah Nobel, delapan tahun kemudian (2008) majalah TIME memilihnya sebagai top 100 orang-orang yang paling berpengaruh di Dunia.
Orang tua Rem, Anton Koolhaas dan Selinde Pietertje Roosenburg adalah orang yang punya peran penting saat Indonesia berusaha melepaskan diri dari penjajahan Belanda, karena dia seorang penulis, kritikus dan sekaligus screenwriter, karena peran itulah ketika Indonesia merdeka Anton Koolhaas ditugaskan di bagian kebudayaan (1952-1955) jadi kira-kira ketika Rem Koolhaas berumur 8-12 tahun umur dimana proses pembentukan jadi dirinya, tentu saja Rem Koolhaas adalah penggemar krupuk, soto ayam, nasi goreng hampir mirip dengan Obama, presiden Amerika serikat sekarang.

Delirious New York
Buku Delirious New York merupakan satu buku penting yang mempercepat karir Rem Koolhaas. Koolhaas merayakan “chance-like” nature of city life: "Kota adalah mesin adiktif dari yang tidak ada tempat untuk melarikan diri" : kota didefinisikan sebagai kumpulan hot spot merah.






Seattle Central Library Seattle, Amerika Serikat, dirancang oleh OMA
Sebuah aspek kunci dari arsitektur  yang Rem Koolhaas tekankan dalam buku Delirious New York adalah "Program": dengan munculnya modernisme di abad 20 "Program" menjadi tema utama dari desain arsitektur. Gagasan Program melibatkan "suatu tindakan untuk mengedit fungsi dan kegiatan manusia" sebagai dalih (pretext) desain arsitektur:


Dalih Form follow function, pertama kali dipopulerkan oleh arsitek Louis Sullivan pada awal abad ke-20 dipertanyakan kembali dalam buku Delirious New York, dalam analisisnya tentang arsitektur pencakarlangit di Manhattan. Sebuah metode desain awal yang berasal dari pemikiran seperti itu "cross-programming", memperkenalkan fungsi tak terduga dalam program ruang, seperti menjalankan jogging trek di gedung pencakar langit.
Sebenarnya semua hasil pemikiran Rem Koolhaas merupakan expresi dari hasil risetnya dalam buku Delirious New York. Salah satu usulannya yang sangat radikal (sayang tidak berhasil) adalah gagasan crossprograming pada Seatle Public Library yaitu usulannya untuk memasukan satu unit rumahsakit untuk para tunawisma.
Saya membaca buku ini beberapa kali bahkan sempat membandingkan kemajuan New York dan Batavia (Jakarta) yang sama-sama mengalami keemasan pada abad ke 17 tapi mungkin VOC terlalu sulit menundukkan orang-orang jawa ketimbang orang-orang Indian di New York, pada abad berikutnya terjadi exodus orang-orang Eropa yang ingin mencari peruntungan yang baru di New York. Jadilah Manhattan

S, M, L, XL
Publikasi paling menghebohkan sekaligus menjadi Landmark Koolhaas adalah S, M, L, XL, bersama-sama dengan Bruce Mau, Jennifer Sigler, dan Hans Werlemann (1995), sebuah buku setebal 1376 halaman menggabungkan esai, manifesto, buku harian, fiksi, perjalanan, dan meditasi di kota kontemporer. 


S, M, L, XL memberikan catatan implementasi aktual dari "Manhattanisme" sebuah komplexitas antara expresi perjalanan OMA yang jatuh bangun, novel dan gabungan antara proyek dan teks  ala OMA telah dihasilkan sampai saat itu. Jennifer Sigler, yang juga berperan sebagai editor buku itu juga memasukkan kamus didasarkan atas riset yang dijalankan OMA menelurkan banyak konsep arsitektur baru; antara lain BIGNESS, GENERIC CITY. Saya merasa buku ini seperti alkitab bagi arsitek dan urbanis, hampir menjadi referensi untuk pemikiran arsitektur saya.




publikasi karya Rem berikutnya juga menjadi Landmark di dunia arsitektur adalah perannya sebagai profesor di Harvard University, dalam "Project on the City" sekolah desain, pertama yang 720-halaman Mutations, diikuti dengan The Harvard Design School Guide to Shopping (2002) dan The Great Leap Forward (2002). Ketiga buku melibatkan mahasiswa Koolhaas yang menganalisis apa yang orang lain akan menganggap sebagai "non-kota", luas konglomerasi seperti di Lagos, Nigeria, Afrika Barat, Rem berpendapat sangat fungsional meskipun kurangnya infrastruktur. Buku tentang guide to shopping juga menguji pengaruh kebiasaan berbelanja dan pertumbuhan yang cepat baru-baru ini kota-kota di Cina.



Banyak sekali kritikus yang menganggap Koolhaas terlalu sinis - seolah-olah kapitalisme Barat dan globalisasi menghancurkan semua identitas budaya –
Koolhaas memobilisasi apa yang dianggapnya the omnipotent forces of urbanism (kekuatan mahadahsyat urbanisme) menjadi bentuk desain yang unik. Koolhaas secara terus menerus menggabungkan hasil observasinya tentang kota kontemporer ke dalam aktifitas desainnya. Seperti ‘culture of congestion’. (budaya kepadatan), shopping juga dianggap sebagai  "intellectual comfort",


Bangunan CCTV di Beijing (2009) juga merupakan hasil analysisnya tentang beberapa criteria densitas, newnesss, bentuk, ukuran, dan Koolhaas tidak memilih bentuk pencakar langit stereotip, yang sering digunakan untuk melambangkan landmark perusahaan pemerintah tersebut, melainkan dirancang serangkaian volume yang tidak hanya mengikat bersama berbagai departemen ke situs samar-samar, tetapi juga memperkenalkan rute (sekali lagi, konsep cross programming)


Content

Pada tahun 2003, Rem Koolhaas menerbitkan buku Content dengan 544 halaman yang dirancang oleh &&& creative, lebih mirip komik yang lucu unik tapi menusuk, yang memberikan gambaran tentang beberapa OMA project termasuk interview dengan Martha Stewart dan Robert Ventury & Denise Scott Brown. Buku Content juga salah satu buku kesayangan sekaligus favorit saya. Karena sangat jenaka, bahkan semua bangunan karya OMA dibuat karikaturnya sperti bintang yang memiliki mata. Tapi isinya sangat dalam, termasuk perannya dalam menciptkan identitas penyatuan eropa. 


dalam buku Content, Rem juga memuat bebrapa karya konsep bangunan yang tidak terbangun tapi di patentkan di Rotterdam. Ini adalah contoh bagi para arsitek muda untuk tidak gampang menyerah dan mendokumentasikan semua proses dalam berarsitektur. Kemudian berteori, bermanifesto, dan membangun semuanya adalah suatu kesatuan. Produk buku adalah bagian dari dokumentasi yang tidak pernah hilang sepanjang masa.  (bersambung)



catatan: sebagian images didapat dari internet, sebagian foto dilakukan di studio BPA, dengan model Monique, dan daryanto, pengolahan foto image oleh Reini Mailisa. Tulisan ini dibuat khusus oleh Budi Pradono sebagai sambutan kedatangan Rem Koolhaas ke Indonesia, agar dapat memberikan gambaran pada masyarakat umum sebelum kuliah umumnya di Blitz Megaplex tanggal 20 Juni 2011.