Showing posts with label New York. Show all posts
Showing posts with label New York. Show all posts

Tuesday, January 23, 2018

56 Leonard Tower di Tribeca New York Karya Herzog & de Meuron (1)

It looks like a Jenga game — 
but it just happens to be the hottest building in town.
Herzog & de Meuron telah menyelesaikan pembangunan proyek terbaru mereka, gedung pencakar langit hunian mewah bertingkat tinggi di 56 Leonard Street, New York City. Diciptakan sebagai setumpuk rumah individu yang menyerupai menara Jenga, bangunan ini merupakan bangunan tertinggi di lingkungan Tribeca. Dengan siluetnya yang tinggi dan langsing, 56 Leonard Street adalah yang terbaru dalam serangkaian gedung pencakar langit kontemporer yang menandakan cakrawala Manhattan.


Pendekatan untuk membuat bentuk pixelated tower adalah merancangnya dari dalam-dalam. Herzog & de Meuron memperlakukan kamar individu sebagai "piksel", mengelompokkannya secara lantai demi lantai. Dengan ruang "pixelating" dan bagian dari program ke dalam kelompok, pengaturan mereka datang bersamaan untuk menginformasikan volume akhir dan bentuk luar Dari menara, strategi perakitan juga menciptakan teras dan memproyeksikan balkon, dan dari dalam, pengalaman dikatakan seperti melangkah ke dalam serangkaian jendela teluk besar.

Metode konstruksi lokal dianggap membuat pergeseran dan berbagai lempengan lantai untuk dibuat. sudut, cantilevers, dan balkon Sifat personal dari pelat beton yang terbuka di dalam menara berarti hanya 5 dari 145 apartemen yang diulang, tanpa pelat lantai dua sama.
Desain dan perencanaan 56 Leonard dimulai pada tahun 2006, dengan konstruksi dimulai pada tahun 2008. Proyek ini tertunda saat pengembangnya Alexico Group terkena resesi dan gagal menutupi biaya menara tersebut. Pekerjaan dijemput lagi di tahun 2012 dan diperkirakan akan selesai pada 2017




Tuesday, March 3, 2015

Sejarah Arsitektur, Keberpihakan dan Kekinian


Sudut pandang sejarah dalam arsitektur sangat penting untuk menemukan inovasi kekinian. Selain itu ada upaya merefleksikan keberpihakan sesuai semangat zaman. Sementara harapan baru tertanam di pundak Presiden Joko Wi dengan konsep Trisaktinya; yang bisa jadi memberi nafas baru model arsitektur kekinian.
Ikhwalnya arsitektur masa awal dibebani dua kutub saling berlawanan karena berbagai gejolak kepentingan dan fragmen politis. Yakni Arsitektur Kolonial dan Arsitektur Indonesia. Yang pertama, bisa ditelusuri pada abad ke 18 pada kota Jakarta. Pada masa VOC menguasai dua Kota, New York dan Jakarta, yang kemudian mencanangkannya sebagai kota maritim yang mirip dengan kota Amsterdam.
Kita bisa mengenali dengan kanal-kanal di wilayah Jakarta Utara dan morfologi yang khas dengan ciri urbanisme membagi ruang publik dan privat dengan jalan-jalan pedestrian saling terhubung. Wilayah Manhattan selama 200 tahun sama persis, bahkan tak berubah.
Pergolakan politik dan kerusuhan merebak pada 1740, yang mengakibatkan ribuan etnis Tiong Hwa tewas karena menentang kebijakan pengurangan populasi etnis ini yang diterapkan VOC. Dikemudian hari hal ini menciptakan perubahan besar penataan kota Jakarta dengan dipindahnya kota administrative Batavia ke kawasan Weltevreden dan Koeningsplein yang sekarang kita kenal sebagai Lapangan Banteng dan Monas.
Pada momen itulah Jakarta meninggalkan ciri kota Maritim dan berpihak pada pertumbuhan dan perkembangan kawasan hinterland seperti Sudirman, Thamrin, dan Casablanca sebagai pusat bisnis. Semakin kompleksnya zaman kemudian pada pertengahan abad 20 segala hal yang berbau kolonial dihilangkan, termasuk para sebagian besar arsitek, urbanis bahkan dosen-dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) berwarga negara Belanda yang dipulangkan kenegerinya.
Saat itu nasionalisme menjadi pedoman, bandul keberpihakan mengayun membuka kutub kedua: Arsitektur Indonesia. Presiden Soekarnolah yang merintis bangunan yang dikompetisikan, dengan rancangan arsitektur pemenangnya diimplementasikan sebagai simbol Negara, seperti gedung MPR-/DPR, Gedung Bank Indonesia, Masjid Istiqlal dan lain-lain.
Dari sana kita memahami arsitektur kolonial dengan arah Maritimnya diabaikan karena Jakarta mengalami kontestasi spasial politik tajam diantara pelaku-pelakunya yang dianggap reformis bersua dengan revitalis, kemudian andilnya kapitalis dan respon dari enviromentalis (Kemas Ridwan Kurniawan, Paradox 2012).


Keberpihakan Kapitalisme Liberal
Era Soeharto merubah haluan dengan keras dan 30 tahun menjadi mapan. Keberpihakan mengental pada kapitalisme model barat dengan momen booming minyak pada 80-an. Sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin hadir berderet gedung pencakar langit yang memiliki kemiripan bahasa arsitektural, bahasa kaca, yang hampir 85 % dirancang oleh arsitek Amerika. Inilah yang memicu hadirnya semangat baru di kalangan arsitek Muda Indonesia (AMI) yang mencoba bertindak berseberangan.
Tesis Anthony Giddens dalam “The Consequence of Modernity (1990)” benar-benar riil, bahwa kapitalisme modern membuka aibnya dengan penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa, penindasan oleh yang kuat pada yang lemah, ketimpangan sosial dan pengrusakan lingkungan. Pemicunya kapitalisme liberal yang mensyaratkan kompetisi tiada akhir dan pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Puncaknya Soeharto jatuh, eforia kebebasan ekspresi yang terkekang membawa kegamangan, karena adanya krisis ekonomi dunia dan Indonesia terimbas berat (1998) yang berakibat letupan emosi masal dengan aksi penghancuran, penjarahan dan kerusuhan hebat di Jakarta.
Di era SBY keberpihakan arsitektural penguasa belum memiliki pola tertentu yang jelas, meskipun kompetisi bangunan publik mulai diperbanyak. Namun substansi dasar membangun rumah susun maupun sekolah atau universitas belum diserahkan pada arsitek yang berkonsep khusus dan jelas.
Pada lima tahun pertama gedung pemerintah yang menonjol adalah gedung Kementerian Perdagangan yang pada saat itu dijabat menterinya oleh Marie Elka Pangestu, dan menunjuk arsitek DCM untuk merancang gedung tersebut dan memperoleh penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) award.
Lima tahun terakhir pemerintahan SBY (2010-2014) isu tentang Arsitektur Nusantara dan Arsitektur Hijau semakin menguat. Hal ini didorong oleh percepatan informasi sebagai efek globalisasi yang mengakibatkan ketidak seimbangan alam (fenomena  bencana bumi, tanah longsor, tsunami, banjir), yang menyebabkan para arsitek mulai memperhatikan kembali aspek-aspek hijau di setiap bangunannya. Salah satu pemicunya karena adanya sertifikasi hijau oleh lembaga-lembaga independen seperti LEED di Amerika Serikat.
Di sisi lain Arsitektur Nusantara banyak sekali mendapatkan perhatian. Mulai diangkat oleh almarhun DR. Galih Pangarsa dari Universitas Brawijaya, Malang serta Josef Prijotomo, seorang Professor dari Universitas Sepuluh November, Surabaya. Adapun arsitek praktisi yang sangat antusias menyelamatkan kembali Arsitektur Nusantara adalah Yori Antar (Yayasan Rumah Asuh) yang salah satu karyanya yakni pembangunan kembali situs tradisional di Wae Rebo 7 mendapatkan UNESCO Award dan diganjar sebagai finalis pada Aga Khan Award. Sebuah  penghargaan tertinggi arsitektur yang setara dengan penghargaan hadiah Nobel.

Keberpihakan Pada Trisakti
Presiden Indonesia yang ke tujuh Joko Widodo atau lebih populer dengan sebutan Jokowi yang baru dilantik tentunya memberikan nafas dan harapan baru bagi arsitek maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.
Jokowi dengan kabinet Kerja di jajaran kementeriannya acapkali mendengungkan amanat proklamator Republik Indonesia Soekarno dengan Trisaktinya, yakni kedaulatan di bidang politik, kemandirian ekonomi dan kepribadian budaya untuk bangsa ini. Mudah-mudahan ini mengisyaratkan keberpihakan yang sangat jelas dan lurus arah dan pola politik arsitektural kita hari ini.
Semangat Trisakti kelihatannya menyebadan dengan lakon Jokowi yang tumbuh besar sebagai masyarakat biasa dan tinggal di pinggir kali di Surakarta, dan pernah mengalami penggusuran. Tentunya keberpihakan dan empati yang sangat besar pada masyarakat marginal yang terpinggirkan ada padanya.  Terbukti ketika menjabat sebagai gubernur DKI selama 1,5 tahun telah membenahi banyak hal dengan program-program yang inovatif yang dilaksanakan dengan sangat cepat. Baik itu rumah susun (kampung deret) atau pembenahan Pasar Tanah Abang.
Sebagai presiden yang gemar blusukan dan mendengar detak suara rakyat,  tentunya dia diharapkan memiliki kebijakan setingkat nasional misalnya rumah susun bagi masyarakat perkotaan yang tidak mampu, selayaknya wajib dirancang oleh arsitek Indonesia yang terbiasa mendesain hotel berbintang dan dikompetisikan secara terus menerus.
Sehingga menghasilkan social housing/rumah susun yang lebih manusiawi pada masyarakat kecil dan tidak hanya asal kotak. Namun memiliki areal-areal publik yang lebih nyaman, adanya ruang bertanam sayuran dan taman mungil vertikal yang tersedia. Semua inovasi akan hadir sejalan dengan keterbukaan dalam perancangan desain arsitekturalnya dan menata kota dengan aspek memperhatikan lingkungan.
Kita berharap semua cetak biru pengembangan kota dirancang oleh ahlinya yang berkompeten dibidangnya dan konsep Trisakti benar-benar bisa terwujud di negara ini dan memberi inspirasi bagi arsitektur kekinian.


Budi Pradono

Sunday, February 20, 2011

Pameran Foto: Betel Nut Beauties by Magda Biernat di Clic Gallery, New York

Foto-Foto Karya seorang fotografer perempuan Magda Biernat,
mengungkapkan sebuah fenomena tentang warung-warung kacang di pinggir jalan di Taipei.
Dengan ukuran kotak warung yang mini kira -kira 3 x 4 m, para pengemudi taxi maupun truk bisa berhenti sejenak untuk sekedar makan kacang atau minum kopi
Penjualnya juga adalah bagian dari pemanis dimana para penjual yang umumnya wanita muda diwajibkan berpenampilan keren dengan pakaian yang minim. Seperti dalam aquarium. Ini sama sekali berbeda dengan di Amerika, dimana makanan cepat saji (seperti mc donald) umumnya menyediakan drive trough bagi pengendaranya. Sementara di Indonesia para pedagang asongan lebih proaktif ditengah kemacetan pasti mereka turun ke jalan. Jadi rokok, kacang dan minuman dingin bisa datang sendiri ke mobil kita lewat jendela. Menurut saya Magda berhasil menangkap fenomena ini dengan telaten dia mencuri waktu terbaik untuk pemotretan ini, di tengah lansekap kota dan pinggiran kota Taipei. Perhatian pada detail dan kedalaman, dalam setiap fotonya refleksi jalan raya maupun kejenuhan penjaga warung dapat dihadirkan secara bersamaan.
.
Kalau model warung kacang di Taiwan diterapkan di jakarta, wah pasti menambah panjang kemacetan lalulintasnya. Pameran fotografi ini berlangsung sejak tanggal 8 February - 6 Maret 2011 di Clic Gallery New York.



BETEL NUT BEAUTIES is a photoseries documenting the compelling phenomenon of

roadside betel nut stands across Taiwan.

A fixture on the streets of urban and suburban Taiwan, these brightly lit, often ramshackle huts sell a mild stimulant made from the nut of the areca palm and wrapped in betel leaves.

Known across South Asia as paan, it is generally translated to 'betel nut' in English.

Staffed almost exclusively by young women, the stands cater to longhaul truck drivers and, like taxi dancers or cigarette girls in casinos,

the betel nut girls are encouraged to dress in skimpy clothes to lure in male customers. Snapped while waiting for their next sale, Biernat's compassionate photographs capture the isolation and tedium of these sellers who themselves are on display, a daily existence bounded by walls of glass.


Clic Gallery
255 Centre Street
New York, NY 10013
Daily 12 - 7 pm
BETEL NUT BEAUTIES
by Magda Biernat
February 8 - March 6, 2011

Sumber: http://clicgallery.com