Monday, September 23, 2024

Niew batavia By budipradono architects




Taman Kota Intan berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Administrasi Jakarta Barat. Taman Kota Intan merupakan bagian penting dari Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta.Kawasan Kota Intan menjadi penting, karena posisinya berada pada gerbang kota Batavia pada masa lalu, tepatnya di Sub Kawasan Kali Besar Utara. Kawasan Kota Intan pernah menjadi kawasan elit dengan posisi berada tepat di bantaran sungai ciliwung yang menjadi jalur transportasi air utama pada masa itu untuk mengangkut dan mendistribusikan logistik baik lokal maupun internasional.

Taman Kota rIntan sekarang dialihfungsikan menjadi Taman Parkir Kota Tua dan menjadi pintu masuk kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Kawasan ini juga difungsikan sebagai rumah bagi pelaku UMKM kota tua, baik kios souvenir, maupun kios jajanan khas Jakarta. Taman Kota Intan pada masa Batavia merupakan Area pusat pertumbuhan ekonomi. Posisi yang berada pada awal gerbang masuk tembok kota Batavia membuat área Taman Kota Intan menjadi titik pertumbuhan ekonomi kota Batavia kala itu. Di area ini terdapat beberapa kantor perusahaan dagang besar Hindia Belanda yang menjadi barometer perekonomian VOC pada masa tersebut.




Konsep Infill Development

Infill development dalam arsitektur merupakan gagasan pembangunan yang menggunakan lahan kosong atau yang kurang dimanfaatkan di wilayah yang sudah berkembang, terutama di daerah perkotaan. Konsep ini muncul sebagai jawaban terhadap masalah seperti perluasan kota yang berlebihan, keterbatasan lahan, serta meningkatnya kebutuhan akan hunian atau fasilitas baru di pusat kota.



Konsep perencanaan untuk kawasan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang "walkable", dengan rancangan arsitektur yang kompak serta beragam fungsi (mixed-use), sehingga dapat membentuk area dengan karakteristik unik (sense of place). Selain itu, diharapkan Taman Kota Intan dapat berperan sebagai pemicu revitalisasi Kota Tua. Dalam konteks historis, desain infill ini juga harus mampu menjembatani masa lalu sekaligus menggambarkan visi masa depan.




                                     

Respon Desain terhadap Sustainable Development Goal (SDGs)

Dengan memperhatikan SDGs, proyek infill building di Taman Kota Intan, Kota Tua diharapkan dapat menjadi model bagi pembangunan yang berkelanjutan, memperkuat ikatan sosial dan melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang. Pada bangunan ini, menjawab SDGs yang berkaitan dengan yang pertama Good health and well-being, Quality education, Gender Equality, Industry, Innovation and Infrastructure, Sustainable Cities and Communities, dan Climate action. Dengan penerapan bentuk bangunan serta landscape yang sekaligus dapat difungsikan sebagai daerah resapan air dan memberikan banyak ruang hijau pada bangunan ini, tidak hanya itu, bangunan ini pula dapat dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan bagi masyarakat setempat dan mudah diakses oleh berbagai user.

Konsep Desain


Konsep utama dalam bangunan yang ingin ditonjolkan dalam desainnya sendiri adalah untuk tetap mempertahankan sisi dan nilai historis yang dimiliki oleh bangunannya namun tetap memiliki sisi dan kesan modern. Hal ini dihadirkan dengan mempertahankan gaya bentuk dinding dan courtyard bangunan seperti pada masa pemerintahan VOC untuk sebisa mungkin dapat mempertahankan nilai historis bangunan yang tergolong dalam bangunan konservasi kategori a. Strategi lain yang digunakan untuk mendukung penciptaan konsep ini sendiri adalah dengan memberikan penghormatan pada jembatan Kota Intan yang sama - sama memiliki nilai sejarah melalui penciptaan perbedaan ketinggian courtyard bangunan. Sementara untuk menghadirkan sisi tipologi hunian baru yang modern, bangunan dihadirkan dalam bentuk yang organik dengan penggabungan fungsi paud dan mushola.

Taman Kota Intan Sebagai Courtyard Kota

Courtyard merupakan sebuah ruang  terbuka yang dikelilingi oleh dinding maupun bangunan, dengan adanya Taman Kota Intan ini courtyard yang sebelumnya difungsikan sebagai parkiran yang dikelilingi bangunan bersejarah, dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar dengan merevitalisasi site dan menghidupkan kembali kawasan ini sebagai hunian dan mixed-use building .



Hunian didalamnya mempunyai tipe tipologi baru yaitu apartemen dan rumah susun dengan berbentuk bulat dan courtyard bangunan ini menggunakan pilotis agar ruang public di bagian Tengah lebih hidup dan kuat.




Konsep Massing Bangunan 

Setiap Massing bangunan memiliki bentuk yang melingkar, hal ini memberikan sebuah statement berbeda yang melawan tipikal bentuk massa hunian yang ada di Kota Tua yang akan menciptakan suatu typical hunian baru. Masing-masing bentuk bangunan disusun dengan ketinggian yang berbeda-beda yaitu, 4,6, dan 9 lantai. Tujuannya untuk memberikan efektivitas view ke arah luar dan memberikan dimensi pada skyline Kota Tua. Pada bagian tengah massa diberikan void untuk memberikan perasaan private dan intimate

Void diberikan pada bagian tengah massa untuk memberikan perasaan private dan intimate,

sementara bagian bawah dinaikan satu lantai sebagai sarana publik dan ruang bersama. Setiap massa disatukan dengan jembatan yang menyambung ke area public indoor.



Fasad Bangunan

Desain fasad bangunan mengambil konsep harmonis dengan bentuk fasad bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Bentuk pada balkon hunian diambil dari bentuk fasad ruko-ruko yang berada di sepanjang Jalan Cengkeh. Komposisi garis-garis dan kotak yang terdapat pada fasad bangunan komersial diambil dari pola  jendela bangunan UPK yang tepat terletak di samping tapak.






 


Project Credit

Niew Batavia, Taman Kota Intan

Lokasi                                  : Taman Kota Intan, Jakarta

Design Phase                     : 2024

Type                                    : Sayembara, Commercial

Architect                              : Budiyanto Pradono

Firm                                     : Budi Pradono Architect

Project Architect in Chief    : Budiyanto Pradono

Assistant Architect                  : Sri Rendra Sigalingging, Hafidzah Maheswari Padmarani

Studio Support                    : Margaretha Eka Kedang, Athalla Titan Naufal, Muhammad Rafly Rianto

Model Maker                           : Alfiani Roudhotul Zannah, Alfredo Stefano, Muhammad Rafly Rianto













Friday, March 15, 2024

Cara Pandang Berarsitektur Karya Christoporus Koesmatandi

berikut ini adalah book review buku karya Christophorus Koesmartandi yaitu" Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi CARA PANDANG BERARSITEKTUR diterbitkan oleh Universitas Sugijapranata, karya tulis ini di bahas bersama oelh 7 orang pembahas dalam forum zoom pada tgl 15 maret 2024.













Upaya untuk kembali ke cara pandang yang sudah di kemukakan, saya memberikan garis merah atau penegasan aspek paling penting yaitu kurikulum 

Kita harus menghindari tugas preseden mahasiswa arsitektur yang menggunakan contoh produk dari bangunan yang di jual oleh developer, karena ini merupakan produk yang tidak ideal. kehilangan konsep : konsep transformasi kelokalankonsep dan proporsi bangunanuntukdijadikan preseden tugas para mahasiswa 

Harus ada tugas untuk pengukuran ulang / penggambaran ulang bangunanarsitektur tradisional di dekatnya (mis rumah tradisional Jawa, Bali, TorajabatakNiasKalimantan dllhal ini menjadi modal dasar masa depan

Harus ada pembuatan maket / model bangunan tradisional shg menjadi dasarpengetahuan proporsi material, skala dll.



Berikut ini adalah contoh karya yang dilakukan oleh studio budi pradono architects sebagai contoh interpretasi bangunan rumah Jawa berjudul "Omah Djawa House" dimana bisa di kategorisasikan sebagai produk arsitektur yang menggunakan pendekatan neo-vernakular sebagai bagian dari interpretasi postmoderen rumah Jawa. 















 

Thursday, March 14, 2024

Peruri Garden City - konsep tower di Kebayoran by Budi Pradono

 

Courtyard of the Garden city

 

Courtyard-scape Peruri

 

Courtyard-scape of the Garden City

 

Peruri Courtyard-scape

 

Taman kotakita 

 

Garden city of tomorrow

 

Peruri Garden city

 

 

Perencanaan kawasan peruri, berdasarkan sejarah kawasan kebayoran merupakan sebuah kota satelit yang dirancang oleh M.Soesilo pada  tahun 1949-1953, dengan mengusung konsep garden city lahan seluas 730 hektar; 45% nya digunakan sebagai Kawasan residential dan 16% nya saja digunakan sebagai area hijau. Oleh karna itu Kawasan peruri seluas 5 hektar ini merupakan satu Kawasan yang merupakan jantung utama dalam konteks garden city tersebut, oleh karena itu kita mempertanyakan bagaimana membawa Kawasan peruri menjadi pusat atau symbol garden city masa depan. Oleh karena itu kami mengusulkan peningkatan garden areannya sebesar 80% dari Kawasan, Kawasan ini akan menjadi ruang publik utama ditengah kota dimana orang dapat menikmati taman kota masa depan dan dapat melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan konteks urbannya. 

 

Responsive urbanisme

Pertanyaan dasar dari pembangunan konsep ini adalah bagaimana program – program yang dimasukan di dalam Kawasan memberikan value addict yang signifikan terhadap Kawasan mengingat konteks urbannya, kawasan ini harus menjadi pendukung untuk kemajuan vitalitas ekonomi, budaya maupun olahraga bagi Kawasan sekitarnya. Patut di catat kawasan ini berseberangan dengan Gedung kejaksaan Agung disisi timur, Gedung ASEAN disisi utara, Mabes Polri disis barat laut dan Kawasan komersial blok M dan stasiun Bus blok M disisi selatan dan barat daya. Oleh karena itu program – program yang ada harus dipikirkan secara baik supaya mampu merespon keempat atau lima bangunan dikawasam seitarnya maupun kebutuhan masyarakat pada umumnya . secara programing kita mengusulkan adanya high end residensial maupun hotel yang dapat menampung tamu - tamu negara maupun para eksekutif dari negara negara sahabat yang akan menemukan pertemuan atau rapat - rapat digedung ASEAN, Adapun yang berurusan dengan kejaksaan agung maupun mabes polri. Pada sisi timur laut dari Kawasan terdapat simpul CSW merupakan simpul pertemuan berbagai moda transportasi baik itu MRT maupun busway sehingga pergerakan masyarakat yang banyak dan keluar dari simpul transportasi tersebut perlu di arkomodir secara proposional oleh karena itu kita menciptakan satu taman yang besar sebagai oase baru bagi masyarakat. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah menikmati taman kota yang baru ini sekaligus menikmati museum peruri.

 

Konsep Peruri sebagai Symbol Garden City of tomorrow

 

Bagaimana menciptakan garden city kontemporer yang merupakan reintepretasi dari sejarah garden city tahun 1948?

 

Metode yang diambil adalah melakukan remapping trajektori dari stasiun-staisun yang ada disekitarnya maupun mobilitas orang di sekitarnya yang diimplementasikan secara organik kedalam Kawasan, diagram - diagram ini pada akhirnya membentuk sebuah taman dengan lembah dan gunung yang hijau. Lembah dan gunung ini pada dasarnya merupakan selimut hijau bagi program - program komersial dibawahnya, taman hijau ini akhirnya menjadi sebuah courtyard bagi kota. Sebuah tanah lapang yang baru, sekaligus sebagai creator ruang public bagi masyarakat Jakarta. Akhirnya taman ini memberikan value yang tinggi bagi bangunan lama peruri menjadi sebuah museum yang elegan dan berwibawa. 

 

 

Peruri sebagai Courtyard Kota

 

Courtyard adalah sebuah ruang private terbuka yang dikelilingi oleh dinding-dinding maupun bangunan-bangunan, dengan menganggap bahwa Kawasan peruri ini dikelilingi oleh bangunan - bangunan penting oleh karena itu kita menempatkan konteks Kawasan ini sebagai courtyard bagi kota. Tipologi courtyard ini merupakan tipologi baru bagi ibu kota dimana Kawasan komersial selalu dibangun dari bangunannya sehingga ruang terbukannya merupakan sisa tetapi dalam konsep ini adalah bagaimana menyisihkan ruang terbuka kota sebagai courtyard bagi kota. Courtyard- courtyard ini dibentuk dan mengalami deformasi tergantung dari program maupun analisa diagram yang didasarkan atas data-data virtual di dalam side, kemudian multiple courtyard dengan skala yang lebih kecil dapat di hadirkan kembali diantara gunung-gunung maupun lembah bangunan komersial di sekitarnya, courtyard ini menjadi alat yang menyalurkan cahaya ke dalam bangunan maupun basement. Courtyard yang dihadirkan terdapat banyak sekali organic diagram yang kemudian dapat dikonversikan menjadi pedestrian, maupun amphi teather hijau. 

 

Blok masa bangunan 

Dalam konteks Kawasan ini memerlukan block masa bangunan yang merupakan respon dari konteks dari Kawasan tersebut sehingga dari hasil analisis programing dan diagraming kita dapat menentukan dua blok masa bangunan sebagai sepasang tower yang menjadi landmark Kawasan masa depan dan tower ini dikemudian hari menjadi tonggak masa depan dan menjadi identitas Kawasan garden city ini . blok masa bangunan lainnya terdiri dari tiga stick bangunan yang disusun secara horizontal, masa-masa bangunan ini terpisah-terpisah tetapi saling terkoneksi dan memperkuat courtyard Kawasan. 

 

Fasade bangunan

Fasade bangunan dimaksudkan sebagai penegas identitas Kawasan, oleh karena itu Ketika seluruh courtyard berupa taman dan merupakan area hijau maka masa-masa bangunanya memerlukan fasade yang merupakan respon yang positif baik kepada lingkungan terluar dari Kawasan maupun lingkungan internal dalam courtyard sehingga untuk dua tower tersebut kami memilih Bahasa vertical dan diharapkan langsekapnya merupakan sesuatu yang continues baik dari gunung menuju tower. Pada bangunan horizontal kami memutuskan menggunakan Bahasa polkadot atau perforated berbentuk bulat sebagai secondary skindari struktur baja/jembatan. Diharapkan dari sana kegiatan/aktivitas yang dinamis didalam bangunan ini dapat terlihat dari luar. Rooftop diarea Gedung-gedung horizontal dibuat sebagai ruang publik yang baru dimana orang dapat berjalan-jalan maupun menikmati courtyard dengan nyaman 

 

Strategi distribusi programming 

         Program yang equal dengan fungsi patut dipikirkan secara lebih dalam karena distribusi fungsi-fungsi tersebut dapat mempengaruhi kinerja dan performa ekonomi dari satu kompleks Kawasan ini, oleh karena itu fungsi-fungsi strategis di distribusikan secara baik. Program atau fungsi yang harus di masukkan ke dalam Kawasan merupakan aspek penting supaya segala kegiatan di dalamnya dapat berfungsi secara maksimal mampu menjadi penentu sekaligus mediator bagi program-program yang sudah ada. Strategi yang pertama adalah dengan melakukan respon pada program existing sehingga empat titik utama di pojok pojok site harus dijadikan sebagai public space yang merupakan respon pada lingkungan sekitarnya. Cinema dan convention hall merupakan dua crowd attractor dipisahkan penempatannya tapi sekaligus dihubungkan dengan bridge corridor. Sementara fungsi kedua towernya berbeda yang satu tower hotel dengan rental office di sisi atasnya sementara residensial atau apartemen berada di sampingnya. Antara hotel dan bangunan komersial lainnya saling terhubung dan menggunakan courtyard sebagai center-nya. Pada sisi bawah basement dan area komersial nya saling terhubung tetapi diselimuti garden sebagai lansekap utama. Sementara bangunan lama Peruri kita konversikan sebagai museum yang hidup karena teras di sisis selatan bangunan dapat difungsikan juga sebagai stage untuk performance, sementara penonton dapat duduk di taman-taman dengan amphiteater yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

Dancing midrise tower Jannevala Hotel, Bandung By budi Pradono

Dancing midrise tower

New Jannevala Hotel, Bandung

By budi Pradono

 

 

Introduction

Hotel ini adalah bagian dari hotel change yang ada di seluruh dunia dengan operator U yang berpusat di Thailand. Konsep hotel ini cukup menarik karena menerapkan manajemen penginapan 24 jam. Sehingga para tamu hotel bisa check out duapuluh empat jam setelah check in. Inilah yang membedakan dengan hotel-hotel lainnya yang menerapkan jam check in jam berapapun check out-nya tetap jam 12. Oleh karena itu desain yang dihasilkan harus menghasilkan ruang ruang public yang casual seperti di apartemen sendiri, lalu banyak area publiknya supaya pengunjung dapat menikmati area bersantainya di luar kamar. 

 

Konteks

 

Bangunan hotel ini berada di Kawasan komersial di jalan Aceh, Bandung dimana disekitarnya banyak sekali factory outlet disekitarnya, dibelakang hotel ini mall BIP sementara disampingnya hotel dirancang sekitar tahun 90-an pertanyaaan mendasar pada konteks urbannya adalah bagaimana bangunan ini merespon secara spesifik baik lifestyle Kawasan maupun konteks sejarah, seperti kita ketahui bahwa Bandung adalah calon ibu kota pengganti Jakarta sehingga kita dapat menemukan bangunan-bangunan pemerintahan yang dibangun sekitar tahun 1930-1935 dimana banyak arsitek dari Belanda dan Jerman  merancang bangunan-bangunan publik di kota bandung, dengan ciri-ciri Artdeco yang sangat kuat sehingga kita akan menggunakan konsep kekinian salah satunya adalah, mengangkat tarian Jaipong, merupakan tari tradisional di jawa barat, yang sempat di larang oleh pemerintah setempat, karena tarian ini terlalu seksi dan kurang selaras dengan budaya setempat. Tetapi polemik di masyarakt ini menjadi hal yang sangat menarik jika diangkat sebagai sebuah konsep arsitektur. Secara massa bangunan ini dirancang sebagai bangunan yang dinamis, dan menari di antara bangunan-bangunan di sekitarnya. Dengan dasar keberadaan bangunan berada di antara took-toko lifestyle untuk anak muda maka penting sekali untuk menentukan target market pengguna hotel ini tentunya adalah anak -anak muda / millennial sehingga kita perlu menciptakan formula supaya bangunan ini terlihat selalu muda, dinamis dan fotogenik. Dengan melakukan analysis urbanitas ada kecenderungan bahwa rata-rata bangunan di sekitarnya merupakan bangunan tunggal dan cenderung dibangun secara penuh di dalam site. Saya berpikir sebaliknya bagaimana menciptakan bangunan dengan footprint yang kecil dan dijadikan dua massa bangunan yang terpisah dan tersambung di sisi tengah. Pembagian dua massa bangunan ini dimaksudkan juga supaya mendapatkan pencahayaan alami yang extravaganza ke dalam bangunan. Bangunan ini harus menjadi katalis sekaligus media dialog antara bangunan komersial tahun 2000-an dengan konteks bangunan artdeco tahun 30-an

 

Bentuk dan estetika

 

Strateginya adalah membagi massa bangunan menjadi dua massa yang sama, sehingga kita dapat mengalirkan udara diantara kedua bangunan tersebut, sehingga secara fisika bangunan jika disisi dalam kedua masa bangunan itu dijadikan koridor maka koridor itu tidak perlu menggunakan AC sehingga hal ini menjadikan saving energi yang memadai karena AC-nya hanya diletakkan di setiap kamar tidur-nya saja. Kedua massa bangunan ini diikat oleh core lift  ditengah sebagai pengikat, sehingga antara massa yang satu dan massa yang kedua jika kita interpretasikan seperti penari jaipong, dua massa bangunan ini saling merespon, antara gerakan dinamis massa bangunan satu dan massa bangunan dua, sehingga bangunan ini menjadi bangun yang dinamis dan merepresentasikan budaya secara kontemporer. Mirip seperti tari Jaipong. Façade depan kea ah jalan raya dibuat dari kaca berwarna hijau kebiruan, sementara dikedua sisi kiri dan kanan façade-nya terbuat dari prefabricated exposed concrete. Dengan kaca kaca yang di susun miring ke kiri dan ke kanan. 

 

Pendekatan desain Dekonstruksi

Pada saat ini banyak sekali bangunan tinggi yang tumbuh di kota-kota besar di Indonesia, tetapi umumnya menggunakan semangat efisiensi, sehingga banyak sekali bangunan yang generic sehingga terbentuklah bangunan-bangunan modern yang mirip dengan façade yang sama yaitu ditutup kaca ataupun jendela kaca yang kotak atau dinding prefabricated, dalam projek ini saya ingin mempertanyakan konsep kestabilan; bagaimana jika saya mengunakan jendela kaca yang miring? Bagaimana saya menggunakan dinding prefabricated dari beton yang miring ke atas maupun kebawah? Tentu saja hal ini akan menghasilkan kualitas ruang yang sangat spesifik dan setiap ruangan yang terjadi memiliki kualitas ruang yang berbeda-beda antara satu ruang dan ruang lainnya, jadi ada 119 kamar yang memiliki kualitas ruang yang bermacam macam. Metode mempertanyakan kembali dasar dasar bentuk arsitektur pada umumnya ini mirip dengan teory Derrida yang mempertanyakan hal hal generic yang sudah ada dan mengangkat wacana baru agar kita memiliki sebuah text, atau kosa kata baru dalam typology bangunan hotel. 

 

Programming / fungsi

 

Bagaimana supaya hotel ini sustainable? Strateginya adalah membuat distribusi programming karena jika kita mengaju kepada peraturan, maka bangunan yang berdiri di atas tanah 1000m ini hanya boleh berdiri 8 lapis ketas dan 2 lapis kebawah. Strateginya adalah dengan membuat mezzanine di lantai ground floor lalu seluruh level lantainya memiliki ketinggian 4m floor to floor lalu kemudian seluruh ceilingnya dibuat expose, sehingga orang merasa tinggi dan luas di dalamnya. Secara programming kita mengatur area publik di lantai bawah dan atas lalu kita tambah garden di lantai satu, di lantai ground dibuat café dan lobby tetapi café nya memiliki akses langsung pada jalan utama sehingga memudahkan pejalan kaki untuk mampir ke café tersebut, seementara di rooftop nya dibuat gym dan bar serta swimming pool. Pada area tengah jadi kamar-kamar yang privat sehingga aktivitas publiknya didistribusikan di lantai atas dan bawah. Dengan komposisi programming seperti ini menyebabkan kamar kamar tidur yang berada di tengah-tengah akan mendapatkan privacy yang baik. 

 

Tantangan Tropikalitas

 

Dengan mengintegrasikan pohon besar ke dalam bangunan, dengan cara di tanam pada lantai pertama, pohon ini menjadi perekat antara dua massa bangunan yang terpisah, dan karena kedua sisi dalamnya merupakan koridor yang terbuka tentu saja hal ini memberikan feeling bagi penghuni hotel ini dekat dengan alam. Di sepanjang koridor yang terbuka di berikan planter box yang berjajar sehingga semua tanaman seperti menyelimuti bangunan di sisi dalam. Hal ini bisa di lakukan karena Indonesia berada di daerha katulistiwa sehingga respon yang positif dari tropikalitas ini adalah memberikan kesempatan bagi pengudaraan alamiah melewati koridor terbuka ini. Sehingga setiap teras memiliki kualitas penghawaan alamiah.  Juga pencahayaan yang memadai. Pada area roof top yang terbuka terdapat kolam renang yang Panjang ini memberikan rasa kesegaran juga memberikan efek infinity jika kita memandang kea rah luar bangunan. Kolam renang dan Pohon besar di tengah bangunan menjadi mediator anatara nature dan urbanitas di sekitar kota Bandung. Setiap kamar juga mendapatkan pemandangan ke arah luar dan matahari yang akan memberikan penerangan natural ke dalam kamar. 

 

Tantangan Interior

 

Tantangan interiornya adalah memanfaatkan kualitas ruang yang sangat spesifik. Secara volumetric salah satu sisi dindingnya miring ke atas atau miring ke bawah, hal ini meskipun dapat menghasilkan suatu kualitas ruang yang unik tetapi disisi lain hal hal teknisnya yang sedikit rumit. Misalnya fabric black out untuk menutup jendela tentu saja memerlukan dua buah rel di sisi atas dan bawah agar tidak jatuh di tengah tengah tempat tidur. Furniture yang lainnya juga dibuat se- ringan mungkin berbahan dasar kayu dengan struktur dari besi, hal ini agar memberikan dialog pada dinding concrete yang massif. Pada salah satu sisinya yang horizontal dibuat dengan finishing susunan bata yang dicat putih. Dialog antara beberapa material ini m,enghasilkan sebuah orchestra yang memberikan nilai pada ruang tidurnya. Pada area bar maupun breakfast semua material yang ada di kamar dibedakan dengan beberapa artikulasi di sisi dinding dan meja sehingga semuanya mendapatkan bagian dalam mengangkat spirit dancing hotel. 

 

 

komersialisasi

Hotel ini adalah bagian dari hotel change yang ada di seluruh dunia dengan operator U yang berpusat di Thailand. Konsep hotel ini cukup menarik karena menerapkan manajemen penginapan 24 jam. Sehingga para tamu hotel bisa check out duapuluh empat jam setelah check in. Inilah yang membedakan dengan hotel-hotel lainnya yang menerapkan jam check in jam berapapun check out-nya tetap jam 12. Oleh karena itu desain yang dihasilkan harus menghasilkan ruang ruang public yang casual seperti di apartemen sendiri, lalu banyak area publiknya supaya pengunjung dapat menikmati area bersantainya di luar kamar. 

 

1.     Dari sisi oprasi hotel berbintang 4 pada dasarnya menerapkan satu aturan dimana chekin-chekout,  chekin pada jam berapa pun chekout pada jam 12 siang. Chekin jam 3 sore maka siang hari ini dia berhak checkout 12 jam . hal ini akan memudahkan bagi pembisnis para peserta seminar maupun bisnismen pada bandung, masih ada waktu Kembali ke hotel, mandi sebelum pulang.

 

2.     Jatah breakfast 24 jam

3.     Bangunannya dibuat ikoni menjadi landmad baru kota bandung tetapi disisi lain hotel ini memiliki standart green yg tinggi krn semua koridor terbuka tanpa menggunakan ac shngga memnuhi syarat protokol covid-19

4.     Krn slrh koridornya trbuka sehingga menggunakan ac diruangan saja shngga dapat safeing energi.