Saturday, July 1, 2017

Asakusa Tourist Centre oleh Kengo Kuma & Associates

Pusat Turis di Tokyo yang dibuat oleh arsitek Kengo Kuma and Associates terlihat seperi tumpukan bangunan kecil dengan atap miring. Dinamakan Asakusa Culture Tourist Information Center, bangunan ini terletak di depan kuil Buddha Senso-ji, dimana kuil ini dibangun pada abad ke 6 dan masih menjadi kuil tertua di kota ini.



Irisan horizontal membagi tower menjadi 8 segmen utama, membentuk langit langit yang landai di ruang konferensi dan ruang eksebisi.



Perlengkapan disimpan didalam ruangan yang berbentuk diagonal yang berada diantara atap dan lantai, dan dengan ini udara dapat disimpan dengan banyak meskipun tinggi hanya rata-rata untuk bangunan tinggi dan menengah bertingkat.



Hiasan jendela kayu menghiasi tampak jendela dan diletakkan dengan variasi tergantung dari nuansa dan privasi yang dibutuhkan oleh ruangan.
Pusat bangunan ini memperluas lingkungan Asakusa yang ramah yang menaungi aktivitas di dalamnya, menciptakan “bagian baru” yang sebelumnya tidak ada di dalam arsitektur konvensional.



Di lantai ke 6, mengambil keuntungan dari atap miring lantai bertingkat dapat diatur dan seluruh bangunan dapat menjadi teater. Sudut atap cenderung miring kearah Kaminari-mon dan tinggi dari lantai yang bervariasi tiap lantai, setiap lantai memiliki hubungan yang berbeda terhadap bagian luar, memberi karakter yang unik terhadap setiap ruangan.


Permukaan didalam gedung juga dilapisi dengan kayu dan balkon terletak di dua lantai atas.
Lebih jauh lagi, atapnya tidak hanya membelah struktur menjadi 8 rumah satu lantai namun juga menentukan peran dari setiap lantai. Lantai pertama dan kedua memiliki atrium dan tangga indoor, menciptakan urutan dimana anda dapat merasakan kemiringan dari dua atap.

Amangiri Resort , study on resort project

 The Amangiri Resort is a resort hotel, almost monastic retreat, set in the American desert of Utah. It is a highly sophisticated tourist bet that bases its appeal on an exclusive and unique arrangement of a breathtaking landscape.





  What the Romantic philosophers associated with the sublime is something that may only be achieved in remote parts of the planet as the high mountains close to surfaces. Another of those     landscapes that facilitates these exalted feelings is the one related to the arid desert space. There, the architects propose an aesthetic that is lavished shelter in long-distance views of the picturesque rock formations that surround the place.
  




   The strategy of the project is reducing the building height to one level and using materials that mimic the colors, tones and textures of the desert. It is a sensory contrast between natural and artificial materials which are intended to highlight.  It focuses on achieving the ultimate expression of the materiality of the construction elements. The use of textured concrete, carpentry and greatly simplified with a basic partitioning spaces, its architecture have provided a very peculiar essence. Steven Holl has defined it as an architect thickens add light to dense textures. For Holl, architect Rick Joy is someone who pampers the intuitive imagination, stimulating the expression of the materials during the construction process.





  The buildings in the resort is specially built to bond with the cliffs whilst not destroying the cliffs to stay in touch with nature’s work. Defining a whole new meaning of space from nature. Even the buildings had to sacrifice its own geometrical layout to confront with the cliffs, instead of making a decision of going through the cliffs. 
   



   Every resort needs to have outdoor living room to get fresh air, while this resort is in the windy desert, it must a fence wind fence to strong winds striking the living room.


























Publication :  Kampung Vertical, ICAD 2016, 1 Desember 2016, Grand Kemang



Kampung Vertikal
Sebagai struktur terbuka

Selama ratusan tahun orang mulai bermigrasi ke kota-kota, dengan berjalannya waktu kota semakin hari semakin penuh karena banyak kesempatan untuk berusaha, pekerjaan, kemakmuran dan ide-ide yang diciptakan di kota. Semakin hari kota semakin padat tetapi yang paling bersejarah adalah pada tahun 2008 ketika jumlah populasi manusia di dalam kota dan di pedesaan mencapai titik equilibirium yang sama. Untuk pertama kali dalam sejarah kehidupan manusia. Pada tahun 1900 hanya 200 juta orang saja yang tinggal di kota. Setelah lebih 100 tahun 3,5 miliar orang tinggal di kota. Pada tahun 2050 bisa jadi ada 6,5 miliyar orang tinggal di kota, inilah sebuah ekspansi urbanitas. Ekspansi urbanitas ini cukup mencengangkan misalnya saja setiap tahun India perlu membangun kota seluas kota Chicago setiap tahun. Sebaliknya, China telah mengumumkan dia akan membangun 20 kota setiap tahun sampai 2020, untuk mengakomodasi 12 juta migran dari desa ke kota di China. Kalau saja kota Jakarta diestimasikan 12 juta orang berarti jumlah yang sama yang diserap oleh kota-kota di China. Ketika meledaknya kota-kota didunia terjadi juga penurunan demografi manusia di satu tempat tertentu, contohnya adalah kota Detroit, Michigan di Amerika yang berkembang pesat tetapi bergantung pada industri mobil dimana disatu titik tahun 2012 terjadi kejenuhan industri mobil dan industri mobil di Detroit tidak mampu bersaing dengan negara Jepang sehingga satu demi satu berguguran, hampir 80% meninggalkan kota sehingga terjadi kekosongan bahkan kota Detroit dinyatakan bangkrut pada tahun 2013 karena tidak dapat membiayai dirinya sendiri. Akhirnya kota Detroit menjadi kota hantu bahkan terjadi penjarahan dimana mana. Keadaannya bahkan lebih buruk dari kejatuhan ekonomi di Indonesia 1998. Kota harus dibangun secara sustainable dimana semuanya harus saling terkait satu dan lainnya sehingga kota itu bisa survive.
Pada tahun 2016 ini ada satu miliyar orang yang sudah hidup dengan mengandalakan smartphone ditangannya ini menunjukan bahwa kemajuan teknologi informasi kecepatannya telah malampaui kemajuan fisiknya. Kita bayangkan bahwa handphone pertama kali di Amerika tahun 1946 dan kemudian mulai berkembang pesat tahun 90an tetapi saat ini smartphone telah digunakan untuk kepentingan manusia dan inovasinya telah melampaui batas batas geografis suatu negara, kita bisa berada di Singapore, Jakarta, Paris, London maupun New York menggunakan satu program yang sama misalnya Uber, hal ini menunjukan bahwa kota harus dirancang sejalan dengan kemajuan teknologi. Seperti kamus wikipedia, dimana setiap orang boleh melakukan editting dengan menghasilkan kamus berjalan yang bisa berjalan dan dibawa seluruh orang di dunia. Bagaimana dengan kota-kota? Apakah kita akan mengandalakan bangunan-bangunan yang konvensional?  Kota harus bisa bergerak seperti awan supaya dia bisa survive, kota harus memiliki infrastuktur dan teknologi komunikasi dan dia punya generator ekonominya sendiri sehingga bisa survive tidak menjadi bangkrut lagi seperti Detroit.
Struktur terbuka sebagai ide dasar infrastruktur kota, saya membayangkan open structure adalah sebuah awan, dia dapat dibuat ruangan sesuai kebutuhannya. Dia bisa jadi kantor, hunian, bisa jadi vertikal kampung. Di masa depan ketika semua orang mulai terhubung dengan internet, orang semakin individu tetapi sekaligus sosial, jadi mereka bersosialisasi di dunia maya tetapi menjadi sangat individualis dengan lingkungan sekitarnya, jadi jika lingkungan sekitarnya tidak memiliki subjek yang sama sehingga ruang-ruang sosial yang ada seperti di kampung-kampung kita ini pasti semakin diinginkan kembali, sehingga ide open structure ini adalah menciptakan struktur yang terbuka dimana ruang-ruang sosial dapat disebarkan didalam ruang secara 3 dimensional, kemudian kebutuhan dasar seperti toilet dan dapur dapat diciptakan dan disediakan oleh pemerintah, sehingga ruang ruangnya kemudian rumah-rumah mereka akan dibangun secara mandiri hampir sama seperti dikampung jadi bertumbuh pada masa depan ketika kecanggihan teknologi mencapai titik tertentu sangat dimungkinkan bahwa setiap orang yang tinggal dirumah susun ini akan mengandalkan aplikasi didalam handphonenya mereka bisa membeli bagian-bagian rumah seperti jendela, pintu, dinding lewat aplikasi di dalam handphone, jadi hanya dengan menggunakan sistem DIY (Do It Yourself) setiap orang akan menyusun ruangannya dengan membeli bagian-bagian dari rumah satu persatu sesuai kemampuan ekonominya. Jadilah sebuah model kampung vertikal yang baru, dimana kampung ini menjadi super efisien pemerintah hanya cukup berkonsentrasi dalam penyediaan open structure, toilet, dapur dan ruang publik saja. Jadilah vertikal kampung.
Dalam sebuah CBD kita bisa juga membangun open struktur yang sama dengan lift vertikal maupun utilitas sehingga dia juga terkoneksikan dengan rumah susun open plan ini, sehingga kota baru berdasarkan open structur ini dapat dibuat secara cepat dan efisien, sehinggi dapat memenuhi kebutuhan dasar kota baru seperti yang dibutuhkan negara-negara yang padat penduduknya seperti India dan China.  Open structur ini seperti sebuah landscape baru, pada sebuah kota bisa dianggap seperti awan atau hutan atau hujan dia dapat tumbuh dimana saja baik di CBD daerah industri maupun daerah pertanian sekalipun. Jika kita bayangkan open structur sebagai infrastuktur arsitektur.
Pada tahun 70an sampai 80an ketika terjadi booming minyak banyak negara sangat bergantung dan mengandalkan energi yang dihasilkan dari minyak bumi, kota-kota seperti yang ada di Indonesia tidak berfikir jauh bahwa energi yang tidak terbaharukan itu akan habis namun tahun-tahun ini adalah tahun-tahun akhir banyak kilang minyak di Indonesia yang sudah tidak berfungsi lagi bahkan 5 sampai 10 tahun kedepan Indonesia jadi pengimpor minyak. Hak ini menyebabkan kita harus mereduksi penggunaan energi dengan memanfaatkan teknologi informasi, misalnya home automation yang akan mengkontrol seluruh sistem supaya semakin efisien contohnya open structur ini juga memungkinkan adanya automation dimana solusi-solusi penggunaan energinya dapat di kontrol bahkan dapat mampu menyerap energi matahari maupun angin sehingga kumpulan open structur ini dapat hidup dan survive.
Dalam pameran ini, saya ingin menyumbangkan tiga tipe struktur berbentuk V, F dan berbentuk U yang dimultifikasi menjadi cloud, menjadi struktur yang terbuka yang dapat dipakai dan digunakan untuk membentuk cloud menjadi titik awal sebuah kota menjadi cloud menjadi rumah susun vertikal menjadi infrastruktur baru.


Budi Pradono untuk Pameran ICAD 2016



Studi Maket Instalasi V


Proses Pembuatan skala 1:1

Proses Pembuatan skala 1:1

Proses Pembuatan Skala 1:1



Pembukaan Pameran




Friday, April 28, 2017

On studies / Dancing Tower by budi pradono architects

Publication :  On, Studies, Exhibition Indonesia Land 2 September-2 Oktober 2016, Selasar Sunaryo, Bandung 



Indonesia Land 2016 Selasar Sunaryo 



On Studies/ Dancing Tower


Arsitektur selalu menawarkan tantangan sekaligus batasan, konsekuensi dari: peraturan tata kota serta tata ruang, pula pertimbangan biaya pembangunan, maupun alternatif pemilihan material bangunan. Berangkat dari hal tersebut, Dancing Tower Project menyeniinstalasikan studi tentang: kepekaan, material, densitas, transparansi, kekuatan, kualitas ruang berikut material pembentuknya. Hal ini dipandang penting sebab proses evolusi dan eksplorasi berbagai kemungkinan adalah bagian tak terpisahkan dari proses yang dinamis dalam mencari tahu kemungkinan-kemungkinan eksplorasi material, berikut ketegangan-ketegangan eksperimental yang menyertainya. Inilah disebut keindahan kreativitas dalam berproses.

Team : Budi Pradono (Principal Architect),   Hendrawan Setyanegara, Gabriel Hutagalung , Zihny Soraya Ester, Natvara Chantara Kravee, Jiropas Khaosumang 
Idea

Proses Pembuatan Maket 
Proses Pembuatan Maket 









Monday, September 19, 2016

Publication : Slanted House by Budi Pradono Architects in Bob Magazine no 146 / 2016





This small house is located on 8x20m lot in Pondok Indah district. Although it is a part of gated community, this building located on the edge  small river with a village right across the river. Pondok Indah in South Jakarta is a residential area which is indeed successfully built in the 80’s. since then, Pondok Indah is being a symbolic status. Some of the most successful parliament member in Jakarta as well as some celebrities who come from other regions feel like a must-have house in this area. This symbol of success is generally showed by architectural language. For instance, structural column is similar to that of Italyor France. This pillar shows a success. To answer this challenge, the designer starts to ask the homeowner whether she still needs those symbol or vice versa. It turns out that she agrees to demolish this situation by deconstructing this common discourse, tilting the whole house to be something that almost fals down. This house is also next door of Indonesian musician, Ahmad Dhani. His house is painted totally black whereas this house is all white. This unintentionally coincidence reinforces (Slanted House) as an architecture which criticizes it environment. The spatial function of the house uses a new sequence. The public area is placed on the first floor, which consists of pantry, study area and swimming pool. Second level has private rooms such as master bedroom, wardrobe and bathroom. The bathroom acts as a response to the current trend of urban lifestyle. People normally spend more time in a bathroom for quiet time and contemplative room while using smart phones, reading newspaper or social media as a communication device. The top level is used for lounge and guest room. In the building section, the private area is put in the middle, like a sandwich between public areas. The whole building relies on the steel structure as a representative of a modern housing which depends on fabrication. This framework is now agreed to be slanted as a symbol of instability and a deconstruction of surroroundings.