Wednesday, September 11, 2013

Masterplan Surya University Bogor



Konsep utama Masterplan Kampus Surya University berdasar pada Surya Golden Ration (SGR). SGR merupakan hasil studi dari pengembangan bidang octagon yang sudah diperdalam oleh pihak Surya University. r-octagon, s-octagon, m-octagon merupakan geometri dasar yang digunakan dalam perancangan kampus yang berbasis riset dan teknologi ini.





Dalam perancangannya, masterplan kampus menggunakan konsep bidang m-octagon yang membentuk fraktal. Titik sentralnya ditempatkan pada pusat tapak. Titik ini selanjutnya dijadikan datum untuk mengorganisir seluruh kawasan. Secara konsisten, pola dari susunan 8 Surya Golden Spiral (SGS) digunakan ketika menempatkan bangunan dalam Kawasan Surya University (KSU). Gedung Rektorat berada di pusat "tata surya" kampus, disusul oleh 8 Gedung Pusat Riset, setelah itu terdapat Gedung Kampus yang membentuk menerus, yang juga menjadi batas internal kampus, serta gedung-gedung fasilitas pendukung yang tersebar di ring terluar kawasan. Penempatan bangunan fasilitas pendukung juga berdasar pada 2 axis, yaitu student activity axis, dan religiosity-educational axis. Bangunan student center ditempatkan di sisi terjauh student activity axis mengingat kegiatan yang dilakukan menghasilkan bising yang kuat. Sedangkan Chapel serta Perpustakaan berada di area depan kawasan sebagai simbol penyatuan religiusitas dan ilmu pengetahuan.


Tidak hanya penempatan bangunan di dalam kawasan, sirkulasi utama kawasan ini pun juga menggunakan pola SGS yang diteruskan hingga batas kawasan. Sebagai kampus dengan teknologi tinggi, tentunya Kawasan Surya University juga perlu mendukung konsep green environment. Untuk itu, seluruh kendaraan konvensional tidak diperbolehkan untuk mengakses area dalam kampus. Sementara, untuk menuju area internal, seluruh civitas akademika akan diperbolehkan menggunakan kendaraan yang disediakan oleh pihak kampus, seperti sepeda, segway, ataupun kendaraan listrik.



Konsep rancangan landscape kawasan berdasar pada konsep keseimbangan alam serta ilmu pengetahuan. Strategi implementasinya yaitu dengan melakukan mapping kontur, danau, sawah serta pohon-pohon besar pada eksisting kawasan, kemudian mempertahankannya. Nantinya, habitat eksisting tersebut dapat digunakan sebagai laboratorium hidup mata ajar kampus. Mulai dari batas lahan terluar, kawasan akan dikelilingi oleh hutan tropis dan secara bertahap akan berubah menjadi lebih teratur.
Tidak hanya rancangan landscape, gubahan masa area eksternal didapat dari pengembangan lebih lanjut bentuk geometri umum. Gedung Sport Hall serta Kolam Renang, misalnya, merupakan pengembangan Golden Square dengan transformasi Fibonachi, sehingga dapat menghasilkan geometri sport hall yang unik. Lalu, Gedung Asrama Mahasiswa dirancang menggunakan multiplikasi dari r-octagon dengan tetap menyediakan ruang-ruang pertemuan atau ruang publik sebagai transisi antar bangunan.


Sedangkan pada area internal kampus, pengembangan gubahan masa didapat dari bidang octagon, baik m-octagon serta s-octagon. Secara umum, gubahan masa di area dalam merupakan hasil pengembangan yang dilakukan khusus oleh pihak Surya University sendiri. Gedung Rektorat merupakan cerminan dari ring 1 hingga 6 m-octagon . Gedung Riset menggunakan  gubahan prisma c-octagon. C-otagon sendiri merupakan gabungan dari 4 s-octagon dan 1 m-octagon. Sedangkan Gedung Kampus, yang merupakan ring 8 KSU, menggunakan gubahan m-octagon yang diangkat dengan pilotis/kolom setinggi 2,5 meter, sehingga memungkinkan pejalan kaki atau pengguna sepeda berjalan dibawah bangunan. Tersebar pula void octagon yang memberikan kesempatan pohon untuk menembus bangunan.



Lebih lanjut lagi, rancangan landscape pada area dalam KSU dikembangkan menjadi sebuah taman labirin berpola SGS. Ini dirasa perlu, mengingat Gedung Rektorat serta Gedung Laboratorium memiliki privatisasi yang tinggi. Bahkan, untuk mencapai gedung dengan hirarki atas ini, seluruh civitas akademika diharapkan dapat menggunakan teknologi GPS untuk mengakses gedung tersebut. Dan sebagai perlambang penjernihan hati dan pikiran, Gedung Rektorat juga dikelilingi oleh kolam air tenang.



Selain pengembangan secara gubahan masa dan kawasan, kami juga melakukan  pengembangan secara teknologi pada bangunan di KSU. Semua fasilitas di Kawasan Surya University dirancang terintegrasi baik secara desain maupun teknologi. Perancangan facade Gedung Rektorat dan Gedung Riset menggunakan teknologi secondary skin yang dapat merespon kebutuhan pencahayaan dalam bangunan. Selain itu, di setiap fatigue point direspon dengan node-node dengan berbagai program, seperti cafe, parkir sepeda, serta charging spot untuk kendaraan listrik. Ini juga menjadi fasilitas umum civitas akademika di dalam kampus.


PROJECT CREDITS
Office Budi Pradono Architects
Location Kawasan Surya University, Bogor, Jawa barat
Design Period August 2013
Concept by Budi Pradono
Architect: Budi Pradono Architects (BPA)
Principal Architect: Budi Pradono
Assistant Architects: Stephanie Monieca, Elda Siska Sinuraya, Ajeng Nadia Ilmiani, Eka Feri Rudianto, Zulfikar Ramzy Malewa
Assistant Architect Supports: Destiana Ritaningsih, Laurencia Yoanita, Rifandi Septiawan Nugroho, Stephen Lim

Tuesday, September 10, 2013

Tirta Matra: Ruang Publik Baru Kota Jakarta

Tirta Matra merupakan proposal desain untuk pengembangan kawasan kebudayaan nasional di Jalan Medan Merdeka Timur (Pengembangan Bangunan Galeri Nasional Indonesia).

Pesatnya perkembangan dan kemajuan masyarakat digital di dunia menyebabkan penurunan minat masyarakat akan bangunan-bangunan kebudayaan seperti museum, art gallery, dan theater. Hal ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi arsitek untuk merespon isu tersebut.  Galeri Nasional Indonesia (GNI) adalah salah satu yang mengalami dampak dari perkembangan masyarakat digital. Jumlah pengunjung GNI mengalami penurunan yang signifikan. Harus ada solusi dari segi software maupun hardware untuk meresponnya.

Dari segi software, kita bisa menempatkan program manager yang inovatif yang menciptakan program yang cepat dalam waktu tertentu. Sedangkan dari segi hardware, dikembangkan melalui bangunan baru yang menggunakan teknologi terkini yang atraktif secara bentuk maupun pengalaman ruang yang ditawarkan. Oleh karena itu, kami sebagai Arsitek mencoba memberikan solusi hardware dengan mengajukan proposal desain yang merespon masyarakat digital. Pada proposal desain ini, kami memberi makna yang “kekinian” dengan unsur yang mengundang publik untuk berkunjung serta menggunakan material yang kontemporer. Di sini, kami mengangkat unsur air sebagai benang merah konsep karena kami menilai air merupakan media yang atraktif untuk mengundang perhatian publik.


Pendekatan urban desain mengacu pada gagasan awal Ir Soekarno RI untuk menjadikan kawasan disekitar Monumen Nasional sebagai simbol peradaban dan pusat kebudayaan nasional. Oleh karena itu, secara konteks kami mengacu pada Monas, sebagai DATUM yang direspon secara lebih fundamental. Tidak hanya menyediakan garis imajiner, tetapi juga menyediakan public space pada beberapa macam ketinggian seperti Teater, yang berada di atas gedung pameran temporer, serta sky lobby di lantai tertinggi hotel.


Kemudian, kami juga memberikan respon berbeda untuk kawasan yang memiliki 2 muka, yaitu Jalan Medan Merdeka Timur dan Sungai Ciliwung. Pada jalan yang menghadap Medan Merdeka Timur, kami rancang sebuah reflecting ponds dan taman depan dengan air mancur untuk memberikan keseimbangan. Sedangkan di area pinggir Sungai Ciliwung, dirancang public space berupa promenade, serta amphiteater.




Untuk gubahan masa, kami membaginya menjadi dua katagori, yaitu gubahan masa oval-fluida, serta gubahan yang rectangular. Terdapat 3 bangunan yang kami rancang dengan batasan fluida, yaitu Gedung Teater Nasional, Gedung Pameran Temporer 3, serta Gedung Teater Indoor. Ini membuat kualitas yang dialami menjadi berbeda dari yang biasanya, yang berbentuk kotak. Di lain pihak, bentuk rectangular juga kami pertahankan pada beberapa bangunan seperti pada Pusat Data Gedung Komersial, Covention Center, Lab, Ruang Koleksi, serta Ruang Seminar. Bentuk yang rectangular, ditambah dengan ritme dari kolom-kolom baja di sisi luar bangunan membentuk harmonisasi yang apik dengan Ruang Pameran Temporer, yang notabene adalah bangunan cagar budaya.








Kami juga merancang dengan pendekatan "WOW" Factor, yang memberikan efek ketertarikan bagi masyarakat yang berkunjung, baik yang datang dari Jalan Merdeka Selatan, maupun jalur Sungai Ciliwung. Kami melihat perlu adanya sebuah landmark di Kota Jakarta. Kami harap, di masa datang, kompleks ini menjadi sebuah destinasi pariwisata dari seluruh dunia. "WOW" Factor diterjemahkan dalam sebuah ruang publik yang luas, unsur air yang menonjol, penggunan material yang reflektif, seperti kaca ataupun baja, serta sky experience. Khususnya pada bagian rooftop Gedung Teater Nasional dan Gedung Pameran Temporer 3, serta sky lobby hotel, pengunjung bisa menikmati Jakarta dari ketinggian yang berbeda-beda, serta mengapresiasi kawasan Monas.



Beberapa preseden yang kami gunakan sebagai referensi "WOW" Factor, antara lain Reina Sofia Museum at Madrid, Louvre Lands at French, Kanazawa 21th Museum of Art at Japan, Jewish Museum at Berlin, Rolex Learning Center by SANAA at Switzerland, Vieux Port Paviliun by Marsailles.


PROJECT CREDITS Office Budi Pradono Architects
Location Kompleks Galeri Nasional Jakarta Pusat
Design period August 2013
Type: National Competition 2013
Concept by Budi Pradono 
Architect: Budi Pradono Architects (BPA)
Principal Architect: Budi Pradono
Assistant Architects: Anggita Yudhisty Zurman Nasution, Eka Feri Rudianto, Ajeng Nadia Ilmiani
Asistant architects supports: Rifandi Septiawan Nugroho, Destiana Ritaningsih, Stephen Lim, Laurencia Yoanita

Monday, September 9, 2013

RBDI Cikal Bakal Desainer Indonesia

Reka Baru Desain Indonesia atau disingkat dengan RBDI, merupakan sebuah gagasan untuk memetakan semua potensi karya rancang desain, seperti desain furniture, produk, interior, mode, landscape, arsitektur, diskomvis, maupun desain kemasan. Ide dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ini diharapkan mampu menjaring bibit-bibit muda. Ditambah dengan adanya diplomasi kebudayaan yang dilakukan Pemerintah dengan negara sahabat, tentu saja ini dapat membuka peluang bagi desainer Indonesia untuk mengikuti pelatihan serta pameran di luar negeri. Secara tidak langsung, nantinya mereka juga berperan sebagai brand ambassador Pemerintah RI. 



Selain itu, program ini merupakan salah satu bentuk fasilitas pemerintah dalam pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, sehingga talenta-talenta desain Indonesia dapat terpacu untuk terus menghasilkan karya. Tentu saja, ini perlu kita dukung, sehingga kita makin bangga dengan Indonesia. Tidak hanya kita, beberapa pameran internasonal, baik di Milan, Paris, Berlin, London, New York, maupun Madrid, juga menantikan hadirnya kesegaran dari karya-karya inovatif-modern yang sangat Indonesia.

Sulitnya mencari desainer Indonesia, layaknya mencari permata dalam gundukan pasir. Ketika ditemukan, ia tetap harus diasah hingga mampu memberikan efek "WOW" dan patut mendapatkan apresiasi di tingkat internasional. Dari semua itu, hambatan terbesar dalam mengumpulkan desain serta desainer Indonesia adalah ketidakterbukaan dari pihak desainer itu sendiri. Tidak sedikit, cikal perancang Indonesia yang memiliki talenta serta karya yang memukau masih bersembunyi dan malu untuk menunjukan kepada orang lain. 



Ditambah lagi dengan wacana karya ke-Indonesia-an. Mereka juga harus menjawab tantangan dalam mendefinisikan karakter "sangat Indonesia". Karya yang "sangat Indonesia" ini dapat diterjemahkan dalam berbagai konteks, seperti konteks material ataupun gagasan itu sendiri. Kedua hal yang mengacu pada kekayaan etnis dan budaya Indonesia tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam karya desain yang menjawab kebutuhan kekinian.

Jika kita bandingkan program serupa di kota-kota metropolis lainnya, seperti London maupun New York, para desainernya berlomba-lomba meluncurkan produk atau karya rancang terbarunya secara massive dan terus menerus. Industri manufaktur ikut berperan aktif menjalin hubungan mesra dengan para desainer. Mereka siap menjembatani antara produk desain dengan teknologinya supaya siap dipasarkan. Secara tidak langsung, ini akan menjadi stimulan bagi hadirnya karya-karya baru. Di pihak lain, media juga siap bahu-membahu mendistribusikan ide segar para desainer kepada masyarakat umum.

Kedepannya, RBDI akan mengemas 20-50 karya desainer Indonesia dalam sebuah pameran bertajuk Pekan Produk Kreatif Indonesia 2013 . Pada pameran yang akan berlangsung pada bulan November-Desember ini juga akan diberikan penghargaan kepada desainer terpilih. Diharapkan dengan berjalannya RBDI ini akan membentuk sebuah budaya baru dalam memamerkan maupun memasarkan karya-karya yang terkumpul dari event ini. Pekan Produk Kreatif Indonesia pun tak lama lagi sudah bisa disetarakan dengan  Dutch Design Week, maupun The London Design Festival.

Jadi, apakah anda bagian dari komunitas desainer Indonesia? Ayo! Tunjukan karyamu!

Friday, September 6, 2013

Kereta Tak Berpintu

Aku merasa tinggal dan bekerja di Jakarta seperti bermain catur, tiap kali rapat dengan seseorang di suatu tempat, aku harus memutar otak dan melakukan riset kecil mengenai tempat, jam berapa aku harus berangkat serta jam berapa aku harus kembali. Studio kerjaku berada di Bintaro, sebuah wilayah yang dulunya termasuk pinggiran Jakarta. Sekarang, setelah sekian lama, Bintaro menjadi sebuah kota satelit yang mandiri. Dengan berbagai fasilitasnya, aku merasa tidak perlu lagi menuju ke kota. Ada rumah sakit internasional. Ada mall yang lengkap, yang menyediakan gadget, peralatan elektronik, maupun toko buku yang lengkap. Tetapi, ketika aku harus memiliki janji bertemu dengan orang lain di Cikini, Jalan Sudirman, maupun Cawang, aku harus kembali bermain catur.

Emat minggu yang lalu, ketika aku pulang dari Sydney, entah apa yang mempengaruhi kala itu, aku ingin kembali mencoba menggunakan transportasi umum. Untuk menuju Galeri Nasional di bilangan Gambir, aku mencoba untuk naik kereta listrik Jabodetabek dari stasiun terdekat studioku di Pondok Ranji. Saat itu, kereta ekonomi menjadi pilihanku untuk berangkat mendekat arah kota. Aku sangat familiar dengan kereta ini, yang merupakan kereta bekas dari Jepang yang pernah aku gunakan sehari-hari semasa hidup di sana.

Bedanya, di Jepang, sudah memiliki budaya berkereta. Selain keretanya datang tepat waktu, yaitu datang setiap 3 menit, dan selalu dijaga oleh petugas JR yang sangat disiplin. Di dalamnya, para penumpang dari berbagai kalangan bisa menikmati kereta ini bersama-sama. Budaya berkereta ini juga digabungkan dengan budaya membaca yang tinggi. Dengan mudah, aku bisa mendapatkan buku komik manga secara cuma-cuma dari tempat penyimpanan tas, yang biasa berada di atas bangku penumpang. Belum lagi, kebiasaan untuk mengakses internet dari smartphone masing-masing penumpang. Tak heran, sempat terdengar budaya “komunikasi jempol” kala itu.

Lain Jepang, lain pula Jakarta. Kereta bekas dari Jepang itu sudah tak berpintu. Bahkan, tempat menggantungkan tangan pun sudah tidak ada. Aku coba menyusuri dari gerbong satu ke lainnya. Ini seperti kereta kelas kambing. Gerbong-gerbong ini bahkan sudah berevolusi menjadi rangkaian pasar kaget. Aku bisa menemukakan buah, sayur, jajanan, bahkan baterai handphone yang dijual di sana. Ini sangat multifungsi. Para penjual di dalam kereta adalah orang-orang yang sangat kreatif. Mereka mencoba menciptakan berbagai alat yang dapat memudahkan aksi mereka. Aku merasa perlu belajar banyak dengan mereka, mengenai bagaimana mereka membuat almari untuk berjualan segala keperluan tetek-bengek, mulai dari peniti, rokok, jarum pentul, spidol, hingga pulsa. Pada sisi bawah almari tersebut terpasang 4 buah roda lacker dari besi, sehingga mudah dibawa dari gerbong satu ke lainnya.





Selain mengangkut orang dari satu tempat ke tempat lain, ia juga bisa menjadi pasar, atau bahkan tempat bunuh diri yang mudah. Aku membacanya layaknya kota yang tanpa kontrol keamanan. Apakah ini kota yang beradab? Dengan menyediakan kereta tanpa pintu. Tiba-tiba, aku teringat dengan asuransi kesehatanku.




Aku sangat menikmati perjalanan ini. Hari itu memang kosong. Penumpangnya sangat sedikit. Aku berada pada waktu yang tepat. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Dari Bintaro-Pondok Ranji, hingga Tanah Abang hanya memerlukan waktu 20 menit saja. Perjalanan selanjutnya ke Galeri Nasional, aku lanjutkan dengan ojek tercinta. Dalam waktu 10 menit, aku sudah sampai tujuan. Ini berbeda sekali ketika dulu aku menggunakan mobil. Hampir 2 jam waktu yang diperlukan untuk sampai di tempat tujuan. Sejak itu, aku kembali mencintai lagi naik kereta, di Jakarta.

Di waktu yang lain, aku belajar memilih waktu yang tidak tepat, ketika harus bertemu dengan orang lain di salah satu gedung di Kawasan MT Haryono, Tebet. Aku bersama tim studio, berenam, mengantri kereta di Stasiun Pondok Ranji jam 07.59 pagi, tentunya kami harus bangun dari pukul 6 pagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Yang ada hanyalah kereta commuter ber-AC dengan tarif yang sama, 2 ribu rupiah. Tetapi, kita gagal berangkat. Saking penuhnya orang, satu pun di antara kami tidak mampu menembus padatnya orang di depan pintu kereta. Kami baru terangkut pada kereta keempat, sekitar pukul 9 pagi. Dengan berdesak-desakan dan penuh peluh, kami akhirnya berhasil sampai di Stasiun Tanah Abang. Sesampainya di sana, masalah lain timbul. Kami tidak bisa keluar dari kereta karena penumpang berikutnya mendesak masuk ke dalam kereta. Ini membuat kami harus bersusah payah mengeluarkan diri dari kereta. Selain baju menjadi kusut, tas kerja pun jadi gepeng. Belum tuntas, make-up wajah para wanita pun juga ikut luntur. Masalah ketiga,  kami tidak bisa keluar melalui gedung utama stasiun. Kala kami berada di peron, kami mengalami serbuan orang turun dari gedung stasiun.



Inilah yang aku sebut dengan belum adanya budaya berkereta, sehingga tidak ada usaha mengantri maupun mengikuti aturan. Di antara penumpang, bahkan ada yang beradu mulut. “Hey! Dasar orang ngga ngikutin aturan! Tampangnya doank yang pakai dasi, tapi main sruduk seperti orang yang ngga sekolah”, teriak orang di sampingku.

Tidak ada seorang petugas pun yang mampu mengatur kekacauan ini. Mungkin para petugas PT KAI tidak cukup hanya mengikuti training oleh kantor, tetapi juga perlu juga diajak jalan-jalan ke kota yang dinilai bisa dijadikan panutan. Tidak perlu Paris atau Berlin, Singapura pun cukup memperlihatkan betapa ketertiban menjadi sebuah keharusan untuk maju. Bila kita lihat di Jakarta, loket menjadi target serbuan massa. Puluhan orang berbondong-bondong berebut menjadi pelanggan yang pertama dilayani. Tidak adakah satu orang pun yang memiliki inisiatif untuk membuat antrean menjadi lebih rapi?

Ini adalah potret masalah klasik di Jakarta, bahwa sarana transportasi publik tidak sebanding dengan kapasitas penggunanya. Mungkin, rancang bangun dari Stasiun Tanah Abang belum memenuhi hal yang paling dasar dari buku Neufert, yang membahas mengenai skala. Stasiun Tanah Abang seperti tidak mampu menampung jumlah penumpang yang datang dan pergi. Terdapat kesalahan program dalam perhitungan kapasitas, tentunya terlepas dari estetika. Alur orang yang lalu lalang tidak dikontrol dan kurang diperhatikan. Haruskah kita menyebrang rel? Bahkan, di luar negeri, entah itu Perancis, Jerman, atau Jepang, melintasi rel merupakan tindakan yang ilegal.  Tetapi, di tempat ini seperti tidak ada pilihan lain, selain menyebrang melewati rel kereta yang aktif.



Ini seperti kurangnya dasar yang kuat dari saat tahap perencanaan, yaitu ukuran skala megacity. Mungkin ini menjadi tugas rumah untuk gubernur baru Jakarta, Jokowi. Pertambahan populasi Jakarta tidak terdeteksi. Metode yang sangat manual dan tidak terintegrasi dengan sistem yang lain. Saya teringat saat saya mendapatkan KTP Jepang di Tokyo, maupun KTP sementara di Rotterdam. Saya diharuskan menjalani tes kesehatan dan semua tercatat di komputer, tanpa secarik kertas. Dengan sebuah akta kecil pengakuan atas kependudukan inilah aku bisa mendapatkan akses untuk kehidupan mendasar, contohnya untuk menyewa sebuah apartemen.

Kita sudah kebanyakan manusia. Jakarta sudah penuh. Jakarta sudah setara dengan Tokyo atau Shanghai secara jumlah penduduk, tetapi secara infrastruktur tertinggal 10 tahun. Belum lagi secara mental berkota,  kita ketinggalan sepuluh tahun lebih lama lagi. Rasanya, untuk apa jika kita punya DPR atau menteri yang sering studi banding ke luar negri, tetapi tidak pernah mencoba fasilitas infrastruktur ini di negeri sendiri. Ini sama saja tidak ada percepatan pembenahan secara terstruktur.

Aku bisa lihat sendiri pusat-pusat penghubung antar-dalam kota tidak mampu melayani banyaknya penumpang, contohnya Stasiun Bus Blok M, serta Stasiun Kereta Manggarai. Semuanya tidak terhubung. Disconnected. Jika aku merupakan pendatang dari Bogor dan turun di Manggarai, maka aku harus berjalan kaki untuk menemukan perhentian yang mampu mengangkut menuju penjuru lain di Jakarta.

Jakarta is disconnected city. Aku kira ini memang pantas diemban. Departemen Perhubungan harus mencoba jalur transportasi umum ini. Mereka harus mengalami sendiri kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakat kebanyakan. Tak bisa rasanya membayangkan bila aku menjadi seorang commuter yang harus bangun jam lima pagi, mandi, beres-beres, makan pagi, kemudian naik ojek ke stasiun kereta terdekat. Belum selesai, perjalanan dilanjutkan dengan berdesakan-berjejalan selama dua jam di jalan dan dua jam lagi pulangnya. Layaknya Paris tahun 30 an yang belum bisa merasakan pentingnya kenyamanan angkutan publik. Para perencana kota juga banyak yang terpaku dengan buku-buku di masa kuliahnya dulu, tanpa pernah mencoba kenyataan di lapangan.

Bahkan kini, aku sangat bergantung pada ojek. Mas ojekku sayang… Mereka selalu standby di depan stasiun, kemudian dengan gesit membawa kita ke tempat tujuan dengan cara apapun. Tak jarang, cara cara yang kadang kurang beradab pun dilakukan. Melewati trotoar, melanggar lampu merah, menerabas mobil dari kiri dan seterusnya. Tapi, mereka lah yang selalu berjasa. Setidaknya, untuk membawaku tepat waktu hingga di tempat rapat selanjutnya.

Catatan Urbanisme
Budi Pradono

mid term review urban islands workshop at University of Sydney