Pada Minggu pagi pada jalan lingkar baru yang menghubungkan Salatiga dan kota Solo terdapat pasar kaget. Dan saya menyaksikan di pasar itu anak ayam pun diberi cat pewarna supaya lebih menarik, dan berwarna-warni. Anak-anak ayam ini menunjukkan bahwa segala upaya dilakukan demi menarik perhatian atau menyetarakan anak ayam dengan mainan lainnya. Hal ini menjadi pelengkap bagi hadirnya lansekap buatan. Selamat datang Lansekap buatan di Salatiga.
Visionary Future LAB is a weblog devoted to the future of design, tracking the innovations in technology, practices and materials that are pushing architecture, interior, product design and urbanism towards a smarter and more sustainable future. Visionary Future LAB was started by Jakarta based research architect Budi Pradono as a forum in which to investigate emerging design in product, interior and architecture & urbanism
Monday, January 2, 2012
artificial landscape case study-1
Budi Pradono visited Langgeng Gallery, Magelang, central Java
Saya sangat bersyukur dan berbahagia bisa mengunjungi Gallery Langgeng di Magelang. Meskipun kunjungan ini adalah yang kedua kalinya tetapi terasa sangat special karena saya diantar langsung oleh pemiliknya mas Deddy Irianto, lengkap dengan suguhan kupat tahu Magelang. Dia sangat bersahaja dan cenderung santai, tetapi ‘passion” nya sangat terlihat jelas ketika dia mulai menceritakan satu demi satu koleksinya baik patung maupun lukisan-lukisan koleksinya. Pada area living di rumahnya terpampang lukisan tiga pemimpin China masing-masing berukuran 1.5m x 3m yaitu Mao Zedong, Deng Xiao Ping, dan Jiang Zemin tiga pemimpin China ini digambarkan dengan penuh symbol, Mao digambarkan dengan warna abu-abu dan hitam, sementara Deng Xiao Ping digambarkan dengan penuh warna dengan back ground burung merpati yang siap terbang, sebagai symbol bapak pembangunan China, sementara Jiang Zemin digambarkan sebagai pemimpin dalam era globalisasi sehingga dibelakangnya tampak adanya gambar pesawat udara.
Lukisan lainnya adalah karya Agus Suwage yang cukup provokatif, dimana menggambarkan seseorang yang menjelaskan tentang Senirupa pada seekor kelinci yang sudah tewas dipangkuannya. Ini menunjukkan betapa sulitnya menjelaskan ‘seni’ pada bulu kelinci yang tak bernyawa.
Thursday, December 29, 2011
In Process 'Safa house' 2009 - 2012 by Budi pradono architects

Rumah ini merupakan interpretasi dari pengalaman ruang yang berbeda-beda, pada awal penugasan pemilik sudah memiliki bangunan tradisional jawa, Joglo dari kota Jepara. Bangunan tersebut akan difungsikan sebagai penerima tamu sekaligus juga sebagai mushola. Sehingga rancangan rumahnya merupakan background dari bangunan pendopo ini.

Di sisi lain ruangan di dalam rumah dibuat dengan skala yang extrem berbeda dengan pendopo ini skaligus mengalirkan ruang secara kontinyu dari luar ke dalam bangunan. interpretasi kekokohan, keagungan sekaligus kesederhanaan ditunjukkan dengan pemilihan material, berupa kombinasi kayu ulin dan batu travertine.

study awal perencanaan lebih banyak menggunakan box acrilik sebagai representasi program di dalam bangunan sehingga distribusi programatik nya ini menghasilkan kombinasi ruang-ruang dengan perbedaaan skala dan pencahayaan alamiah. Setiap ruang memperoleh pencahayaan alami. yang memadai. (Budi Pradono)
Tuesday, December 20, 2011
'Miring' installation by Budi Pradono for Jakarta Art Biennale #14 2011 'Maximum City' @ Galeri Nasional Jakarta
Miring merupakan sebuah interpretasi pembacaan kota Jakarta, siapapun yang tinggal di Jakarta pasti sadar apa arti miring, artinya tidak seimbang, kalau terlalu miring bisa jatuh. Dalam membaca konteks di Lingkungan Gallery Nasional yang formal dan steril, Karya ini menampilkan beberapa paviliun berwarna oranye dan perak yang tersebar di area gallery. Salah satu paviliun berada siatas ketinggian 7 meter ditopang oleh ratusan bambu yang berdiri tegak, menopang sebuah kotak yang hampir jatuh karena posisinya yang miring tepat di depan bangunan ini.
Sementara masyarakat diperbolehkan menikmati perjalanan untuk memahami Jakarta, melalui sebuah jalan berupa ramp yang berliku-liku, ini mencerminkan kenyataan Jakarta, hampir setiap kali kita keluar rumah kita tidak merasa aman seratus persen, karena trotoarnya yang bergelombang, atau lubang selokan yang tidak tertutup, jalan utama yang macet berjam-jam sehingga kita perlu berpindah menggunakan ojek, tanpa helm pun kita belum tentu selamat. Karya ini merupakan interpretasi dari tema Jakarta Biennale #14 2011 yaitu Violence & Resistance, Jakarta Maksimum City.
Maksimum karena kepadatan yang tidak terkontrol, kemudian kota-kota penunjang di pinggir Jakarta terus menerus dikorbankan. Karya ini adalah juga menampilkan paradoks diantara kemapanan ekonomi Asia tapi juga sekaligus ketidaksiapan mental penduduknya. Image kampung kota yang berjalan berbarengan dengan kemajuan sektor privat, tidak dibarengi dengan penyeimbangan area publik. Susunan beberapa box paviliun ini diatur pada axis yang berlawanan dengan struktur bangunan Galerry yang sudah mapan. Ini merupakan symbol perlawanan sekaligus keseimbangan. Salah satu box yang Miring di atas ketinggian 7 meter ini di dalamnya di putar sebuah film kekerasan perempuan karya Regina Jose dari Guatemala berjudul “El Peso de La Sangre” melengkapi karya ini dengan kuat. Sebagai symbol atau cermin diri Jakarta yang sudah Miring
Jakarta yang berbahaya, sekaligus Jakarta yang tidak aman. Pada beberapa bulan terakhir ini kita menyaksikan beberapa orang melakukan bunuh diri di mall, atau berita-berita pemerkosaan di atas angkot. Fenomena kengerian ini ada di depan kita sehari-hari. Miring!
‘Miring’ installation is an interpretation of the reading of Jakarta, anyone who lives in Jakarta must be aware of what ‘miring’ is, leaning next to or unbalanced, if it's too oblique to fall. In reading the context of the National Gallery site of formal and sterile context, this work shows buildings that lined bamboo-lined shore up a box which nearly crashed because of the leaning position right in front of this building.
While the public is allowed to enjoy the journey to understand Jakarta, through a path in the form of a winding ramp, this reflects the reality of Jakarta, almost every time we go out we do not feel one hundred percent safe, because of the bumpy sidewalks, worst drainage system, which has several holes that are not closed, the road The main jammed for hours, so we need to move to use a motorcycle taxi (an Ojek), if we were without a helmet is not necessarily safe. This work is an interpretation of the theme of Jakarta Biennale # 14 2011 is Violence & Resistance, Jakarta Maximum City.
Maximum because the density is not controlled, then the cities of Jakarta on the edge of the supporting continuous sacrificed. This work is also featured Asian paradox between economic stability but also at the same mental unpreparedness of the population. Jakarta consists of several densest kampongs that run concurrent with the advancement of the private sector, not accompanied by offsetting public area. The composition of several boxes of this pavilion is set on the axis opposite the Gallery building structures that have been established.
It is a symbol of resistance as well as balance. Leaning one box above the height of 7 meters is in it played a violent film works by Regina Jose, a Guatemalans artist, entitled "El Peso de La Sangre" with a strong complement of this work as a symbol or self-mirror of Jakarta, which already ‘Miring’. Jakarta is dangerous, while Jakarta is not safe. In recent months we have witnessed several people committed suicide in the malls, or rape news on public transportation. The phenomenon of this horror in front of us everyday, it is ‘Miring’!
Credit:
Title: ‘Miring’
Type: site specific Installation
Year: 2011
Location: Galery Nasional, Jakarta
Exhibition time: 15 December 2011 – 15 January 2012
Artsit: Budi Pradono
Teamworks: Budi Pradono, Jimmy Ongo, Atika Nurfitriana
Model maker: Daryanto, Rovinida Fitiana, Atika Nurfitriana
Project manager on site: Jimmyongo
Civil works on site: Pak Min, Pak Salim, mbah, Samat, Katam, Aik, Tikoma, Yaryo, Edi, Eko, Supri, Entang, Iskandar, Iwan dan team, Hendy, pak Min, Jimmyongo, Budi Pradono, Fx Bambang SN, Stephanie Monieca.
Logistik: Hendy
Accommodation and finance: Reini Mailisa
General relation: Intan Kusuma Dewi
Official photograper: FX Bambang SN
Thank you for all support from: Budi Pradono architects, Herry ‘Gonku’nursery, mas Herry, mas Nurdin ‘ndut goku, Mego Wahono, Seno Joko Suyono
All curators and artist during the endless discussion and collaboration: Ilham Khoiri, Bambang Asrini Widjanarko, Seno Joko Suyono, Invalid Urban, Ismanto Wahyudi, Regina Jose Galindo, Susilo Sudarman. Sari Nakisha, Imam Muhtarom, Ira, Selo
Subscribe to:
Posts (Atom)