Friday, March 1, 2013

Glass Pavilion karya Moneo Brock Studio di Cuenca, Spanyol




Moneo Brock Studio, dari Madrid, Telah berusaha merehabilitasi lansekap natural di perbatasan Jucar dan sungai Moscas dengan menghadirkan "Forest of steel and glass" atau human kaca dan metal. dengan 23 module pentagonal menjadikannya mediator antara urban fabric dengan menggunakan fragmentasi material arsitektur untuk mengartikulasikan taman teater geometri. Dengan site seluas 35 hektar ini, permainan baja-baja truss nya dan dikombinasikan dengan kaca telah menyatukan landsekap, sinar matahari, dan interaksi manusia di sekitarnya. 

All images by ake Lindman


madrid-based moneo brock studio has sought to rehabilitate the abandoned natural landscape bordering the jucar and moscas rivers with a forest of steel and glass. the 'glass pavilion' fits the historic spanish city of cuenca with an ice-skating rink, performance space, bars and restaurants, all under the cover of faceted abstractions of the surrounding woodlands. the 23 pentagonal modules act as a mediator between the encompassing thicket and the urban fabric, using the fragmentation of architectural materials to articulate the geometrical theater of the park. a crystalline exterior belies the overlayed truss-work appreciated under the cover of the open-plan space. the 35 acre site becomes a locus of activity, filtered by the complex compositions and transformative volumes of light the shelter permits. glass of varying opacities completes the unification of landscape, sunlight 
and human interaction.

Via designboom 
:http://www.designboom.com/architecture/moneo-brock-studio-glass-pavillion-in-cuenca-spain/




Thursday, February 28, 2013

Shenzhen International Airport Terminal 3

Arsitek asal Italia Massimiliano dan Doriana Fuksas telah memenangkan kompetisi untuk merancang sebuah terminal baru di Bandara Internasional Bao'an Shenzen di Cina.



Terminal yang luasnya sekitar 400.000 meter persegi akan dibangun dalam tiga tahap, dengan perkiraan selesai pada akhir 2035.

Shenzhen adalah salah satu lokasi industri dan touristical paling penting dari seluruh Cina. Shenzhen terletak di bagian selatan Provinsi Guangdong, di pantai timur dari Pearl River Delta. Lingkungan di sekitar Pearl River Delta dan Hong Kong, lokasi Shenzhen memberikan keuntungan geografis untuk pembangunan ekonomi.

Secara global - T3 di Shenzhen Bao'an Bandara Internasional harus berfungsi sebagai pintu gerbang penerbangan global antara China dan seluruh dunia.




Nasional - sebagai keempat terbesar Beijing , Shanghai, dan Guangzhou di China, Shenzhen Bao'an Bandara Internasional sebagai pusat  penerbangan domestik dan hub penerbangan nasional. Peningkatan layanan transfer antara internasional dan penerbangan domestik akan meningkatkan distribusi kekayaan di antara semua kota di Cina.


Regional - Saat ini, ada lebih dari 40 kota dengan populasi lebih dari satu juta dalam waktu 3,5 jam terbang dari Shenzhen. Hal ini membuat Shenzhen lokasi yang sangat baik untuk pusat regional. Penumpang yang bepergian dari kota-kota tetangga bisa terbang ke Shenzhen untuk terhubung dengan penerbangan jarak jauh global atau penerbangan ke kota-kota Asia lainnya.


Dalam hal konstruksi, desain mengoptimalkan performa bahan dipilih berdasarkan ketersediaan lokal, fungsi, aplikasi lokal keterampilan, dan rendahnya biaya pengadaan. Hebatnya, itu akan dirancang dan dibangun dalam beberapa tahun . Untuk T3 Shenzhen Bao'an Bandara ada tiga fase.



Tahap 1 (tahun 2015)


Fasilitas utama dalam Tahap 1 akan mencakup terminal unit dengan 63 kontak gerbang, tahap pertama dari APM, sistem lalu lintas, tempat parkir, lansekap, dan pusat perbelanjaan. Layanan kereta untuk APM tidak akan tersedia sampai lengkap Tahap 2.


Tahap 2 (tahun 2025)


Ekspansi setelah Tahap 1 akan terjadi berdasarkan masterplan. Selama Tahap 2, concourse penumpang pertama terpencil akan dibangun untuk menambah gerbang dan terminal satelit dengan stasiun kereta api akan beroperasi. Ini akan membutuhkan perluasan APM.


Tahap 3 (di 2035)


Pengembangan sisi barat bandara akan berlanjut sampai sekitar 2035 ketika T3 Shenzhen International Airport akan sepenuhnya dibangun. Tahap 3 melanjutkan proses pembangunan demand driven. Terminal satelit lagi akan menjalani ekspansi dan concourse lebih jauh akan ditambahkan selama dekade ini. Dan juga akan ada 



Terminal dan Concourse

Terminal penumpang dan concourse merupakan bagian utama dari persepsi penumpang dari bandara. Faktor-faktor yang mempengaruhi penumpang termasuk waktu pengolahan, jarak berjalan, kemudahan orientasi, berkerumun, dan ketersediaan fasilitas yang diinginkan. Masing-masing telah dipikirkan dengan matang dalam mengembangkan konsep untuk terminal penumpang dan concourse.

Terminal ini terbuka untuk pandangan ke luar dan direncanakan di bawah kanopi atap tunggal. Cahaya alami datang melalui kulit yang kulit ganda dengan pola. Kulit menghindari sinar matahari langsung untuk mengurangi konsumsi energi dan menciptakan suasana elegan. Hal ini membuat wisatawan memiliki kesan yang luar biasa dengan kenyamanan.




Terminal

Plaza menyediakan akses ke penanganan bagasi, keberangkatan dan ruang kedatangan di lantai dasar serta kafe dan, restoran kantor dan fasilitas untuk pertemuan bisnis. Void di ruang keberangkatan besar tidak hanya menetapkan hubungan visual antara tingkat yang berbeda tetapi juga bagian dari cahaya alami ke tingkat lain.

Ruang keberangkatan besar memiliki plaza luas dengan check-in counter yang mendapatkan pencahayaan yang elegan oleh difusi cahaya dari atap. Ini menyediakan ruang tunggu yang menyenangkan dengan meja check-in, counter informasi, perusahaan penyewaan mobil dan counter maskapai penerbangan.

Wisatawan tiba di terminal pada 14m dengan menggunakan mobil. Kanopi bandara dapat membuat mereka merasa diterima dengan efek cahaya yang diciptakan oleh celah kanopi ganda. Setelah check-in dua jenis wisatawan, keberangkatan internasional dan domestik akan membagi secara vertikal. Untuk wisatawan keberangkatan internasional harus turun menggunakan eskalator, sementara wisatawan domestik pergi ke daerah keamanan (CIQ) di 14m.





Area berkumpul

Daerah concourse adalah salah satu daerah fungsi kunci di bandara. Concourse daerah di T3 Bandara Internasional Shenzhen terdiri dengan tiga tingkatan. Setiap tingkat diperuntukkan untuk fungsi independen: keberangkatan, kedatangan, dan jasa.

Bentuk concourse yang sederhana, namun elegan. Hal ini juga untuk pertimbangan perluasan bandara di masa depan.

Konsep ruang interior adalah cairan. Ada dua karakter spasial yang berbeda dalam ruang concourse. Salah satunya adalah gerakan, yang lain adalah jeda. Eceran dan lounge menunggu akan menjadi pulau untuk jeda. Terutama ritel adalah kunci-penyewa dalam ruang concourse, tidak hanya untuk pengelolaan bandara tetapi juga untuk kesan bandara dengan tinggi-layanan. Eceran dan lounge menunggu tampaknya dibuat secara alami mengikuti cairan spasial.

Kulit bagian dalam terbuat dari jaring yang sangat halus. Gerakan kulit ini memberikan concourse suasana ruang yang elegan. Ketika kita melihat concourse dari tingkat 14m akan ruang luar biasa.

















Wednesday, February 13, 2013

Opening soon "Semilir", Spanish Bar and Cafe by budi pradono


Semilir… sebuah konsep baru dari sebuah bangunan lama, yang tersulit adalah menghidupkan kembali
pendekatan ini ditransformasikan lewat prosesi maupun material.
seseorang akan dihantarkan menuju tempat ini
melalui sebuah prosesi yang panjang….
material yang di pilih yang sesederhana mungkin, seperti meneruskan bebatuan yang sudah ada
memberi tanaman yang memang familiar dan tumbuh banyak di sekelilingnya
sentuhan interior diperlukan seperlunya..dengan pengolahan material yang sederhana
inilah yang memberi kekuatan baru….
baja, kaca, batu, kayu...





Tuesday, February 12, 2013

On Preparation "Srites" 2013



sprites place
Memahami sebuah tempat itu sama sulitnya dengan memahami orang lain, semakin sering kita menjumpainya…maka semakin dekat secara psikologis kita akan mengenal tempat itu...
memahami tempat kita juga harus mengenal sejarah…membaca bebatuan, kerikil di sekitarnya
maupun mengenal pemiliknya serta memahami sejarah akan tempat..

sehingga dengan dasar itu kita bisa mengendus seperti anjing atau bahkan dapat merekam
kekuatan dari sebuah tempat...

understanding the spirit of place…. sebuah usaha yang sebenarnya harus dilakukan seorang arsitek

saya menemukan meja mutoh…sebuah mesin gambar jadul…merupakan sebuah mesin yang bersejarah
yang membuat arsitek jaman dulu mengalami pahir getirnya menggambar diatasnya
meja ini lebih dari pacar setiap hari kita tidur bersamanya…tapi di era globalisasi ini
ketika computer aided design semakin mudah dan murah…mesin ini telah digantikan
dengan seperangkat komputer dengan layar 13 inch kita sudah bisa merancang 
kawasan berhektar-hektar…
mesin ini memiliki kekuatan…ya itu memberi ingatan baru soal bagaimana 
kita seorang arsitek berjuang menggambar dengan teliti
mungkin juga dengan kertas kalkir yang mahal dan juga pena rapido dan tinta semuanya made in Germany….hmmm

Kami bersama Yoka Sara sedang beramai ramai mengendus sebuah tempat…
memahaminya dari ujung ke ujung…sebuah skenario yang dirahasiakan
sebuah kejutan di akhir february...

Kita menemukan meja mutoh, mobil-mobil bekas…meja kursi rumah tua, bale-bale…gudang
semuanya berteriak-teriak, ada yang ingin dipindah ada yang tidak…
sawah saya lihat hanya diam, matahri juga pasrah kalau mau di pindah..

Kita harus mampu menampilkan sebuah ruang yang tak terduga….sebuah aktifitas seni..bahkan sebuah ritual yang harus mampu dibaca dan diolah kembali oleh indera kita  
sehingga kita semua harus terkesima barang lima menit saja…
sebuah perenungan artistik…
(Budi Pradono)
untuk seluruh tim yang sudah bekerja keras sekian lama: Yoka Sara, Iwan Sastrawan, Pranita Dewi, Suklu, Agus Pande, Monez, Weka, Tompel, Ketut, Dina, Ayip, Suklu, klick dan lain-lain.


Mengunjungi Yokasara Studio di Bali (budi pradono)


Mengunjungi studio milik Yoka Sara di jalan Durian Denpasar merupakan sebuah pengalaman
untuk memahami proses kreatif dari salah satu arsitek modern dari Bali. Sosok Yoka Sara tidak pernah diam, dia selalu gundah dengan pengalaman kreatifnya….dia berusaha keluar dari belenggu arsitektur yang terukur tetapi pencariannya merambah ke seni yang lain, seni pertunjukan, seni tari, puisi, maupun   patung…di sekeliling ruangnya penuh dengan potongan patung manusia, atupun lukisan…dia mencoba berkolaborasi dengan banyak seniman / arsitek untuk demi merealisasikan sebuah "event" yang sulit untuk diceritakan...
inilah sebuah usaha untuk membebaskan diri dari dunia arsitektur yang terlalu teknis…
menuju seni arsitektur yang lebih cair yang responsif pada kenyataan senyatanya di sekitarnya
yang responsif pada suara di sekitarnya ataupun bunyi-bunyian dikelilingnya...
dia berusaha memainkan rasa tapi juga ritme…timing maupun seni gerak, seni olah tubuh..seni bunyi-bunyian…ini adalah bagian arsitektur yang tidak bisa ditafsirkan begitu saja…
tapi harus dirasakan…alam juga perlu didengarkan kemudian hadirlah sebuah expresi, 
berbagai lontaran gagasannya harus dirasakan tidak dengan nalar kita..
tetapi dengan rasa...
bentuknya merupakan sebuah abstraksi…jika hujan datang harus dianggap sebagai bagian dari kenyataan, tidak perlu dihindari atau diantisipasi…
tetapi direspon dengan tubuh kita dengan expresi jujur kita…
inilah sebuah usahanya menginterpretasikan relasi macrocosmos dan microcosmos kita
sebuah ruang tanpa arsitektur, seperti sebuah upacara yang saling merespon
Yoka Sara juga mencoba mempertanyakan tubuh…relasi nya dengan alam dengan gerak
maupun dengan material alamiahnya...
Kita akan menunggu sebuah surprise….sebuah ruang atau 
sebuah dialog antara manusia dan alam
Penghayatan akan alam dan pengalaman pengalaman artistiknya secara bawah sadar 
telah membebaskan arsitektur…menjadi beyond architecture….
sebuah usaha yang patut dihargai (Budi Pradono)