Thursday, January 18, 2018

Perkembangan Arsitektur Indonesia dalam pengamatan arsitek Indonesia Memahami sejarah demi melahirkan kekinian Oleh: Budi Pradono

Perkembangan Arsitektur Indonesia dalam pengamatan arsitek Indonesia
Memahami sejarah demi melahirkan kekinian[1]
Oleh: Budi Pradono[2]




Pengantar
Untuk memahami perkembangan arsitektur Indonesia sebenarnya harus mendudukan arsitektur Indonesia di dalam konteks sejarah. Pengetahuan akan sejarah, baik sejarah arsitektur Indonesia maupun sejarah arsitektur barat akan memposisioning-kan para pelaku praktisi arsitektur di dalamnya. Hal ini penting disadari agar semangat untuk menghadirkan inovasi, semangat untuk menghadirkan kebaharuan atau kekinian akan terus menyala yang selalu berkolerasi dengan lifestyle, kehidupan masyarakat middle class di kota-kota besar di Indonesia maupun juga dengan kemajuan komunikasi dan tehnologi. Hal ini dengan jelas telah merubah cara berpikir, strategi inovasi, maupun dalam penggunaan material baru yang semakin hari semakin melewati batas-batas geografis suatu negara. Tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian yaitu; Arsitektur Kolonial dan Arsitektur Indonesia, Arsitektur Paska reformasi 1998, Arsitektur Nusantara dan arsitektur Hijau. Arsitektur dalam praktek di studio BPA, dan yang terakhir adalah Arsitektur masa depan era Jokowi.

1. Arsitektur Kolonial dan Arsitektur Indonesia
Arsitektur Kolonial saya definisikan sebagai arsitektur jaman penjajahan Belanda. Setelah diamati secara seksama Kota Jakarta pada abad ke 18 ternyata memiliki kesamaan sejarah dengan kota New York. Pada masa itu Belanda sudah mencanangkan Jakarta sebagai kota maritim yang tidak berbeda dengan kota Amsterdam di Belanda maupun Manhattan di New York, Amerika Serikat. Pada masa pra kolonial pada abad 12 hingga abad 16 sejak Kerajaan Pajajaran yang diberi nama Sunda Kelapa pada pantai utara Jawa, yang terletak di hilir Kali Ciliwung. Namun kerajaan Padjajaran ini tidak dapat bertahan lama ketika pada tahun 1527 Sultan Hassanudin menyerang dan menguasai Banten dan Sunda Kelapa. Sejak tanggal 22 Juni 1927, Fatahillah merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (bahasa sanksekerta berarti Kota yang Jaya).  Disebutkan dalam buku Dumarcay pada abad ke 17, Jayakarta memiliki populasi kira kira 10.000 orang.
Kita bisa melihat  bahwa orang orang Belanda  (VOC) mencoba mengimplementasikan grid kota Batavia berukuran 2,250 m panjang dan 1500m lebarnya, berdasarkan rancangan Simon Stevin tentang ‘Ideal city plan’ yang terinspirasi dari buku Saint Agustine diimplementasikan pada tahun 1650 berupa Batavia city plan. Dengan kanal-kanal yang mirip kota Amsterdam.[1]







Gambar1. Batavia Belanda tahun 1981, dibangun di daerah yang sekarang disebut Jakarta Utara.
Sumber ; http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company . Diakses tanggal 26 Oktober 2014 pukul 19.20 WIB

Pada tahun 1740, ketika VOC, Belanda berusaha mengurangi populasi masyarakat China keturunan yang tinggal di Jayakarta, dengan kebijakan untuk memulangkan para pelaku kriminal ke negaranya sekaligus melarang kedatangan orang-orang China baru, hal ini menyulut kemarahan masyarakat keturunan China di Jayakarta, perlawanan ini mengakibatkan terbunuhnya hampir ribuan orang-orang China yang tinggal di Batavia. Pada tahun 1799 masyarakat China dapat kembali tinggal secara aman di daerah Wetevreden area di luar Benteng kota Batavia.Gambar 2. Kota Amsterdam 1650 – 1660.

Sumber ; http://www.nc-chap.org/castello/index.php . Diakses tanggal 26 Oktober 2014 pukul 19.25 WIB

Dari sejarah di atas dapat kita simpulkan bahwa situasi politik dan kerusuhan pada abad 17 tersebut mempengaruhi perubahan penataan kota sekaligus mempengaruhi model permukiman setempat. Pemindahan kota administrative Batavia ke kawasan Weltevreden dan Koeningsplein sekarang menjadi Lapangan Banteng dan Monas, sebenarnya di titik itu Jakarta mulai meninggalkan ciri kota Maritim sehingga dalam perkembangannya kawasan hinterland seperti, Sudirman, Thamrin, dan Casablanca berkembang pesat sebagai pusat perdagangan, [1] sementara pusat kota yang lama jadi terabaikan.

Jika kita pelajari dari sejarah situasi di Batavia masa itu juga terjadi di New York Sungai Hudson di New York ditemukan oleh Henry Hudson pada tahun 1609. Pada tahun 1623 ada sekitar 30 keluarga yang berdatangan ke kota Manhattan di antara mereka ada seorang insinyur Belanda bernama Cryn Fredericksz, yang membagi tanah di kota Manhattan menjadi beberapa parcel.[2]

Kota Manhattan dibagi dalam ‘grid’ kota, penduduk lokal lebih suka menggunakan ukuran ‘block’ seperti misalnya dua blok atau lima blok dari satu tempat. Biasanya di kota New York, 1 miles sama dengan 20 blok. ‘A few  block’ berarti jarak yang dekat dan bisa jalan kaki saja. Sistem grid di Manhattan telah dilaksanakan pada tahun 1811 melalui satu undang-undang di Dewan Legislatif New York yang dikenal sebagai Commissioner’s Plan of 1811. Grid kota Manhattan tersebut merupakan cikal bakal urbanisme dimana kepemilikan dalam satu blok terdiri dari kepemilikan publik, jalan dan serta kepemilikan


[1] Kemas Ridwan Kurniawan, PARADOX, Sebuah Naratif Tentang Arsitektur dan Urbanisme di Indonesia Pasca Reformasi, pidato pengukuhan guru besar tetap bidang arsitektur UI; Kurniawan mengungkapkan bahwa kawasan kota lama kini adalah representasi dari pertarungan ruang (‘spatial contestation’)antara para reformist dan revitalist antara formalist, capitalist, dan environmentalist.
[2] Delirious New York: A Retroactive Manifesto for Manhattan, New York, Monacelli Press, 1994; Rem Koolhaas, et al, S,M,L,XL, originally published by Oxford University Press 1978, New York: Monacelli Press 1995), dalam buku tersebut Rem Koolhaas dengan rinci menceritakan sejarah pembagian blok sebagai cikal bakal terbentuknya grid di kota Manhattan.





[1] Johanes Widodo; Jakarta: a Resilient Asian Cosmopolitan City, National University of Singapore, sumber : https://www.academia.edu/8451926/JAKARTA_a_Resilient_Asian_Cosmopolitan_City diakses pada tanggal 21 September 2014



[1] Disampaikan dalam Seminar arsitektur pada peringatan 50 tahun Universitas Pancasila di Jakarta Design Centre (JDC) Slipi, Jakarta, 27 Oktober 2014
[2] Budi Pradono (1971), anggota IAI professional, principal architect pada Budi Pradono Architects, firma arsitektur berbasis riset, direktur JADUL (Jakarta Digital Urban Lab), saat ini ditunjuk sebagai curator untuk pameran Austellung 70’s bad di Sciltach, Jerman 2014-2015, ditunjuk sebagai advisor pada pengembangan industry creative bidang desain dan arsitektur antara Indonesia dan UK.

Monday, September 4, 2017

Belajar Kayu di Hutan Mikata-Gun




© Sigit Ashar



Mendaki gunung, lewati lembah

Sungai mengalir indah ke samudra

Bersama teman berpetualang

- opening song Ninja Hattori produksi Indonesia-






18 Mei 2017, pada penghujung musim semi, berada pada masa peralihan ke musim panas, udara di sini sudah mulai menghangat. Berangkat dari daerah Toyo-Oka, kami menyusuri daerah hutan konservasi Mikata-gun di perfektur Hyogo. Stasiun Yoka pukul 8 pagi, sinar matahari pagi sudah mulai beranjak dari ufuk timur menyinari setiap sudut stasiun kecil yang jauh dari hiruk pikuk “keributan” kota. Disambut nostalgia dengan bangunan kecil stasiun Yoka  bermaterialkan kayu, terbersit kenangan de-javu kecil bangunan-bangunan lama yang mulai terlupakan di masa kecil, atau kenangan kecil dari ingatan film anime dari negeri seberang ini. Petualangan kita hari ini akan dimulai dari sini. 


© Sigit Ashar


Stasiun Yoka sebagai check-point pertama perjalanan hari ini berada tepat di kaki dataran tinggi hutan Mikata-Gun, disambung oleh bus lokal daerah tersebut, perjalanan ini akan mejadi jalan yang panjang, secara fisik dan mental kami telah bersiap untuk melakukan perjalanan ini. Melihat dari hasil observasi kami sebelum melakukan perjalanan ini, medan kali ini merupakan objek yang secara aksesibiltas adalah yang paling berat. Bus telah siap membawa kami  beranjak dari tempat tersebut. Pemandangan kaki gunung dan pedesaan menghiasi perjalanan kita, jalan berkelok dengan lebar jalan yang hanya cukup untuk melintas 2 bus, sesekali kami melihat sebuah pedesaan kecil di bawah gunung, namun hamparan luas lahan pertanian dan perkebunan mendominasi indra penglihatan kami selama perjalanan ini. 
Kode dari supir bus memberikan tanda kepada kami bahwa bus telah sampai di pemberhentiaan bus yang paling dekat menuju ke objek tujuan. Sebuah halte kecil terlihat seperti sebuah gubug menjadi penanda pemberhentian bus tersebut, gubug itulah check-point ­kedua kami. Hamparan sawah dan hutan berada tepat di depan kita, di sanalah kita akan berjalan. Perjalanan mendaki menurut aplikasi Google Maps menempuh jarak sekitar 3,3 km memakan waktu kurang lebih 58 menit, namun entah karena medan yang berat atau beban kita terlalu berat, perjalanan tersebut kami tempuh kurang lebih hampir dua jam dari check-point kedua menuju objek di kawasan hutan Mitaga-Kun.



Kawasan hutan Mikata-Gun merupakan area konservasi alam perfektur Hyogo, artinya semua hewan dan pohon di wilayah tersebut masuk dalam lindungan pemerintah. Rimbunan pohon memayungi perjalanan kita mendaki dari check-point kedua kami menuju ke objek tujuan, walaupun secara alamiah hutan di sini tidak dapat dibandingkan dengan keindahan hutan di Indonesia namun kebersihan dan kerapian serta keteraturan sangat patut untuk dipresiasi lebih,mungkin hal tersebut sudah menjadi kelumrahan warga di Negara ini. Bagaimana perawatan hutan yang sangat terjaga serta kebersihan objek konservasi ini sangat baik. Kami sesekali berhenti untuk menenggak air minum sejenak sembari melihat alam sekitar, sangat terlihat bagaimana sangat rapi dan teraturnya hutan tersebut, sehingga masih sangat terjaga kealamiahannya, sesuatu yang patut dijadikan preseden yang baik. 




© Sigit Ashar

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, kami berjalan semakin mendekati objek tujuan, rasa penasaran dan lelah yang telah sangat terasa mebuat kami semakin tidak sabar untuk sampai di objek tujuan. Apakah objek tersebut sepadan dengan perjalanan panjang yang sudah kami tempuh ini? Apakah objek ini mampu menjawab rasa penasaran kami? Apakah di sana ada tempat berjualan makanan dan minuman? (Karena kondisi saat itu persediaan cemilan dan minum sudah sangat terbatas), mungkin itulah sebagian rasa penasaran kami terhadap objek tersebut.

Tepat pukul 12.00 akhirnya kami memasuki kawasan objek tujuan kami, “Wow..! ada UFO mendarat di tengah hutan”, itulah kesan pertama saat memasuki kawasan Museum of Wood di hutan Mikata-gun, perfektur Hyogo, mengomentari sebuah bangunan raksasa dengan bentuk bulat yang mencuat di tengah rimbun pepohonan. Apa yang dipikirkan sang maestro dalam mendesain museum tersebut di tengah hutan yang sangat susah untuk diakses. 


© Sigit Ashar

Museum of Wood karya sang maestro arsitek Jepang Tadao Ando dapat dikatakan adalah sebuah antithesis dari semua karya-karyanya yang terkenal oleh beton Ando-nya, museum of wood menggunakan material kayu sesuai dengan peruntukan bangunan tersebut yaitu sebuah bangunan museum untuk seni kayu. Karya tersebut menjadi sebuah statement dari Mr. Ando bahwa beliau mampu untuk bereksperimen menggunakan material kayu di dalam karyanya. Museum ini dibuka pada tahun 1994 didekasikan sebagai persembahan untuk perayaan hari kayu yang ke-45 untuk mengingat hutan yang hancur selama perang dunia kedua, sehingga wajar apabila sang Arsitek memberanikan diri bereksperimen menggunakan material “baru” tersebut. Komitmen terhadap konteks digariskan secara tegas terhadap pengambilan axis sebagai acuan desain bangunan, bahkan kita dapat merasakan keberadaan axis tersebut secara gamblang di lokasi.


© Sigit Ashar

Lay-out bangunan sederhana berbentuk bulat dengan diameter 45 meter dan sebuah core inner court dengan diameter sekitar 25 meter merupakan gambaran singkat yang mampu menggambarkan bentuk bangunan tersebut. Dipotong garis lurus tegas direpresentasikan oleh sebuah koridor penghubung bangunan utama yang memotong sama besar bangunan di tengah menuju sebuah area observatorium di ujung koridornya sebagai area gardu pandang, kita di ajak untuk melihat, merasakan hutan di kawasan sekitar bangunan tersebut berdiri. Sebuah kombinasi dan tranformasi bentuk geometris sederhana yang dieksekusi secara apik, sehingga tersajikan sebuah bentuk jujur dari sebuah karya desain arsitektural.

Ditampilkan secara gigantis seperti sebuah tempat pemujaan di tempat terpencil, bangunan ini memberikan efek kejut langsung terhadap pengamatnya, menjadi landmark untuk kawasan di sekitarnya, teringat sebuah desain karya dari Tadao Ando yang lain di kawasan pulau Naoshima, dimana beliau membangun sebuah komplek kawasan seni dengan dibangun banyak museum di pulau terpencil yang diharapkan menjadi motor penggerak wisata pulau tersebut. Apakah pendekatan yang sama dilakukan di dalam konsep desain bangunan Museum of Wood? Menjadi penggerak destinasi kawasan tersebut? mungkin dapat ditelaah lebih dalam lagi.



© Sigit Ashar


Disambut senyum ramah dari sang receptionist, kami mulai memasuki gallery Museum of Wood, pertunjukan lain disuguhkan oleh Mr. Ando di dalam bangunannya. Kolom-kolom kayu raksasa menjulang tinggi menyentuh langit-langit transparan menyuguhkan semburat sinar matahari menerangi karya-karya seni kayu di bawahnya. Sederetan karya seni dan beberapa ruang exhibition dan riset mengenai perkayuan dinanungi oleh kolom-kolom raksasa tersebut.  Kolom-kolom raksasa penegas betapa terdepannya Mr. Ando dalam eksplorasi material kayu untuk bangunan ini, tiang yang disusun dari susunan bilah-bilah kayu merepresentasikan begitu rapihnya dan teraturnya pertukangan di sana. Bentuk yang merepresentasikan sambungan struktur kayu tradisional diolah secara apik dengan teknologi yang modern.



Tidak susah kami untuk mengeksplorasi setiap ruang-ruang di gallery tersebut, dengan bentuk lay-out sederhana tidak butuh waktu lebih dari satu jam kami sudah dapat melihat setiap ruang dalam bangunan tersebut. Berbagai macam seni kerajinan kayu dipamerkan di gallery tersebut, dari seni craft yang bersifat handy hingga seni kayu berbentuk bangunan disajikan di dalam gallery tersebut, dari seni kayu dari kawasan daerah tersebut hingga seni kayu dari manca negara disajikan di dalamnya dan tentu salah satu yang menarik adalah ditampilkannya model maket rumah Gadang dari Sumatera Barat turut dipamerkan. Terlihat bagaimana masyarakat Jepang sangat menghargai setiap karya seni perkayuan dari manapun, baik dari skala kecil hingga skala yang besar.

© Sigit Ashar



Tiba saatnya ketika rasa lapar sudah mulai terasa, kami harus segera turun ke bawah karena tidak adanya tempat untuk mengisi kekosongan perut kami. Jadwal bis yang sangat mengikat juga memaksa kami untuk beranjak dari karya sang maestro. Jalan turun masih panjang dan berliku, kita harus tetap sehat, tetap kuat, karena petualangan kami tidak berhenti sampai di sini.


© Sigit Ashar



Sigit Ashar, BPA

Friday, July 28, 2017

dua jam menengok Menara Kapsul




 We used to consider things that could live forever to be beautiful.

But this way of thinking has been exposed as a lie.

True beauty lies in things that die, things that change.
-Kisho Kurokawa

 © Chandra Tri Adiputra



Tokyo, 25 Mei 2017

Sudah pukul 8 malam dan mulai gerimis. Kami masih dalam perjalanan subway dari Stasiun Ryogoku ke Tsukijishijo, untuk bertemu Masato Abe.

Masato-san adalah pemilik salah satu unit kapsul di Nakagin Capsule Tower. Awalnya kami berencana menginap semalam di kapsul miliknya, yang disewakan lewat situs Airbnb dengan tarif ¥15.000 per malam. Lewat chat di app Airbnb, kami sampaikan bahwa kami tertarik untuk berkunjung ke Nakagin, salah satu ikon arsitektur metabolisme yang cukup terkenal. Namun, Masato-san menjelaskan kalau sekarang kami sudah tidak bisa menginap karena ada komplain dari para tetangga. Sebagai gantinya, Masato-san menawarkan untuk memberi kami tur singkat tanpa harus menginap. Kami pun mengiyakan kesempatan langka ini.

Pukul 8.15 kami sampai di Nakagin. Ada dua tower A dan B yang berlantai 13 dan 11 plus 1 lantai basement. Kami diajak masuk melewati lobby, Masato-san memberi salam ke seorang bapak di meja resepsionis, naik lift yang masih berfungsi baik ke lantai 10 tower B, ke kapsul milik Masato-san : B1004.

© Stephanie Monieca

Di dalam kapsul, kami mengambil foto sambil mendengarkan penjelasan dari Masato-san mengenai Nakagin, diawali dengan fakta bahwa Nakagin adalah model pertama dari hotel kapsul yang sekarang menjamur di seluruh Jepang.
Nakagin Capsule Tower selesai dibangun di distrik Ginza pada 1972. Waktu pembangunan cukup singkat, karena setiap kapsul sudah diprefabrikasi di pabrik railroad vehicle di Prefektur Shiga. Masing-masing kapsul diangkat dengan crane dan dipasang ke core bangunan manggunakan 4 buah baut mutu tinggi. Kapsul dibentuk dari truss baja ringan yang dilas, dibungkus dengan panel baja galvanis, dicat anti karat, dan disemprot kenitex (plastik tahan air).
    

© Kisho Kurokawa, architect & associates

Dari kabinet yang penuh mengisi salah satu sisi ruangan dan laci di bawah tempat tidur, Masato-san mengeluarkan setumpuk poster dan buku koleksinya. Semua tentang Nakagin. Mengagumkan. Bukan hanya itu, ia juga menunjukkan berbagai artwork bertema Nakagin : lego, boneka flanel, sulaman cross stitch, dan yang paling cantik : lampu berbentuk maket Nakagin Capsule Tower, yang dulunya diberikan pada penghuni sebagai merchandise.

© Stephanie Monieca

Di poster-poster iklan jadul, terlihat kalau target pengguna kapsul ini adalah 'modern businessman' : para komuter yang bekerja di Tokyo. Kapsul ini didesain sebagai rumah sementara bagi para pekerja agar tidak harus menghabiskan waktu pulang pergi setiap hari. Pada 1970 dipasarkan dengan harga ¥3.400.000 per kapsul dan terjual habis dalam 6 bulan.

© Nakagin Co.

Ukuran setiap kapsul 2.3 (w) x 3.8 (d) x 2.1 (h) meter dengan satu jendela Plexiglass bulat fixed berdiameter 1.3 meter. Dengan luasan kapsul yang luar biasa kecil, setiap senti diperhitungkan untuk bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sangat efisien dan ergonomis, sama sekali tidak ada ruang yang tidak terpakai.
    

© Kisho Kurokawa, architect & associates

Modul-modul kabinet built-in bisa di-custom sesuai kebutuhan pemilik unit kapsul. Kapsul B1004 dilengkapi lemari es, televisi, dan semacam jam digital; sisanya difungsikan sebagai storage. Tapi sebenarnya pemilik bisa memilih kelengkapan lain seperti telepon, radio, stove, dan bahkan reel to reel tape deck yang sangat up-to-date pada zamannya.

© Stephanie Monieca

Salah satu pintu kabinet penyimpanan bisa dilipat ke bawah dan digunakan sebagai meja. Bila sedang tidak digunakan, bisa dilipat kembali ke atas supaya tidak menghabiskan ruang.
    

© Chandra Tri Adiputra

Masato-san lalu menarik keluar laci penyimpanan dari bawah tempat tidur. Dan yang membuat kami 'surprise', pada laci pertama terpasang tali tambang untuk menarik keluar laci kedua yang posisinya lebih dalam. Di dalamnya tersimpan selimut hijau asli yang dulu diberikan Nakagin untuk para pemilik kapsul.

© Stephanie Monieca

Area dapurnya sangat compact. Sink bisa ditutup saat tidak digunakan dan ada lemari es built-in ukuran mini yang masih berfungsi. Ada opsi untuk menambah stove, tapi pemilik sebelumnya tidak mengambil opsi ini. Memasak masakan heboh nampaknya tidak dipandang sebagai bagian lifestyle masa depan.

© Chandra Tri Adiputra

Kamar mandinya sangat kecil (sekitar 1.7 x 1.1 meter, kurang lebih sama dengan kubikel toilet di mall!) tapi sangat ergonomis, materialnya washable plastic yang dicetak. Tetap ada bathtub sebagai bagian dari lifestyle orang Jepang.


Keringat kami bercucuran. Di dalam kapsul terasa panas dan pengap. Beberapa kali Masato-san membuka-tutup pintu. Karena jendela tidak bisa dibuka, tidak ada pengudaraan alami. Selain itu, sistem pengudaraan sentral Nakagin Tower sudah tidak bisa difungsikan karena ducting sudah rusak di beberapa tempat dan dikhawatirkan sudah terkontaminasi asbestos. Nakagin masih menggunakan asbestos sebagai insulasi dan fire protection, tepat sebelum pada 1975 asbestos dinyatakan berbahaya bagi kesehatan.

Beberapa kenyataan membuat kami miris. Pada 2007, mayoritas pemilik unit Nakagin memilih untuk meruntuhkan bangunan ini. Ironis. Nakagin yang pada 1972 begitu mengejutkan dunia arsitektur dan meraih berbagai pujian, hingga memproklamirkan nama Kisho Kurokawa sebagai seorang bintang; sekarang telah kehilangan rasa cinta dari publik.

© bdonline.co.uk

Pemanfaatan lahannya dianggap kurang maksimal untuk area Ginza yang memiliki nilai properti sangat tinggi (sekitar ¥30.000.000-40.000.000 per sqm). Bangunan ini juga minim perawatan : kebocoran yang sudah mulai terjadi sejak 1980, pipa-pipa yang berkarat dan bocor tidak bisa diganti baru karena posisinya sulit dijangkau. Aliran air panas sudah dimatikan sejak 2010 karena pipa-pipa yang rusak. Penghuni bisa mandi air panas di kamar mandi komunal di lantai dasar atau memasang pemanas air sendiri.

Oleh Kisho Kurokawa, setiap kapsul direncanakan untuk diganti baru setiap 25 tahun. Namun sayangnya ini tidak berjalan sesuai rencana. Tidak ada lagi perusahaan yang memproduksi kapsul. Selain itu, akan sulit untuk mengganti kapsul yang berada di lantai bawah tanpa terlebih dahulu melepas kapsul-kapsul di lantai atas. Dengan kata lain, kapsul-kapsul ini mungkin baru bisa diganti bila dilakukan secara keseluruhan, tidak bisa satu per satu. Perkiraan dana untuk restorasi adalah sekitar ¥8.000.000 per kapsul atau ¥1.200.000.000 untuk semua kapsul.

Masato-san bercerita, pada tahun ini masih ada sekitar 20 dari total 140 kapsul yang difungsikan sebagai tempat tinggal atau bekerja. Sisanya ada yang difungsikan sebagai gudang atau dibiarkan kosong dan rusak.

 © Ana Luisa Soares and Filipe Magalhães, © John Enos

Masato-san-san bukan seorang arsitek. Semua riset dan koleksinya ia kumpulkan karena jatuh cinta pada bangunan yang terancam diruntuhkan ini. Pada tahun 2014, Masato-san memulai projek Save Nakagin Capsule Tower. Tujuannya adalah mengumpulkan donasi dari seluruh dunia untuk membeli kapsul-kapsul yang tersisa dan merestorasi Nakagin Capsule Tower.

Laman Facebook Save Nakagin Capsule Tower Project


Pukul 10 malam kami keluar dari Nakagin, beramitan dengan Masato-san. Hujan makin deras. Orang-orang berpakaian rapi berjalan cepat menembus hujan dengan payung di tangan. Kami menyeberang jalan ke Stasiun Shimbashi. Menengok ke belakang, Nakagin masih terlihat dari jembatan penyeberangan. Siluetnya yang unik, jendela-jendelanya yang gelap.

Begitu banyak celaan terhadap Kisho Kurokawa dan Nakagin Capsule Tower : kesalahan perencanaan, kegagalan arsitektur, kerugian besar para pemilik kapsul, bahaya tertimpa puing bagi para pengguna jalan. Saat ini, nasib Nakagin masih tidak pasti.

Tapi kami, seperti juga Masato-san, tetap saja kagum pada kejeniusan Kisho Kurokawa. 45 tahun silam, Beliau sudah mampu merealisasikan bangunan yang kelak akan menginspirasi banyak karya lainnya, seperti hunian kapsul dan arsitektur prefabrikasi. Kisho Kurokawa berani untuk berinovasi dan mewujudkan visinya akan arsitektur masa depan. Di masa sekarang, perubahan dan perkembangan terjadi setiap saat, begitu pesat. Siapa yang bisa memperkirakan apa yang mungkin terjadi 20, atau 30, atau 40 tahun mendatang?

Berinovasi dan gagal seperti Kisho Kurokawa mungkin tetap lebih baik daripada diam dan sama sekali tidak berusaha mencari sesuatu yang baru. Sepanjang peradaban, manusia selalu belajar dari kegagalan.

 

Stephanie Monieca