Saturday, September 26, 2026

membaca Dash antara Cao Fei vs Rem Koolhaas pada pameran di Fondatione Prada

Ini adalah catatan dari kunjungan saya pada pameran dash di Fondatione Prada : 

Yang bisa dibaca dengan jujur adalah pertemuan dua metode, bukan transkrip halaman demi halaman. Koolhaas membawa riset Countryside yang ia kerjakan bersama AMO sejak 2012. Cao Fei membawa tiga tahun kerja lapangan di sawah Tiongkok selatan dan barat laut serta Asia Tenggara. Di katalog, keduanya bertemu pada satu pertanyaan yang sama: jika kota sudah terlalu sering dibicarakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di tanah yang memberi makan kota itu?

Mengapa keduanya diletakkan berhadapan

Pasangan ini bukan ornamen institusi. Gedung Podium tempat Dash dipasang adalah karya OMA. Sejak 2012 Koolhaas secara sistematis membalik fokusnya: bukan lagi hanya kota sebagai mesin peradaban, melainkan 98 persen permukaan bumi yang bukan kota. Tesisnya tajam. Kota, katanya, sudah menjadi zona yang relatif terduga. Perubahan paling radikal justru terjadi di countryside: otomasi pertanian, pusat data, gudang logistik raksasa, subsidi, migrasi musiman, eksperimen genetik, dan politik tanah. Dunia yang dulu diatur musim, tulisnya, kini “lebih volatil daripada kota yang paling cepat sekalipun.” 

Cao Fei datang dari arah lain. Ia anak pematung, cucu petani. Di Guangzhou ia tumbuh di celah 15 menit bersepeda antara kota dan desa orangtuanya—celah yang kemudian tertutup kompleks residensial. Trajektori karyanya berjalan dari pabrik (Whose Utopia, 2006) ke gudang logistik (Asia One, 2018) lalu ke lahan pertanian. Ketika ia menyebut Koolhaas di wawancara CURA, ia tidak sedang memuji arsitek. Ia sedang menempatkan Dash dalam silsilah yang sama: “Ketika Rem Koolhaas memandang Pearl River Delta di pergantian milenium, ia tidak hanya melihat arsitektur, tetapi eksperimen peradaban yang dipercepat. Saya berharap Dash tidak hanya tentang pertanian, tetapi tentang cara kita bernegosiasi dengan teknologi hari ini.” 

Jadi dialog itu bukan “seniman bertanya, arsitek menjawab.” Ia lebih dekat ke dua orang yang sudah lama mengamati mesin yang sama dari dua sisi: infrastruktur dan tubuh yang menghuninya.

Apa yang secara eksplisit masuk ke dialog itu

Wawancara Cao Fei di D la Repubblica merujuk langsung ke percakapan katalog. Intinya: di dialog itu ia berbicara tentang kembalinya warga kota ke pertanian dan tentang sektor yang semakin terdigitalisasi. Wartawan lalu menantangnya: di lapangan masih ada petani bertopi bambu dan bajak ditarik kerbau. Jawaban Cao Fei, yang ia kaitkan sendiri dengan isi dialog itu, adalah kata kunci seluruh proyek: sfasamento—kesenjangan tempo. 

Petani bertopi tradisional, katanya, bisa berdiri di ruang yang sama dengan orang yang menggulir ponsel di kereta cepat. Waktu tidak berganti secara rapi. Ia menumpuk. Yang kembali ke desa bukan hanya nostalgia. Yang kembali adalah generasi muda dengan drone dan algoritma: “petani teknologis.” Tetapi tidak semua otomatis. Di sepanjang rel kereta drone dilarang terbang. Banyak praktik masih mengikuti ritme musim. Di negeri seluas Tiongkok, teknologi mutakhir menumpuk di dataran luas; di tempat lain metode lama bertahan. 

Itulah tulang belakang percakapan mereka, setidaknya dari sisi yang Cao Fei sendiri benarkan di depan publik: countryside bukan museum tempo dulu, dan bukan pula laboratorium masa depan yang sudah selesai. Ia adalah tumpukan waktu.

Dua peta yang saling menimpa

Koolhaas, dalam Countryside, The Future di Guggenheim (2020), membawa traktor otonom ke trotoar Fifth Avenue. Ia memamerkan pertanian presisi, rumah kaca cahaya merah muda, desa Afrika yang meloncat pembangunan lewat ponsel dan drone, petani tua Jepang yang dibantu eksoskeleton AI, serta “sublime rural” baru: kotak-kotak bisu seukuran ratusan lapangan sepak bola yang dibangun untuk mesin, bukan manusia. Argumennya politis. Arsitek dan intelektual terlalu lama miopik pada kota, lalu kehilangan kemampuan membaca 98 persen sisanya. Ketahanan pangan, katanya hampir secara eksplisit, bisa menjadi judul alternatif pameran itu. 

Cao Fei mengisi peta itu dengan yang tidak cukup masuk bingkai arsitektur: dupa untuk drone, pita merah di badan mesin, kuil dari karung pupuk, lumbung yang menjadi bioskop, petani yang menyerahkan persepsi ruang dan penilaian risiko kepada antarmuka. Di Thailand, Vietnam, Kamboja, ia melihat mesin diperlakukan seperti dewa panen baru. Bukan karena petani naif. Karena yang tak terkendali masih butuh bahasa ritual. “Yang dihormati bukan mesinya,” katanya di tempat lain, “melainkan sifat teknologi yang asing dan tak sepenuhnya bisa dikuasai.”

Di sinilah gesekan produktif itu muncul.

Koolhaas cenderung membaca countryside sebagai sistem: skala, logistik, kebijakan, tipologi bangunan pascamanusia. Cao Fei membaca countryside sebagai hubungan: manusia–tanah–mesin–leluhur. Koolhaas melihat “new rural sublime” pada gudang dan pusat data. Cao Fei melihat arkeologi pertanian masa kini, tempat GPS berbicara dengan geografi ritual, dan AI saling melatih dengan pengalaman musim. Diagramnya untuk pameran itu bernama CHT Triad: Cosmos, Human, Technics. Bukan harmoni atau ketergantungan sebagai pilihan biner. Melainkan koeksistensi baru.

Petani muda, drone, AI, pangan

Bagian yang paling dekat dengan pengalaman Anda di buku itu adalah soal regenerasi desa. Koolhaas sudah lama mencatat bahwa countryside kehilangan penduduk, lalu diisi mesin, migran musiman, dan modal. Cao Fei menambahkan tokoh yang lebih spesifik: anak muda yang kembali, bukan sebagai petani romantik, melainkan sebagai operator sistem. Mereka tidak menggantikan kerbau dengan nostalgia. Mereka menggantikannya dengan armada.

Di lapangan risetnya, perusahaan seperti XAG menjadi studi kasus: drone semprot, kendaraan tanpa pengemudi, pembacaan kelembapan tanah, pemetaan satelit. Janjinya konkret: efisiensi, pengurangan kerja fisik, produksi yang lebih stabil di tengah iklim yang tidak lagi bisa ditebak, dan desa yang menua. Harganya juga konkret: pengetahuan turun-temurun bergeser ke perangkat lunak; hubungan tangan–tanah menjadi hubungan layar–lahan; siapa pemilik data panen menjadi pertanyaan politik baru.

Cao Fei menolak memilih “teknologi baik” atau “teknologi buruk.” Sejak alat pertanian pertama, katanya, manusia dan teknik tidak pernah terpisah. Yang berubah sekarang: teknologi tidak hanya menjawab kebutuhan. Ia menciptakan ketergantungan pada efisiensi yang sering melampaui kebutuhan itu sendiri. Di pertanian, ketergantungan itu sulit ditolak karena krisisnya nyata: desa kosong, iklim goyah, pangan harus tetap ada. Di situlah dialog dengan Koolhaas menjadi tajam. Koolhaas sudah memperingatkan bahwa countryside hari ini adalah “campuran toksik” eksperimen genetik, sains, nostalgia industri, imigrasi musiman, dan subsidi. Cao Fei menambahkan bahwa di dalam campuran itu masih ada orang yang membakar dupa sebelum menerbangkan mesin.

Mengunjungi Fondatione Prada

Dari Stazione Centrale, perjalanan ke Fondazione Prada terasa singkat: metro garis kuning M3 ke Lodi T.I.B.B., lalu jalan kaki sekitar sepuluh menit menuju Largo Isarco 2. Setiap kali gerbang itu terbuka, kompleks bekas distileri gin awal abad ke-20 yang diolah OMA ini selalu terasa baru. Ini kunjungan ketiga saya. Pamerannya berganti. Arsitekturnya tetap menuntut untuk dilihat pelan-pelan.

Yang paling menahan langkah saya kali ini justru yang paling dekat dengan kaki: finishing lantai kayu yang terbakar, gelap, berpori, hampir seperti arang yang sudah dipoles. Permukaannya tidak manis. Ia kasar secara halus, menyerap cahaya, dan membuat seluruh ruang terasa lebih dalam. Di sampingnya, cat dinding dan lapisan material lain bekerja dengan logika yang sama: tidak menutup sejarah industri bangunan, melainkan menahannya agar tetap terlihat. Beton, plester tua, kayu, logam, dan cat baru hidup berdampingan tanpa berusaha menjadi seragam.

Lalu ada bangunan yang selalu mencuri pandangan dari setiap sudut courtyard: gedung emas. Haunted House, bekas bangunan distileri yang seluruh fasadnya dilapisi daun emas 24 karat. Di siang hari ia tampak hampir tidak masuk akal: sebuah kotak industri yang tiba-tiba menjadi relik. Emas itu tidak merayakan kemewahan semata. Ia menandai perbedaan. Di antara plester kusam dan beton putih, bangunan itu berdiri seperti tanda baca.

Dari courtyard saya naik ke Torre, menara beton putih setinggi sekitar 60 meter karya Rem Koolhaas. Di atas, pemandangan Milano terbuka ke selatan kota: atap-atap terakota, jalur kereta Porta Romana yang sedang berubah, dan skyline yang jauh. Saya duduk dan memesan aperitivo spritz berwarna oranye yang khas. Warna itu, di ketinggian, terasa seperti perpanjangan cahaya sore. Minum di sini bukan hanya jeda. Ia menjadi cara melihat kota setelah melihat karya: Milano dari atas, setelah dunia dari dalam ruang pamer.


Over, Under and In Between: Mona Hatoum di Cisterna

Kesempatan paling dalam hari itu ada di Cisterna, tiga ruang tinggi yang dulu menampung tangki distileri. Di sanalah Mona Hatoum menempatkan proyek site-specific Over, Under and In Between (29 Januari–9 November 2026). Tiga instalasi. Tiga motif yang sudah lama hidup dalam karyanya: jaring, peta, dan kisi.


Di ruang pertama, jaring laba-laba dari bola kaca tiup tangan tergantung di atas kepala. Indah, rapuh, hampir kosmis. Hatoum sendiri pernah menyebutnya sebagai tetes embun sekaligus konstelasi. Jaring itu bisa dibaca sebagai rumah, bisa juga sebagai perangkap. Kita berjalan di bawahnya dan tiba-tiba sadar tubuh kita ada di antara: tidak di atas, tidak di bawah, tetapi di ruang yang rentan. 

Ruang tengah menampilkan peta dunia dari puluhan ribu bola kaca merah di lantai beton. Batas negara diabaikan. Yang tersisa hanya benua, dan bahkan itu pun tidak stabil: bola-bola kaca bisa bergeser, tumpah, kehilangan bentuk. Peta yang biasanya menjanjikan kepastian justru menjadi wilayah longgar yang mudah goyah.


Ruang ketiga menampung all of a quiver: struktur kisi logam yang perlahan ambruk lalu menegakkan diri lagi, dengan bunyi berderit yang hampir seperti napas bangunan. Karya itu tidak meminta kita “memahami”. Ia meminta kita berdiri cukup lama sampai tubuh ikut merasakan goyangan itu: antara runtuh dan berdiri, antara konstruksi dan kehancuran.


Hatoum, seniman Britania-Palestina yang sejak puluhan tahun bekerja dengan pengawasan, perbatasan, dan kerapuhan tubuh, membuat Cisterna terasa bukan sekadar galeri. Ruang bekas industri itu menjadi tubuh ketiga: kita masuk, berdiri di bawah, mengelilingi, dan baru kemudian mengerti judul pamerannya. Over, under, and in between bukan metafora. Itu posisi kita.

Dash: Cao Fei, drone, desa, dan dialog dengan Rem Koolhaas

Dari kerapuhan Hatoum, Podium membawa saya ke tempo yang sama sekali lain. Dash karya Cao Fei (9 April–28 September 2026) adalah hasil riset panjang di lahan pertanian Tiongkok selatan dan barat laut, serta Asia Tenggara: Thailand, Kamboja, dan kawasan sekitarnya. Judulnya merujuk pada desing cepat drone. Pamerannya merujuk pada sesuatu yang lebih pelan dan lebih besar: bagaimana pertanian cerdas, AI, dan mesin mengubah desa, tenaga kerja, dan ketahanan pangan. 

Lantai dasar Podium tidak terasa seperti museum. Ada lumbung, stasiun petani baru, kuil, hamparan padi, dan kebun pisang kecil yang dikelilingi panel surya serta peralatan pertanian pintar. Drone menggantung di udara ruangan seolah baru saja mendarat dari sawah. Batas antara instalasi dan desa sengaja dibuat kabur. Kita tidak hanya melihat teknologi. Kita masuk ke dalam ekosistem yang sedang dinegosiasikan ulang.


Yang membuat pameran ini begitu kuat bagi saya adalah ketegangan yang tidak disembunyikan. Drone dan algoritma menjanjikan efisiensi, mengurangi tenaga kerja berat, dan menjaga produksi pangan di tengah krisis iklim serta penuaan penduduk desa. Pada saat yang sama, pengetahuan tradisional bergeser, hubungan manusia dengan tanah berubah, dan desa tidak lagi hanya menjadi lawan kota, melainkan laboratorium teknologis. Cao Fei tidak membuat himne kemajuan. Ia membuat arkeologi pertanian masa kini: ritual lama berdampingan dengan sensor, dupa untuk hujan berdampingan dengan penghormatan pada mesin.

Katalog pameran memperluas percakapan itu. Di dalamnya ada dialog Cao Fei dengan Rem Koolhaas, arsitek kompleks ini, yang sejak 2012 meneliti countryside bersama OMA. Pertemuan itu terasa tepat. Koolhaas sudah lama menolak anggapan bahwa masa depan hanya milik kota. Cao Fei menambahkan lapisan yang lebih konkret: petani muda, drone, AI, industri pangan, dan pertanyaan tentang siapa yang akan memberi makan dunia jika desa berubah lebih cepat daripada cara kita memahaminya. 

Dua pameran ini, jika dilihat dalam satu hari, saling memantul. Hatoum berbicara tentang dunia yang goyah: jaring, peta, kisi yang ambruk. Cao Fei berbicara tentang tanah yang diatur ulang oleh data. Yang satu menahan tubuh kita di ruang rapuh. Yang lain menempatkan kita di depan mesin yang sudah bekerja di sawah jauh sebelum kita sampai ke Milano.

Keluar dari Podium, gedung emas masih menyala di courtyard. Lantai kayu bakar masih menahan jejak langkah. Di menara, sisa spritz oranye masih ada di gelas. Fondazione Prada, pada kunjungan ketiga ini, tidak memberi pengulangan. Ia memberi bukti bahwa sebuah tempat bisa tetap sama dan tetap mengejutkan, asalkan pamerannya jujur pada zaman, dan arsitekturnya cukup kuat untuk menahan pertanyaan baru.

Kalau Anda datang dari Stazione Centrale: M3 ke Lodi T.I.B.B., berjalan ke Largo Isarco, luangkan waktu lebih lama di Cisterna dan Podium, lalu naik ke atas. Biarkan kota kelihatan kecil dulu. Setelah Hatoum dan Cao Fei, pemandangan Milano tidak lagi hanya skyline. Ia menjadi pengingat bahwa yang rapuh dan yang produktif sedang terjadi di tempat yang sama: di bawah kaki kita, di atas kepala kita, dan di antara keduanya.

Milano Centrale pusat nadi kota Milan

Dari Verona menuju Milano, perjalanan itu terasa seperti berpindah dari dunia batu alam yang hidup ke sebuah katedral pergerakan. Setelah mengikuti Marmomac 2026 di Veronafiere—edisi ke-60 pameran batu alam, marmer, dan teknologi pengolahan batu terbesar di dunia—saya naik kereta ke utara. Acara yang baru saja berakhir 22–25 September itu masih meninggalkan jejak di kepala: blok-blok batu dari berbagai benua, mesin pemotong presisi, dan percakapan tentang masa depan batu sebagai material struktural, bukan sekadar hiasan. 

Setibanya di Stazione di Milano Centrale, langkah saya otomatis terhenti.

Fasade sepanjang 200 meter itu berdiri seperti gerbang kerajaan. Tiang-tiang raksasa, relief bersayap, kuda terbang, elang, dan ukiran batu yang rapat memenuhi permukaan bangunan. Skalanya bukan sekadar besar—ia monumental. Dirancang Ulisse Stacchini dan diresmikan 1 Juli 1931, stasiun ini mencampur Liberty, Art Deco, dan monumentalisme era itu menjadi satu pernyataan: perjalanan adalah upacara 


Di dalam, kesan itu makin dalam. Langit-langit berkubah kaca dan baja menjulang. Lantai mosaik, dinding berhiaskan relief, dan lorong-lorong lebar membuat orang secara alami menengadah. Ada yang menyebutnya “cattedrale del movimento”—katedral pergerakan. Saya mengerti mengapa.

Namun yang membuat saya kagum bukan hanya kemegahan lama. Milano Centrale adalah pertemuan dua zaman yang tidak bertabrakan, melainkan saling menopang.

Sistem tiket sudah digital: mesin otomatis, aplikasi, dan gerbang yang responsif. Di saat yang sama, di dalam “katedral” itu terdapat ekosistem modern yang hidup—kafe, toko, supermarket, hingga Mercato Centrale dengan puluhan counter makanan artisan. Warung-warung dan gerai di dalamnya tidak terasa seperti tambahan yang dipaksakan. Mereka menempel pada arsitektur tua tanpa merusaknya. Orang bisa membeli panini, kopi, atau oleh-oleh sambil tetap berdiri di bawah kubah yang sama yang sudah menaungi penumpang sejak 1931.


Koneksi ke metro pun mulus. Dari dalam stasiun, eskalator dan petunjuk “M” membawa langsung ke Linea M2 (hijau) dan M3 (kuning). Tidak perlu keluar ke hujan atau ke keramaian piazza. Stasiun ini benar-benar simpul: kereta jarak jauh di atas, metro di bawah, kehidupan kota di sekelilingnya. 

Setelah beberapa saat hanya berjalan-jalan di dalam hall—memandang ukiran, memperhatikan orang lewat, merasakan perpaduan batu, baja, dan layar digital—saya memutuskan tidak menginap di jantung Milano yang padat. Saya naik kereta regional ke Monza.

Perjalanan itu hanya sekitar sembilan hingga dua belas menit. Benar-benar sepuluh menit dari Centrale, seperti yang saya duga. 

Monza yang saya masuki bukan sirkuit F1 yang sering muncul di berita. Saya masuk ke kawasan perumahan yang tenang. Jalan-jalan lebih lebar, rumah-rumah lebih rendah, suara kota mereda. Setelah hari-hari di pameran yang ramai dan stasiun yang megah, keheningan itu terasa seperti hadiah.

Saya tidur satu malam di sana.

Tidak ada itinerary panjang. Hanya istirahat. Esoknya Milano dan apa pun yang menyusul masih menunggu. Tapi malam itu, setelah Marmomac dan setelah kagum pada sebuah stasiun yang mampu menampung sejarah sekaligus teknologi, saya hanya butuh tempat yang tidak berteriak.

Milano Centrale mengajarkan bahwa infrastruktur bisa menjadi karya seni. Monza mengajarkan bahwa setelah kagum, orang masih butuh tidur yang tenang. Perjalanan kecil dari Verona ke dua kota Lombardia itu, pada akhirnya, adalah tentang dua ritme yang saling melengkapi: yang monumental, dan yang diam.


Budi Pradono, Milan 26.09.2026


Monday, November 25, 2024

Fragmented Gate, Stasiun CSW by Budipradono Architects

Stasiun CSW


        Stasiun MRT Simpang CSW merupakan sebuah stasiun MRT yang didesain dengan tujuan integrasi moda pada kawasan Kebayoran Baru. Stasiun ini ditujukan sebagai penghubung antara moda BRT dan MRT sebagai salah satu transportasi publik. Desainnya sendiri dibuat sebagai sebuah bangunan yang menjadi simbol dan identitas landmark kawasan yang menghadirkan tipologi urban gate.

Konsep Bangunan Integrasi Transportasi Intermoda

        Bangunan menggunakan konsep dasar integrasi yang ditujukan sebagai bangunan penghubung transportasi di area Urban Kebayoran Baru. Moda transportasi yang dihubungkan sendiri adalah BRT dan MRT. Konsep integrasi sendiri merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk menciptakan keterhubungan bukan hanya pada elemen transportasi namun juga pada elemen antar fungsi bangunan yang hadir dalam kawasan site bangunan berada. Pengembangan konsep integrasi pada desain ini dihadirkan dengan menghubungkan elemen seperti sky bridge dan connecting platform. Dimana kedua elemen ini menciptakan keterhubungan antara jalur pejalan kaki dengan transportasi moda yang ada. Konsep lain yang berhubungan dengan pembentukan integrasi moda dalam bangunan ini adalah konsep rapid movement atau bisa juga disederhanakan menjadi sebuah konsep mobilitas dalam bangunan, dimana konsep ini memudahkan pergerakan user dalam menggunakan bangunan itu sendiri.

Konsep Desain 


         Bangunan sendiri menggunakan konsep desain yang berhubungan dengan penghadiran bangunan sebagai sebuah elemen hijau pada kawasan Kebayoran Baru. Bangunan dihadirkan untuk dapat memiliki sebuah kesatuan dengan alam, dimana hal ini dimaksudkan untuk menciptakan sebuah bangunan transportasi yang memiliki integrasi yang baik namun juga dapat menghadirkan sebuah bangunan yang ramah lingkungan. Sisi green building ini sendiri dapat dilihat dari kondisi desain massa bangunan yang memiliki fasad terfragmentasi, dimana fragmentasi dari bangunan ini dapat memberikan tambahan sistem passive cooling pada bangunan itu sendiri sebagai sebuah ventilasi raksasa yang dapat dialiri oleh angin. 


            Selain itu cahaya matahari juga dapat masuk lebih mudah ke dalam bangunan melalui prinsip pemantulan atau refleksi cahaya. Dimana cahaya direfleksikan melalui celah - celah fasad yang nantinya dapat menyebar kedalam bangunan itu sendiri, dimana hal ini dapat membantu mengurangi penggunaan artificial light dalam bangunan. Konsep lain yang dihadirkan dalam bangunan adalah konsep rapid movement yang berhubungan erat dengan bagaimana mobilitas dalam bangunan nantinya akan mempengaruhi bagaimana pergerakan pengunjung, akses, keterhubungan antar ruang, dan efisiensi ruang. Yang mana nantinya elemen - elemen itu sendiri akan berperan dalam seberapa cepat mobilitas dan pergerakan pengunjung hadir dalam bangunan. Konsep rapid movement merupakan salah satu konsep penting dalam perancangan bangunan intermoda. Elemen ini sendiri dihadirkan dalam bangunan melalui penciptaan elemen - elemen pergerakan yang tentunya mempermudah user untuk bergerak dan mencapai area tujuan. Elemen yang dihadirkan dalam bangunan sendiri berupa penghubungan area sky bridge yang terhubung dengan area retail, serta pemberian connecting platform yang menghubungkan area platform MRT dengan platform BRT.

Konsep Massing


           Konsep massing yang dihadirkan pada desain bangunan sendiri menggunakan konsep urban gate dan landmark and identity. Konsep massing ini digunakan untuk menghadirkan kesan sebuah bangunan yang memang merupakan identitas dan landmark dari kawasan Kebayoran Baru. Dengan menjadikan bangunan sebagai sebuah landmark kawasan tentunya dapat menciptakan sebuah penanda yang memang menjadi ciri khas dari site. Konsep urban gate sendiri sebenarnya merujuk pada penciptaan sebuah gerbang kota yang selain menjadi sebuah landmark juga menjadi sebuah tanda sebagai pintu masuk yang menghubungkan area luar dari kota atau kawasan kedalam area dalam kota atau kawasan tersebut yang mana dalam hal ini merupakan kawasan Kebayoran Baru. Stasiun ini dirancang dengan memberikan bentuk dinamis berupa lengkungan yang memberikan sebuah makna sebagai simbol baru yang hadir dalam kawasan yang memberikan kesan modern dan tidak monoton, selain itu bangunan ini juga memiliki fungsi lain yang dihadirkan untuk menjadi sebuah navigasi untuk mengarahkan aliran pejalan kaki dan kendaraan yang ada.

1. Fragmented skin
2. Urban gate + landmark and identity

Respon Desain


          Sebagai respon dari desain yang dilakukan pada bangunan sebagai bangunan integrasi tentunya diperlukan penghindaran penumpukan penumpang pada beberapa titik areal akses masuk maupun keluar dari bangunan itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, desain dan peletakan dari layout area drop off dalam bangunan sendiri diletakan pada area beradius sejauh 300 m dari pusat area moda. Dimana hal ini dapat mendukung pengurangan penumpukan penumpang di area - area tertentu pada jam sibuk. Area untuk drop off sendiri dibagi menjadi dua area berbeda berupa area drop off untuk taksi online dan area drop off untuk ojek online. Respon desain lainnya yang diterapkan pada bangunan sendiri adalah berupa respon terhadap kondisi iklim dan cuaca yang ada di kawasan Kebayoran Baru. Respon desain yang dihadirkan dalam bangunan berupa pengolahan fasad menjadi sebuah shading bangunan terhadap hujan dan terik matahari. Selain sebagai shading elemen fasad ini sendiri dapat dimanfaatkan menjadi sebuah elemen ventilasi masif yang berguna untuk membantu cooling dalam bangunan dan sumber pencahayaan alami.

1. Drop off taksi online radius 300 m untuk mengurangi penumpukan
2. Pembagian untuk sirkulasi penumpang dan pejalan kaki

Fasad Bangunan

        Fasad bangunan diciptakan dengan melakukan pengolahan desain melalui proses fragmentasi massa. Fasad bangunan diciptakan dari bentuk dasar persegi yang diolah kedalam bentuk lengkung sebagai penggambaran gate bagi jalur MRT kemudian dilakukan pemberian volume untuk merespon keadaan iklim kota terkait kondisi cuaca yang dapat berfungsi sebagai shading pada cuaca panas dan hujan. Fragmentasi yang dilakukan pada fasad bangunan juga berpengaruh pada respon bangunan terhadap cuaca dalam kondisi hujan sebagai area untuk pengaliran air hujan. Selain itu fragmentasi juga dilakukan untuk mengurangi kemasifan pada infrastruktur beton eksisting yang ada sehingga bangunan terlihat lebih ringan.


Sunday, November 24, 2024

Sebentang Nusa by Budipradono Architects

 Sebentang Nusa


Merupakan kantor lembaga penjamin simpanan Ibukota negara yang dibangun di Ibu Kota Negara untuk menunjang lembaga keuangan di Indonesia. Bangunan ini di desain dengan menerapkan konsep arsitektur kota yang dimana dapat menyesuaikan dengan desain masterplan dan pengembangan perancangan kawasan IKN, tidak hanya itu desain ruang luar menerapkan onsteks smart city urban forest dengan tujuan dapat meredam polusi suara dan udara.Design pada bangunan ini juga memiliki konektivitas dengan transportasi kota dan memberikan akses pejalan kaki yang nyaman.


Konsep Green Building


Dalam mendesain gedung LPS ini konsep yang ingin dihadirkan dalam bangunan sendiri dihubungkan dengan konsep desain kota IKN yang mengerucut pada konsep forest city dimana konsep ini berhubungan dengan konsep kota yang diselaraskan dan dikombinasikan dengan alam khususnya hutan. Untuk menghubungkan konsep forest city sendiri diambilah konsep green building sebagai konsep utama dalam bangunan untuk menghadirkan bangunan yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak buruk yang dapat dihasilkan bangunan terhadap lingkungan. Konsep ini dapat mendukung pengurangan penggunaan energi listrik serta pengurangan penggunaan alat pendingin ruangan yang dapat berpotensi dalam melepaskan emisi karbon ke lingkungan. Yang mana emisi karbon tentunya dapat sangat berbahaya pada lingkungan itu sendiri. Untuk mendukung konsep ini bangunan menggunakan elemen inner garden dan penggunaan konsep cross ventilation untuk mengurangi beban pendingin dalam ruangan yang dapat sekaligus digunakan sebagai view untuk bangunan itu sendiri. Selain itu konsep pasif energi juga didukung melalui penciptaan bangunan bermassa kubus dengan ukuran 30m, yang memungkinkan pemasukan cahaya natural kedalam bangunan untuk membantu mengurangi penggunaan artificial light sehingga dapat membantu pengurangan konsumsi energi untuk lighting.


Konsep Desain



Konsep forest city digunakan pada bangunan ini digunakan sebagai bentuk respon desain yang akan dilakukan pada pembangunan IKN itu sendiri, dimana konsep ini merupakan bentuk penyelarasan bangunan untuk membantu mengurangi dampak bangunan pada alam. Bangunan didesain untuk mendukung keberlanjutan untuk mengurangi kerusakan alam yang dapat menyebabkan perubahan iklim, polusi, dan bencana alam. Untuk itu di gunakanlah konsep green building.



Untuk pengerucutan dari konsep desain bangunan sebagai bangunan hijau, bangunan LPS didesain dengan menciptakan beberapa elemen seperti elemen terasan pada bangunan sebagai passive cooling dan shading pada bangunan, cross ventilation, inner garden, kinetic facade, dan terrace massing. Sistem passive cooling dan shading, konsep untuk pendinginan pasif dalam bangunan dihadirkan dengan menciptakan elemen shading pada bangunan melalui penciptaan massa bangunan yang memiliki sky terrace dimana pola massa bangunan disusun secara zig zag untuk menghadirkan elemen sky terrace yang dapat difungsikan menjadi sky garden untuk shading dan cooling bangunan, selain sebagai sistem pendingin sendiri elemen ini dapat menjadi elemen relaksasi bangunan bagi karyawan yang bekerja dalam bangunan. Sistem pendingin lain yang digunakan dalam bangunan adalah cross ventilation dimana sistem ini merupakan sistem yang digunakan untuk menciptakan kedinamisan aliran udara panas dan udara dingin dalam bangunan.

Sistem ini dihadirkan dengan menciptakan bukaan bangunan yang dapat dibuka dan ditutup untuk mendukung pengaliran udara alami dalam bangunan, udara dingin mengalir masuk ke dalam bangunan lalu keluar bersama udara panas melalui sisi ventilasi pada arah berlawanan. Sistem ini selain mendukung untuk sistem pendinginan bangunan namun juga dapat mengurangi konsumsi energi untuk penggunaan pendingin (AC) dalam ruangan. 



Untuk konsep lain dari passive energy, bangunan didesain menggunakan 3 massa utama yaitu 14 lantai paling belakang, 7 lantai belakang, dan 5 lantai dengan masing-masing lebar bangunan max. 30 meter sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam bangunan dengan optimal. Konfigurasi massa mengusung konsep in between yang terdapat inner garden diantara bangunan sehingga dapat mengoptimalkan sirkulasi aliran udara juga sebagai pendingin kawasan sekaligus komunikasi sosial antar pengguna. Konsep ini juga turut membentuk aksesibilitas konektivitas antar ketiga bangunan, dengan akses kendaraan yang dapat dijangkau dari ketiga sisi dengan pemisahan akses sepeda, juga terdapat adanya corner plaza sebagai penghubung pejalan kaki dan public transportation shelters dari sisi timur dan barat.


Konsep Massing



        Pada bangunan ini gubahan massa dengan tinggi bangunan hanya 7 level tidak menciptakan landmark.Gedung-gedung tampak setara,tidak ada hirarki dan tidak menjadi landmark suatu tempat.Maka dari itu gubahan massa dibuat menjadi 3 bagian, 14 lantai paling belakang, 7 lantai belakang, dan 5 lantai area depan.Tampak saling bersaing menjadi hirarki dan menjadi sebuah landmark. Tidak hanya itu, bangunan ini juga memiliki bentuk dasar basic box yang memudahkan konstruksi dan sangat efisien dalam pembangunan 6 bulan. Secondary skin yang diterapkan merupakan struktur independen membuat sejuk ruangan serta dibuat secara mengelilingi bangunan serta melebihi tinggi sesungguhnya sehingga menciptakan sebuah landmark. Tanaman palem & tanaman perdu digunakan sebagai lambang dari penghijauan pada daerah ini,pohon yang ditanam juga merupakan pohon yang mudah tumbuh dan minim perawatan.

Respon Desain



Untuk merespon kondisi lahan site  berkontur dan berada pada area lahan gambut, desain dari pondasi bangunan sendiri diadaptasikan untuk menyesuaikan site dengan menggunakan kayu besi kalimantan atau ulin sebagai salah satu elemen pondasi bangunan. Lahan gambut memiliki karakteristik tanah yang cukup lunak, dimana pada dasarnya memang kurang cocok dijadikan sebagai sebuah dasar pondasi untuk pendirian bangunan karena memiliki potensi terjadinya kegagalan konstruksi pada bangunan. Untuk itu kayu ulin digunakan sebagai elemen pancang yang dapat membantu menyokong pondasi tradisional bangunan dikombinasikan dengan raft foundation untuk mengurangi penurunan tekanan tanah. Respon lain yang ada pada bangunan sendiri merupakan penggunaan elemen kolom pilotis dan hanging platform sehingga bangunan dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan site yang berada pada area lahan berkontur.


Untuk Konfigurasi antar massing bangunan sendiri dibuat saling berjarak dengan inner garden ditengah diantara ketiga massa bangunan. Hal tersebut dirancang sebagai bentuk respon pasif energi guna cahaya dan sirkulasi udara dapat masuk dan mengalir kedalam bangunan dengan optimal sehingga dapat mereduksi thermal dalam bangunan secara alami juga mengurangi beban penggunaan energi pada bangunan hal ini juga didukung dengan penghadiran elemen green roof dan green facade.


Fasad



Fasad pada bangunan menerapkan strategi yang berkaitan dengan pasif energy. Dengan dynamic skin yang terbuat dari material perforated aluminium dapat menahan panas matahari dengan efektif tidak hanya itu dalam pemasangannya pun dapat dilakukan dengan cepat. Material Fasad menggunakan material perforated berwarna orange sebagai representasi dari lambang atau logo dari LPS. Kinetic facade terdiri dari alumunium berbentuk segi enam sebagai simbol kerja keras.  Green facade juga terdapat di beberapa lantai bangunan dengan memberikan planter box yang dapat mereduksi panas yang berlebih masuk kedalam bangunan dan menjadikan bangunan menjadi lebih sejuk. Konfigurasi massa bangunan dibagian podium menciptakan teras di beberapa lantai sebagai area rileks sehingga karyawan (user) lebih produktif dalam bekerja.


Project Credit


Stasiun Kota MRT JIS Jakarta


Lokasi                                  : Penajam Paser Utara

Design Phase                      : 2023

Type                                    : Sayembara, Gedung Pemerintahan

Architect                              : Budi Pradono

Firm                                      : Budi Pradono Architect

Project Architect in Chief    : Budi Pradono

Assistant Architect                  : Sigit Ashar Setyoaji, Muhammad Fadhil Hasairin, Fransisca Yongsi, Iqbal Nurhidayat

Studio Support                        : Ignasia Keren, Rahmat Diko, Kiara