Thursday, May 7, 2015

Architecture for Dog by Kenya Hara book review



























Santai Cube

Furnitur Rotan Santai Cube
Dengan karakter yang lentur dan kuat, rotan bisa menciptakan kemungkinan baru mendekonstruksi eksistensi furnitur tradisional yang tak hanya fungsional, namun juga membuat dinding, atap, obyek-obyek khusus, sekaligus ruang-ruang imaji anyar.
Pameran IFEX 2015 (Indonesia International Furnitur Expo) 2015 Maret lalu di Pekan Raya Kemayoran Jakarta adalah sebuah proyek eksperimentasi saya pada medium ekspresi berbahan rotan. Seperti kita tahu bahwa Indonesia melimpah dengan material ini.
Saya tertantang sebagai arsitek dan perupa membawa paras dan kekuatan rotan menjadi segugus instalasi seni, yang uniknya bisa untuk duduk & menyandarkan tangan. Bahkan, menciptakan suasana tubuh dan pikiran menjadi rileks setelah menikmati pameran stand-stand lain dari berbagai negara. Karena itu saya namakan Santai Cube, sebuah ruang persegi empat untuk tempat rileks.
Dalam pendekatan seni,  saya ingin menciptakan sensasi pada mata dan indera raba serta imaji-imaji khusus tentang ruangan.  Instalasi seni ini mengubah pandangan fungsional desain furnitur berukuran kecil sebatas meja dan sofa dan bisa jadi untuk tempat penerangan kap lampu, bahkan kemudian saya rombak total menjadi satu kesatuan sekaligus. Sambung menyambung membentuk imaji ruang gigantik tersendiri yang cukup luas, sekitar 8x 8 meter dengan ketinggian kira-kira 5,5 meter. 
Furnitur bagi saya bisa membentuk dinding dan atap yang transparan, jeruji-jeruji rotan telanjang terlihat tanpa ada finishing polish—yang sengaja saya lakukan dengan maksud elemen rotan alamiah hadir sebagai simbol kewajaran, selanjutnya saya beri sentuhan warna hijau dan oranye teduh. Saya berharap pengunjung stand Aida Rattan menemukan “oasis” untuk bersantai dalam belantara pameran IFEX 2015.
Saya berkolaborasi dengan Aida Rattan, produsen furnitur rotan dengan intensi menyesuaikan konteksnya dengan event ekspo dengan ciri bahwa stand Aida harus berbeda. Terutama memberikan nuansa cair, transparan dan ekstrovert. Sejak awal memang saya tidak menyukai furnitur yang membentuk obyek yang cenderung  terfragmentasi dan statis. Seharusnya, furnitur membebaskan, menciptakan ruang besar baru dan merangsang kesegaran-kesegaran paras materi rotan. Ini juga terkait erat dengan latar belakang saya sebagai arsitek, yang selalu ingin membentuk ruang-ruang hunian didalam obyek bangunan arsitektural.
Selain itu, obyek furnitur semestinya membentuk visualisasi yang plastis bahkan mungkin bisa “berdansa” dan mengajak pengunjung merasakan sensasi-sensasi ruangnya yang terhubung dengan fungsinya yang tradisonal, tetap menjadi obyek furnitur seperti  sofa dan lain-lain untuk duduk.
Furnitur pada kahirnya tidak hanya menarik dalam segi bentuk dan materi lokalitas, namun bisa menggugah cara pandang baru dalam mendekonstruksi tradisi desain rotan gaya lama. Dari perspektif itu, saya menantang produsen Aida Rattan yang telah 10 tahun mendedikasikan dirinya untuk mengeksplorasi kemampuan materi rotan Indonesia sebagai partner kerja. Saya mengeksplorasi sedemikian rupa materi rotan yang ditawarkan untuk eksperimentasi dengan menekuk, melipatnya, membiarkannya lurus dan membujur kemudian tiba-tiba saya berikan elemen seperti lengkungan tajam serta meliuk. Dari sana kita bisa dengan baik membandingkan kekuatan rotan yang sejatinya luwes mampu dieksplorasi dengan cara apapun, dibanding kayu yang cenderung tak terlalu kuat dan “rapuh” untuk format yang ekstrem.
Merespon pameran IFEX 2015, saya melihat sebuah tempat dengan misi trading dengan memperkenalkan produk dan item-item baru, yang biasanya bermuara pada penjualan. Saya berpikir untuk melakukan sebaliknya, tak hendak alergi dalam pengertian anti “menjual”, alih-alih saya mencobanya dengan membuat furnitur dengan konsepsi yang lain. Maka, yang dijual adalah konsepsi tersebut. Saya sangat tertarik bagaimana sebuah produk furnitur cenderung bersandar pada nilai-nilai konsepsinya; yang hendak disampaikan message nya, seperti artwork, sebuah karya seni.
Pada sisi lain, saya ikut prihatin dengan kondisi dunia desain Indonesia, bahwa sudah saatnya para desainer dan pemerintah bersinergi lebih kuat lagi, dengan mengambil fakta bahwa secara nasional ekspor kita senilai 1, 2 dolar masih tertinggal jauh dibanding negara dengan penduduk seperempat kali dari Indonesia, yakni Vietnam yang telah membukukan ekspornya di pasar rotan dunia dan menguasainya dengan nilai mencapai 6 milliar dolar. Saya tetap optimis jika bekerja bersama secara lebih intensif, para desainer, arsitek mungkin juga seniman dan produsen rotan kita tak akan pernah kalah dengan potensi luar biasa kekuatan ekonomi kreatif Indonesia dimasa depan.


Budi Pradono  

Tuesday, March 3, 2015

Sejarah Arsitektur, Keberpihakan dan Kekinian


Sudut pandang sejarah dalam arsitektur sangat penting untuk menemukan inovasi kekinian. Selain itu ada upaya merefleksikan keberpihakan sesuai semangat zaman. Sementara harapan baru tertanam di pundak Presiden Joko Wi dengan konsep Trisaktinya; yang bisa jadi memberi nafas baru model arsitektur kekinian.
Ikhwalnya arsitektur masa awal dibebani dua kutub saling berlawanan karena berbagai gejolak kepentingan dan fragmen politis. Yakni Arsitektur Kolonial dan Arsitektur Indonesia. Yang pertama, bisa ditelusuri pada abad ke 18 pada kota Jakarta. Pada masa VOC menguasai dua Kota, New York dan Jakarta, yang kemudian mencanangkannya sebagai kota maritim yang mirip dengan kota Amsterdam.
Kita bisa mengenali dengan kanal-kanal di wilayah Jakarta Utara dan morfologi yang khas dengan ciri urbanisme membagi ruang publik dan privat dengan jalan-jalan pedestrian saling terhubung. Wilayah Manhattan selama 200 tahun sama persis, bahkan tak berubah.
Pergolakan politik dan kerusuhan merebak pada 1740, yang mengakibatkan ribuan etnis Tiong Hwa tewas karena menentang kebijakan pengurangan populasi etnis ini yang diterapkan VOC. Dikemudian hari hal ini menciptakan perubahan besar penataan kota Jakarta dengan dipindahnya kota administrative Batavia ke kawasan Weltevreden dan Koeningsplein yang sekarang kita kenal sebagai Lapangan Banteng dan Monas.
Pada momen itulah Jakarta meninggalkan ciri kota Maritim dan berpihak pada pertumbuhan dan perkembangan kawasan hinterland seperti Sudirman, Thamrin, dan Casablanca sebagai pusat bisnis. Semakin kompleksnya zaman kemudian pada pertengahan abad 20 segala hal yang berbau kolonial dihilangkan, termasuk para sebagian besar arsitek, urbanis bahkan dosen-dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) berwarga negara Belanda yang dipulangkan kenegerinya.
Saat itu nasionalisme menjadi pedoman, bandul keberpihakan mengayun membuka kutub kedua: Arsitektur Indonesia. Presiden Soekarnolah yang merintis bangunan yang dikompetisikan, dengan rancangan arsitektur pemenangnya diimplementasikan sebagai simbol Negara, seperti gedung MPR-/DPR, Gedung Bank Indonesia, Masjid Istiqlal dan lain-lain.
Dari sana kita memahami arsitektur kolonial dengan arah Maritimnya diabaikan karena Jakarta mengalami kontestasi spasial politik tajam diantara pelaku-pelakunya yang dianggap reformis bersua dengan revitalis, kemudian andilnya kapitalis dan respon dari enviromentalis (Kemas Ridwan Kurniawan, Paradox 2012).


Keberpihakan Kapitalisme Liberal
Era Soeharto merubah haluan dengan keras dan 30 tahun menjadi mapan. Keberpihakan mengental pada kapitalisme model barat dengan momen booming minyak pada 80-an. Sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin hadir berderet gedung pencakar langit yang memiliki kemiripan bahasa arsitektural, bahasa kaca, yang hampir 85 % dirancang oleh arsitek Amerika. Inilah yang memicu hadirnya semangat baru di kalangan arsitek Muda Indonesia (AMI) yang mencoba bertindak berseberangan.
Tesis Anthony Giddens dalam “The Consequence of Modernity (1990)” benar-benar riil, bahwa kapitalisme modern membuka aibnya dengan penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa, penindasan oleh yang kuat pada yang lemah, ketimpangan sosial dan pengrusakan lingkungan. Pemicunya kapitalisme liberal yang mensyaratkan kompetisi tiada akhir dan pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Puncaknya Soeharto jatuh, eforia kebebasan ekspresi yang terkekang membawa kegamangan, karena adanya krisis ekonomi dunia dan Indonesia terimbas berat (1998) yang berakibat letupan emosi masal dengan aksi penghancuran, penjarahan dan kerusuhan hebat di Jakarta.
Di era SBY keberpihakan arsitektural penguasa belum memiliki pola tertentu yang jelas, meskipun kompetisi bangunan publik mulai diperbanyak. Namun substansi dasar membangun rumah susun maupun sekolah atau universitas belum diserahkan pada arsitek yang berkonsep khusus dan jelas.
Pada lima tahun pertama gedung pemerintah yang menonjol adalah gedung Kementerian Perdagangan yang pada saat itu dijabat menterinya oleh Marie Elka Pangestu, dan menunjuk arsitek DCM untuk merancang gedung tersebut dan memperoleh penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) award.
Lima tahun terakhir pemerintahan SBY (2010-2014) isu tentang Arsitektur Nusantara dan Arsitektur Hijau semakin menguat. Hal ini didorong oleh percepatan informasi sebagai efek globalisasi yang mengakibatkan ketidak seimbangan alam (fenomena  bencana bumi, tanah longsor, tsunami, banjir), yang menyebabkan para arsitek mulai memperhatikan kembali aspek-aspek hijau di setiap bangunannya. Salah satu pemicunya karena adanya sertifikasi hijau oleh lembaga-lembaga independen seperti LEED di Amerika Serikat.
Di sisi lain Arsitektur Nusantara banyak sekali mendapatkan perhatian. Mulai diangkat oleh almarhun DR. Galih Pangarsa dari Universitas Brawijaya, Malang serta Josef Prijotomo, seorang Professor dari Universitas Sepuluh November, Surabaya. Adapun arsitek praktisi yang sangat antusias menyelamatkan kembali Arsitektur Nusantara adalah Yori Antar (Yayasan Rumah Asuh) yang salah satu karyanya yakni pembangunan kembali situs tradisional di Wae Rebo 7 mendapatkan UNESCO Award dan diganjar sebagai finalis pada Aga Khan Award. Sebuah  penghargaan tertinggi arsitektur yang setara dengan penghargaan hadiah Nobel.

Keberpihakan Pada Trisakti
Presiden Indonesia yang ke tujuh Joko Widodo atau lebih populer dengan sebutan Jokowi yang baru dilantik tentunya memberikan nafas dan harapan baru bagi arsitek maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.
Jokowi dengan kabinet Kerja di jajaran kementeriannya acapkali mendengungkan amanat proklamator Republik Indonesia Soekarno dengan Trisaktinya, yakni kedaulatan di bidang politik, kemandirian ekonomi dan kepribadian budaya untuk bangsa ini. Mudah-mudahan ini mengisyaratkan keberpihakan yang sangat jelas dan lurus arah dan pola politik arsitektural kita hari ini.
Semangat Trisakti kelihatannya menyebadan dengan lakon Jokowi yang tumbuh besar sebagai masyarakat biasa dan tinggal di pinggir kali di Surakarta, dan pernah mengalami penggusuran. Tentunya keberpihakan dan empati yang sangat besar pada masyarakat marginal yang terpinggirkan ada padanya.  Terbukti ketika menjabat sebagai gubernur DKI selama 1,5 tahun telah membenahi banyak hal dengan program-program yang inovatif yang dilaksanakan dengan sangat cepat. Baik itu rumah susun (kampung deret) atau pembenahan Pasar Tanah Abang.
Sebagai presiden yang gemar blusukan dan mendengar detak suara rakyat,  tentunya dia diharapkan memiliki kebijakan setingkat nasional misalnya rumah susun bagi masyarakat perkotaan yang tidak mampu, selayaknya wajib dirancang oleh arsitek Indonesia yang terbiasa mendesain hotel berbintang dan dikompetisikan secara terus menerus.
Sehingga menghasilkan social housing/rumah susun yang lebih manusiawi pada masyarakat kecil dan tidak hanya asal kotak. Namun memiliki areal-areal publik yang lebih nyaman, adanya ruang bertanam sayuran dan taman mungil vertikal yang tersedia. Semua inovasi akan hadir sejalan dengan keterbukaan dalam perancangan desain arsitekturalnya dan menata kota dengan aspek memperhatikan lingkungan.
Kita berharap semua cetak biru pengembangan kota dirancang oleh ahlinya yang berkompeten dibidangnya dan konsep Trisakti benar-benar bisa terwujud di negara ini dan memberi inspirasi bagi arsitektur kekinian.


Budi Pradono

Thursday, November 20, 2014

Dancing Hotel by budi pradono architects







Kepejalan & Kerapuhan Pameran Seni Keramik

Oleh: Bambang Asrini Widjanarko

Menyaksikan sebuah hajatan besar seni dua tahunan memberi kesan tersendiri. Apalagi partisipan internasional lumayan memukau karyanya. Seniman lokal pun tak kalah untuk bersaing menyoal mutu.
Galeri Nasional akhir September sampai pertengahan Oktober ini cukup menarik perhatian publik seni dengan pameran seni Jakarta Contemporary Ceramic Biennale # 3, 2014 dengan tema “Coefficient of Exspansion”. Temanya dipilihkan para kurator dengan cara menggiring ide tentang materi dan menawarkan pada para seniman tertentu kemampuan untuk menafsirkan dan melompati batasan-batasan kaku yang disebut sebagai seni keramik. Sebuah areal yang bagi seniman adalah sumber untuk bereksplorasi dan memunculkan karya-karya yang tak terduga.
Perhelatan ini kelihatannya diselenggarakan dengan cukup teliti,  membuat pemetaan seniman dengan prioritas-prioritas khusus yang telah berjalan selama tiga kali perhelatan. Orang-orang yang terlibat pun cenderung sama  semenjak dirintis pada 2009. Mereka konsisten meriset, membangun konsep, mengundang dan menseleksi para seniman yang  melakukan kerja-kerja di studio tertentu (workshop) dengan kelompok pekerja seni keramik lokal dan kalangan “industriawan keramik”, serta seniman keramik manca negara, setidaknya setahun terakhir. Kerja yang cukup melelahkan tampaknya.
Kurator memasukkan karya-karya yang disajikan di pameran dengan kriteria-kriteria mana  yang dianggap  seni; dan mau tidak mau mengklasifikannya sebagai seni kontemporer. Selanjutnya mana yang dianggap “masih kriya” atau craft alias kerajinan belaka—seperti yang disebut di katalog asal-muasal seni bermateri keramik oleh para kurator dalam pandangan akademisi barat pada seni modern. Sampai yang terakhir mana yang masuk dalam arena industri, yakni desain. Sebuah area dimana porsi fungsional berskala besar diproduksi dan dekat dengan kebutuhan-kebutuhan instan budaya kontemporer hari ini.
Menjadi menarik jika kita amati mereka yang oleh para kurator didefinisikan “menerabas”, yakni dibebaskan yang tidak lagi mementingkan materi dan teknik baku dalam seni keramik, apalagi tidak harus diproduksi secara masal. Siapa lagi jika bukan para seniman-seniman kontemporer. Mereka tak harus dinilai berhasil atau tidak mengalami proses tahapan pembakaran keramik dari hasil karyanya  yang dikatakan sempurna. Atau,  bahan dasar tanah liatnya sesuai dengan standar keramik, atau yang dimasukkan kriteria apakah mereka memakai  materi khusus di tanah air yang bisa menghasilkan sebuah karya yang disejajarkan dengan porselain? Bahkan yang terekstrem, mereka bisa jadi awam sama sekali soal materi keramik.   

Sensasi Visual
Maka nama seniman kita seperti Dadang Christanto, perupa yang bermukim di Australia, cukup bagus dipresentasikan sebagai pembuka di gerbang utama galeri dengan  “Java (2011)”. Kita tidak lagi disibukkan dengan teknik dan materi pada Dadang, dan ia bukan atau masuk dalam kriteria seniman keramik, namun kekuatan konsep dan narasi visual yang diunggulkan. Dengan jelas visualisasinya menggiring pada aura kematian dan keterpurukan kemanusiaan dengan tumpukan kepala tengkorak dari tanah liat. Materi di karya Dadang pun menghablur dan pudar, karena kita melihat disana esensinya ia bercerita tentang pembantaian masal tahun 60-an di tanah air.
Citra yang ditampilkan Dadang segera berbalik sensasinya jika kita menemui karya Yuli Prayitno, perupa asal Jogja. Yuli tahu jika keramik selalu identik dengan sebuah materi yang rapuh, gampang pecah, meskipun dibakar dalam suhu yang tinggi. Maka ia tak harus menggagas sebuah narasi yang seheroik Dadang. Ia cukup mempermainkan kesan yang rapuh dengan kesan yang pejal, atau mungkin malahan kesan yang lebih dari pejal, yakni karet. Maka sensasi yang kita terima adalah gambaran kerapuhan yang molor dan mungkret. Karya yang menggambarkan seolah barang-barang antik dan kuno, mangkok dan piring keramik Tiongkok, tiba-tiba tatkala kita sentuh menjadi elastis dan kenyal. Sebuah karya cerdas yang terbuat dari dari karet silikon dengan judul “Handle With Care Not Fragile (2014)”.
Gaya mempermainkan sensasi optis dengan strategi seperti Yuli tapi di tampilkan “sesangar” kisah Dadang adalah karya milik Shamsu Muhammad. Perupa matang yang belajar keramik ke Jepang dari negeri Jiran, Malaysia ini membubuhkan judul “Enslavement (2014)”. Cukup terdengar mengerikan bukan?  Ia menceritakan sejarah perbudakan dengan ikon-ikon rantai, yang benar-benar pejal, padat, karena terbuat dari besi. Dan dikomparasi  dengan bentuk-bentuk keras lain dari logam, seperti pengait yang runcing. Semua itu kemudian dilawankan dengan bentuk menyerupai segitiga, sepertinya bentuk lonceng yang bermateri tanah liat nan rapuh. Hasilnya, dua materi ditumbukkan,  menawarkan kekerasan yang pejal “membunuh” kerapuhan di sisi lain.
Karya lainnya, bagaimana jika kesan “sakralnya” materi porselain dan citra lukisan klasik  disandingkan dengan sesuatu yang  sehari-hari; dan biasanya terbuat dari plastik dalam  produk-produk budaya urban. Seperti misalnya sebuah pengharum ruangan mencipta sensasi khusus. Anda akan menemui karya milik Wan Li Ya dari Tiongkok,  dengan “Birds Twitter and Flowers Fragrance (2014)”. Maka yang hadir adalah impresi yang sensitif  dan adiluhung menjadi remeh dan terabaikan. Tapi karya ini tetap istimewa karena bahannya terbuat dari porselain, yang menurut kurator pameran adalah jenis bahan dengan nilai “tertinggi” pada seni keramik-- ala seni modern; dalam artian  bukan fine art, tapi seni kriya yang paling bagus.  Maka karya milik Wan Li Ya dalam perspektif  seni kontemporer telah berhasil menciptakan paradoks. Menanyakan ulang, sampai dimana sebenarnya yang dikatakan yang tinggi dan adiluhung itu pada seni keramik itu?
Kerapuhan dan kefanaan manusia yang kerap menjadi tema di perhelatan seni kontemporer  coba disindir ulang di karya milik seniman muda kita, yakni Dhea Widya dengan “Ephemermal Body (2014)”. Makna ashes to ashes, dust to dust dalam filsafat tubuh yang fana dan keyakinan spiritual menyentuh kita. Dhea membuktikan bahwa instalasinya dengan tanah liat versus air dan karya instalasi videonya bisa membuka relung-relung jiwa tentang tubuh manusia.
Karya yang cukup puitis Dhea Widya lagi-lagi bertolak belakang soal ke-tubuhan yang “di molek-molekkan” milik karya seniman Kim Joon dari Korea dengan misalnya dengan  “Absolut Vodka (2014)”. Ia melawankan sebaliknya karya Dhea, melebih-lebihkannya, menafsirkan manusia dan tubuhnya dalam gelora voyeurism. Raga adalah keindahan materialistik hari ini yang dipuja-puja menjadi “abadi”.
Dan seperti kita tahu,  budaya kontemporer merayakan sampai titik kulminasi dimana hasrat yang tak pernah henti dipuaskan, apalagi medium milik Kim Joon adalah digital print. Medium yang banyak mengingatkan kita dan mudah kita temui dalam reklame-reklame atau etalase/butik di Mal-Mal, atau sebaliknya: di kampung-kampung kumuh di Jakarta, berselebaran di iklan-iklan plastik digital di warung kopi.
Seharusnya kurator menyandingkan dua karya yang mengeksplorasi ide sejenis, dan mempertentangkannya dalam satu ruang. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Shamsu dengan Yuli atau Dadang, sementara  Dhea dengan Kim Joon. Pastilah akan semakin menarik untuk dinikmati.
Sementara itu, kita menoleh pada karya yang agak berbeda dengan lainnya. Yakni apa yang dilakukan arsitek cum seniman kontemporer Budi Pradono dengan “Clay City (2014)”.  Arsitek kita jebolan Insitut Berlage Belanda ini membangun gugusan batu bata dengan komposisi yang meruang. Mengapit dua pintu yang menghubungkan dua ruang didalam gedung Galeri nasional. Budi memberi semacam penanda bahwa kebudayaan tua dan peradaban-peradaban kuno di sungai Tigris, Irak atau di Asia Selatan juga memulai dengan tradisi membangun rumah dari materi teracota. Budi menegaskan bagaimana kita dan rumah sejatinya adalah sebuah sejarah yang panjang  sampai apa yang disebut sekarang sebagai sebuah kota dengan rumah-rumah yang dikatakan modern.
Dari pameran tersebut, penulis mewawancarai salah seorang kurator yang memang mengakui ada beberapa kelemahan-kelemahan. Misalnya tidak tampilnya karya-karya dalam jumlah dan skala besar dan bisa diletakkan di outdoor dengan kriteria instalasi site spesific. Misalnya di halaman depan  dan samping  Galeri Nasional atau bisa jadi di stasiun Gambir.  Bukankah seni kontemporer salah satu parameternya adalah kekuatan menjelajah medan di luar ruang galeri, hingga lebih dekat  dengan publik luas? Ini juga mengenai ukuran  yang menghentak, yang membuat kesadaran akan makna “kerapuhan” materi keramik  bisa diperbesar, dihiperbolikkan.
Pada akhirnya menghelat sebuah pameran besar memang mengandung resiko-resiko. Dibalik kerja keras dan soliditas tim, ketelitian dalam  menseleksi para pekerja seni & seniman kemudian  memilih-memilahkannya, mengagurmenkannya dengan teori- teori akademis, mengamati dengan seksama tren industri keramik dan kelompok-kelompok serta komunitas seni keramik di Indonesia bertahun-tahun untuk meneguhkan sebuah konsep kecenderungan baru, sampai wajib “turun-gunung”. Di beberapa wilayah meneliti kondisi – kondisi studio yang minim atau tidak infrastrukturnya untuk residensi seniman mancanegara adalah sebuah konsekuensi.
Maka dari sekian hal tersebut, jika ada kelemahan tentu ada hulunya , yakni: keterbatasan-keterbatasan sumber daya manusia dan pendanaan, serta infrastruktur dukungan. Pembiayaan yang semaksimal mungkin memang kudu segera direalisasi dalam masa mendatang. Kita berharap  Kemeterian pendidikan dan kebudayaan atau kreatif- pariwisata dalam kabinet Joko Wi sudah selayaknya terus memiliki kekuatan politik untuk bersikap memihak dengan tegas dalam acara-acara yang sejenis.

Bambang Asrini Widjanarko

Pengamat Seni