Visionary Future LAB is a weblog devoted to the future of design, tracking the innovations in technology, practices and materials that are pushing architecture, interior, product design and urbanism towards a smarter and more sustainable future. Visionary Future LAB was started by Jakarta based research architect Budi Pradono as a forum in which to investigate emerging design in product, interior and architecture & urbanism
Thursday, May 7, 2015
Santai Cube
Furnitur Rotan Santai Cube
Dengan karakter yang lentur dan kuat,
rotan bisa menciptakan kemungkinan baru mendekonstruksi eksistensi furnitur tradisional
yang tak hanya fungsional, namun juga membuat dinding, atap, obyek-obyek
khusus, sekaligus ruang-ruang imaji anyar.
Pameran
IFEX 2015 (Indonesia International Furnitur Expo) 2015 Maret lalu di Pekan Raya
Kemayoran Jakarta adalah sebuah proyek eksperimentasi saya pada medium ekspresi
berbahan rotan. Seperti kita tahu bahwa Indonesia melimpah dengan material ini.
Saya
tertantang sebagai arsitek dan perupa membawa paras dan kekuatan rotan menjadi
segugus instalasi seni, yang uniknya bisa untuk duduk & menyandarkan
tangan. Bahkan, menciptakan suasana tubuh dan pikiran menjadi rileks setelah
menikmati pameran stand-stand lain dari berbagai negara. Karena itu saya
namakan Santai Cube, sebuah ruang
persegi empat untuk tempat rileks.
Dalam
pendekatan seni, saya ingin menciptakan
sensasi pada mata dan indera raba serta imaji-imaji khusus tentang
ruangan. Instalasi seni ini mengubah
pandangan fungsional desain furnitur berukuran kecil sebatas meja dan sofa dan
bisa jadi untuk tempat penerangan kap lampu, bahkan kemudian saya rombak total menjadi
satu kesatuan sekaligus. Sambung menyambung membentuk imaji ruang gigantik tersendiri
yang cukup luas, sekitar 8x 8 meter dengan ketinggian kira-kira 5,5 meter.
Furnitur
bagi saya bisa membentuk dinding dan atap yang transparan, jeruji-jeruji rotan
telanjang terlihat tanpa ada finishing
polish—yang sengaja saya lakukan dengan maksud elemen rotan alamiah hadir sebagai
simbol kewajaran, selanjutnya saya beri sentuhan warna hijau dan oranye teduh. Saya
berharap pengunjung stand Aida Rattan menemukan “oasis” untuk bersantai dalam
belantara pameran IFEX 2015.
Saya
berkolaborasi dengan Aida Rattan, produsen furnitur rotan dengan intensi
menyesuaikan konteksnya dengan event ekspo dengan ciri bahwa stand Aida harus
berbeda. Terutama memberikan nuansa cair, transparan dan ekstrovert. Sejak awal
memang saya tidak menyukai furnitur yang membentuk obyek yang cenderung terfragmentasi dan statis. Seharusnya,
furnitur membebaskan, menciptakan ruang besar baru dan merangsang
kesegaran-kesegaran paras materi rotan. Ini juga terkait erat dengan latar
belakang saya sebagai arsitek, yang selalu ingin membentuk ruang-ruang hunian
didalam obyek bangunan arsitektural.
Selain
itu, obyek furnitur semestinya membentuk visualisasi yang plastis bahkan
mungkin bisa “berdansa” dan mengajak pengunjung merasakan sensasi-sensasi
ruangnya yang terhubung dengan fungsinya yang tradisonal, tetap menjadi obyek
furnitur seperti sofa dan lain-lain
untuk duduk.
Furnitur
pada kahirnya tidak hanya menarik dalam segi bentuk dan materi lokalitas, namun
bisa menggugah cara pandang baru dalam mendekonstruksi tradisi desain rotan
gaya lama. Dari perspektif itu, saya menantang produsen Aida Rattan yang telah
10 tahun mendedikasikan dirinya untuk mengeksplorasi kemampuan materi rotan
Indonesia sebagai partner kerja. Saya mengeksplorasi sedemikian rupa materi
rotan yang ditawarkan untuk eksperimentasi dengan menekuk, melipatnya,
membiarkannya lurus dan membujur kemudian tiba-tiba saya berikan elemen seperti
lengkungan tajam serta meliuk. Dari sana kita bisa dengan baik membandingkan
kekuatan rotan yang sejatinya luwes mampu dieksplorasi dengan cara apapun, dibanding
kayu yang cenderung tak terlalu kuat dan “rapuh” untuk format yang ekstrem.
Merespon
pameran IFEX 2015, saya melihat sebuah tempat dengan misi trading dengan memperkenalkan produk dan item-item baru, yang
biasanya bermuara pada penjualan. Saya berpikir untuk melakukan sebaliknya, tak
hendak alergi dalam pengertian anti “menjual”, alih-alih saya mencobanya dengan
membuat furnitur dengan konsepsi yang lain. Maka, yang dijual adalah konsepsi
tersebut. Saya sangat tertarik bagaimana sebuah produk furnitur cenderung bersandar
pada nilai-nilai konsepsinya; yang hendak disampaikan message nya, seperti artwork,
sebuah karya seni.
Pada
sisi lain, saya ikut prihatin dengan kondisi dunia desain Indonesia, bahwa
sudah saatnya para desainer dan pemerintah bersinergi lebih kuat lagi, dengan
mengambil fakta bahwa secara nasional ekspor kita senilai 1, 2 dolar masih
tertinggal jauh dibanding negara dengan penduduk seperempat kali dari
Indonesia, yakni Vietnam yang telah membukukan ekspornya di pasar rotan dunia
dan menguasainya dengan nilai mencapai 6 milliar dolar. Saya tetap optimis
jika bekerja bersama secara lebih intensif, para desainer, arsitek mungkin juga
seniman dan produsen rotan kita tak akan pernah kalah dengan potensi luar biasa
kekuatan ekonomi kreatif Indonesia dimasa depan.
Budi Pradono
Tuesday, March 3, 2015
Sejarah Arsitektur, Keberpihakan dan Kekinian
Sudut pandang sejarah dalam
arsitektur sangat penting untuk menemukan inovasi kekinian. Selain itu ada
upaya merefleksikan keberpihakan sesuai semangat zaman. Sementara harapan baru
tertanam di pundak Presiden Joko Wi dengan konsep Trisaktinya; yang bisa jadi memberi
nafas baru model arsitektur kekinian.
Ikhwalnya arsitektur masa awal
dibebani dua kutub saling berlawanan karena berbagai gejolak kepentingan dan
fragmen politis. Yakni Arsitektur Kolonial dan Arsitektur Indonesia. Yang
pertama, bisa ditelusuri pada abad ke 18 pada kota Jakarta. Pada masa VOC menguasai
dua Kota, New York dan Jakarta, yang kemudian mencanangkannya sebagai kota
maritim yang mirip dengan kota Amsterdam.
Kita bisa mengenali dengan
kanal-kanal di wilayah Jakarta Utara dan morfologi yang khas dengan ciri
urbanisme membagi ruang publik dan privat dengan jalan-jalan pedestrian saling
terhubung. Wilayah Manhattan selama 200 tahun sama persis, bahkan tak berubah.
Pergolakan politik dan kerusuhan
merebak pada 1740, yang mengakibatkan ribuan etnis Tiong Hwa tewas karena menentang
kebijakan pengurangan populasi etnis ini yang diterapkan VOC. Dikemudian hari
hal ini menciptakan perubahan besar penataan kota Jakarta dengan dipindahnya kota
administrative Batavia ke kawasan Weltevreden dan Koeningsplein yang sekarang
kita kenal sebagai Lapangan Banteng dan Monas.
Pada momen itulah Jakarta
meninggalkan ciri kota Maritim dan berpihak pada pertumbuhan dan perkembangan kawasan
hinterland seperti Sudirman, Thamrin,
dan Casablanca sebagai pusat bisnis. Semakin kompleksnya zaman kemudian pada pertengahan
abad 20 segala hal yang berbau kolonial dihilangkan, termasuk para sebagian
besar arsitek, urbanis bahkan dosen-dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) berwarga
negara Belanda yang dipulangkan kenegerinya.
Saat itu nasionalisme menjadi
pedoman, bandul keberpihakan mengayun membuka kutub kedua: Arsitektur Indonesia.
Presiden Soekarnolah yang merintis bangunan yang dikompetisikan, dengan rancangan
arsitektur pemenangnya diimplementasikan sebagai simbol Negara, seperti gedung
MPR-/DPR, Gedung Bank Indonesia, Masjid Istiqlal dan lain-lain.
Dari sana kita memahami arsitektur
kolonial dengan arah Maritimnya diabaikan karena Jakarta mengalami kontestasi
spasial politik tajam diantara pelaku-pelakunya yang dianggap reformis bersua
dengan revitalis, kemudian andilnya kapitalis dan respon dari enviromentalis (Kemas
Ridwan Kurniawan, Paradox 2012).
Keberpihakan Kapitalisme Liberal
Era Soeharto merubah haluan
dengan keras dan 30 tahun menjadi mapan. Keberpihakan mengental pada kapitalisme
model barat dengan momen booming minyak pada 80-an. Sepanjang jalan Sudirman dan
Thamrin hadir berderet gedung pencakar langit yang memiliki kemiripan bahasa arsitektural,
bahasa kaca, yang hampir 85 % dirancang oleh arsitek Amerika. Inilah yang
memicu hadirnya semangat baru di kalangan arsitek Muda Indonesia (AMI) yang
mencoba bertindak berseberangan.
Tesis Anthony Giddens dalam “The Consequence
of Modernity (1990)” benar-benar riil, bahwa kapitalisme modern membuka aibnya
dengan penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa, penindasan oleh yang
kuat pada yang lemah, ketimpangan sosial dan pengrusakan lingkungan. Pemicunya
kapitalisme liberal yang mensyaratkan kompetisi tiada akhir dan pasar bebas
yang sebebas-bebasnya. Puncaknya Soeharto jatuh, eforia kebebasan ekspresi yang
terkekang membawa kegamangan, karena adanya krisis ekonomi dunia dan Indonesia
terimbas berat (1998) yang berakibat letupan emosi masal dengan aksi
penghancuran, penjarahan dan kerusuhan hebat di Jakarta.
Di era SBY keberpihakan
arsitektural penguasa belum memiliki pola tertentu yang jelas, meskipun
kompetisi bangunan publik mulai diperbanyak. Namun substansi dasar membangun rumah
susun maupun sekolah atau universitas belum diserahkan pada arsitek yang
berkonsep khusus dan jelas.
Pada lima tahun pertama gedung
pemerintah yang menonjol adalah gedung Kementerian Perdagangan yang pada saat
itu dijabat menterinya oleh Marie Elka Pangestu, dan menunjuk arsitek DCM untuk
merancang gedung tersebut dan memperoleh penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
award.
Lima tahun terakhir pemerintahan
SBY (2010-2014) isu tentang Arsitektur Nusantara dan Arsitektur Hijau semakin
menguat. Hal ini didorong oleh percepatan informasi sebagai efek globalisasi yang
mengakibatkan ketidak seimbangan alam (fenomena bencana bumi, tanah longsor, tsunami, banjir),
yang menyebabkan para arsitek mulai memperhatikan kembali aspek-aspek hijau di
setiap bangunannya. Salah satu pemicunya karena adanya sertifikasi hijau oleh
lembaga-lembaga independen seperti LEED di Amerika Serikat.
Di sisi lain Arsitektur Nusantara
banyak sekali mendapatkan perhatian. Mulai diangkat oleh almarhun DR. Galih
Pangarsa dari Universitas Brawijaya, Malang serta Josef Prijotomo, seorang
Professor dari Universitas Sepuluh November, Surabaya. Adapun arsitek praktisi
yang sangat antusias menyelamatkan kembali Arsitektur Nusantara adalah Yori
Antar (Yayasan Rumah Asuh) yang salah satu karyanya yakni pembangunan kembali situs
tradisional di Wae Rebo 7 mendapatkan UNESCO Award dan diganjar sebagai finalis
pada Aga Khan Award. Sebuah penghargaan
tertinggi arsitektur yang setara dengan penghargaan hadiah Nobel.
Keberpihakan Pada Trisakti
Presiden Indonesia yang ke tujuh
Joko Widodo atau lebih populer dengan sebutan Jokowi yang baru dilantik
tentunya memberikan nafas dan harapan baru bagi arsitek maupun masyarakat
Indonesia pada umumnya.
Jokowi dengan kabinet Kerja di
jajaran kementeriannya acapkali mendengungkan amanat proklamator Republik
Indonesia Soekarno dengan Trisaktinya, yakni kedaulatan di bidang politik, kemandirian
ekonomi dan kepribadian budaya untuk bangsa ini. Mudah-mudahan ini
mengisyaratkan keberpihakan yang sangat jelas dan lurus arah dan pola politik
arsitektural kita hari ini.
Semangat Trisakti kelihatannya
menyebadan dengan lakon Jokowi yang tumbuh besar sebagai masyarakat biasa dan tinggal
di pinggir kali di Surakarta, dan pernah mengalami penggusuran. Tentunya
keberpihakan dan empati yang sangat besar pada masyarakat marginal yang
terpinggirkan ada padanya. Terbukti
ketika menjabat sebagai gubernur DKI selama 1,5 tahun telah membenahi banyak
hal dengan program-program yang inovatif yang dilaksanakan dengan sangat cepat.
Baik itu rumah susun (kampung deret) atau pembenahan Pasar Tanah Abang.
Sebagai presiden yang gemar
blusukan dan mendengar detak suara rakyat, tentunya dia diharapkan memiliki kebijakan
setingkat nasional misalnya rumah susun bagi masyarakat perkotaan yang tidak
mampu, selayaknya wajib dirancang oleh arsitek Indonesia yang terbiasa mendesain
hotel berbintang dan dikompetisikan secara terus menerus.
Sehingga menghasilkan social housing/rumah
susun yang lebih manusiawi pada masyarakat kecil dan tidak hanya asal kotak.
Namun memiliki areal-areal publik yang lebih nyaman, adanya ruang bertanam sayuran
dan taman mungil vertikal yang tersedia. Semua inovasi akan hadir sejalan
dengan keterbukaan dalam perancangan desain arsitekturalnya dan menata kota
dengan aspek memperhatikan lingkungan.
Kita berharap semua cetak biru pengembangan
kota dirancang oleh ahlinya yang berkompeten dibidangnya dan konsep Trisakti
benar-benar bisa terwujud di negara ini dan memberi inspirasi bagi arsitektur
kekinian.
Budi Pradono
Labels:
budi pradono,
Jakarta utara,
jokowi,
New York
Thursday, November 20, 2014
Kepejalan & Kerapuhan Pameran Seni Keramik
Oleh:
Bambang Asrini Widjanarko
Menyaksikan
sebuah hajatan besar seni dua tahunan memberi kesan tersendiri. Apalagi partisipan
internasional lumayan memukau karyanya. Seniman lokal pun tak kalah untuk
bersaing menyoal mutu.
Galeri
Nasional akhir September sampai pertengahan Oktober ini cukup menarik perhatian
publik seni dengan pameran seni Jakarta Contemporary Ceramic Biennale # 3, 2014
dengan tema “Coefficient of Exspansion”. Temanya dipilihkan para kurator dengan
cara menggiring ide tentang materi dan menawarkan pada para seniman tertentu kemampuan
untuk menafsirkan dan melompati batasan-batasan kaku yang disebut sebagai seni
keramik. Sebuah areal yang bagi seniman adalah sumber untuk bereksplorasi dan
memunculkan karya-karya yang tak terduga.
Perhelatan
ini kelihatannya diselenggarakan dengan cukup teliti, membuat pemetaan seniman dengan
prioritas-prioritas khusus yang telah berjalan selama tiga kali perhelatan. Orang-orang
yang terlibat pun cenderung sama
semenjak dirintis pada 2009. Mereka konsisten meriset, membangun konsep,
mengundang dan menseleksi para seniman yang
melakukan kerja-kerja di studio tertentu (workshop) dengan kelompok
pekerja seni keramik lokal dan kalangan “industriawan keramik”, serta seniman
keramik manca negara, setidaknya setahun terakhir. Kerja yang cukup melelahkan
tampaknya.
Kurator
memasukkan karya-karya yang disajikan di pameran dengan kriteria-kriteria
mana yang dianggap seni; dan mau tidak mau mengklasifikannya
sebagai seni kontemporer. Selanjutnya mana yang dianggap “masih kriya” atau
craft alias kerajinan belaka—seperti yang disebut di katalog asal-muasal seni
bermateri keramik oleh para kurator dalam pandangan akademisi barat pada seni
modern. Sampai yang terakhir mana yang masuk dalam arena industri, yakni desain.
Sebuah area dimana porsi fungsional berskala besar diproduksi dan dekat dengan kebutuhan-kebutuhan
instan budaya kontemporer hari ini.
Menjadi
menarik jika kita amati mereka yang oleh para kurator didefinisikan
“menerabas”, yakni dibebaskan yang tidak lagi mementingkan materi dan teknik
baku dalam seni keramik, apalagi tidak harus diproduksi secara masal. Siapa
lagi jika bukan para seniman-seniman kontemporer. Mereka tak harus dinilai
berhasil atau tidak mengalami proses tahapan pembakaran keramik dari hasil
karyanya yang dikatakan sempurna.
Atau, bahan dasar tanah liatnya sesuai
dengan standar keramik, atau yang dimasukkan kriteria apakah mereka
memakai materi khusus di tanah air yang
bisa menghasilkan sebuah karya yang disejajarkan dengan porselain? Bahkan yang
terekstrem, mereka bisa jadi awam sama sekali soal materi keramik.
Sensasi Visual
Maka
nama seniman kita seperti Dadang Christanto, perupa yang bermukim di Australia,
cukup bagus dipresentasikan sebagai pembuka di gerbang utama galeri dengan “Java (2011)”. Kita tidak lagi disibukkan dengan teknik dan materi pada Dadang, dan
ia bukan atau masuk dalam kriteria seniman keramik, namun kekuatan konsep dan
narasi visual yang diunggulkan. Dengan jelas visualisasinya menggiring pada
aura kematian dan keterpurukan kemanusiaan dengan tumpukan kepala tengkorak
dari tanah liat. Materi di karya Dadang pun menghablur dan pudar, karena kita
melihat disana esensinya ia bercerita tentang pembantaian masal tahun 60-an di
tanah air.
Citra
yang ditampilkan Dadang segera berbalik sensasinya jika kita menemui karya Yuli
Prayitno, perupa asal Jogja. Yuli tahu jika keramik selalu identik dengan sebuah
materi yang rapuh, gampang pecah, meskipun dibakar dalam suhu yang tinggi. Maka
ia tak harus menggagas sebuah narasi yang seheroik Dadang. Ia cukup
mempermainkan kesan yang rapuh dengan kesan yang pejal, atau mungkin malahan kesan
yang lebih dari pejal, yakni karet. Maka sensasi yang kita terima adalah
gambaran kerapuhan yang molor dan mungkret. Karya yang menggambarkan seolah barang-barang
antik dan kuno, mangkok dan piring keramik Tiongkok, tiba-tiba tatkala kita sentuh
menjadi elastis dan kenyal. Sebuah karya cerdas yang terbuat dari dari karet
silikon dengan judul “Handle With Care Not Fragile (2014)”.
Gaya
mempermainkan sensasi optis dengan strategi seperti Yuli tapi di tampilkan “sesangar”
kisah Dadang adalah karya milik Shamsu Muhammad. Perupa matang yang belajar
keramik ke Jepang dari negeri Jiran, Malaysia ini membubuhkan judul “Enslavement
(2014)”. Cukup terdengar mengerikan bukan? Ia menceritakan sejarah perbudakan dengan
ikon-ikon rantai, yang benar-benar pejal, padat, karena terbuat dari besi. Dan
dikomparasi dengan bentuk-bentuk keras
lain dari logam, seperti pengait yang runcing. Semua itu kemudian dilawankan
dengan bentuk menyerupai segitiga, sepertinya bentuk lonceng yang bermateri
tanah liat nan rapuh. Hasilnya, dua materi ditumbukkan, menawarkan kekerasan yang pejal “membunuh” kerapuhan
di sisi lain.
Karya
lainnya, bagaimana jika kesan “sakralnya” materi porselain dan citra lukisan
klasik disandingkan dengan sesuatu yang sehari-hari; dan biasanya terbuat dari plastik
dalam produk-produk budaya urban.
Seperti misalnya sebuah pengharum ruangan mencipta sensasi khusus. Anda akan
menemui karya milik Wan Li Ya dari Tiongkok,
dengan “Birds Twitter and Flowers Fragrance (2014)”. Maka yang hadir
adalah impresi yang sensitif dan
adiluhung menjadi remeh dan terabaikan. Tapi karya ini tetap istimewa karena
bahannya terbuat dari porselain, yang menurut kurator pameran adalah jenis
bahan dengan nilai “tertinggi” pada seni keramik-- ala seni modern; dalam artian
bukan fine art, tapi seni
kriya yang paling bagus. Maka karya
milik Wan Li Ya dalam perspektif seni
kontemporer telah berhasil menciptakan paradoks. Menanyakan ulang, sampai
dimana sebenarnya yang dikatakan yang tinggi dan adiluhung itu pada seni
keramik itu?
Kerapuhan
dan kefanaan manusia yang kerap menjadi tema di perhelatan seni kontemporer coba disindir ulang di karya milik seniman muda
kita, yakni Dhea Widya dengan “Ephemermal Body (2014)”. Makna ashes to ashes, dust to dust dalam
filsafat tubuh yang fana dan keyakinan spiritual menyentuh kita. Dhea
membuktikan bahwa instalasinya dengan tanah liat versus air dan karya instalasi
videonya bisa membuka relung-relung jiwa tentang tubuh manusia.
Karya
yang cukup puitis Dhea Widya lagi-lagi bertolak belakang soal ke-tubuhan yang “di
molek-molekkan” milik karya seniman Kim Joon dari Korea dengan misalnya dengan “Absolut Vodka (2014)”. Ia melawankan sebaliknya karya Dhea, melebih-lebihkannya, menafsirkan
manusia dan tubuhnya dalam gelora voyeurism.
Raga adalah keindahan materialistik hari ini yang dipuja-puja menjadi “abadi”.
Dan
seperti kita tahu, budaya kontemporer
merayakan sampai titik kulminasi dimana hasrat yang tak pernah henti dipuaskan,
apalagi medium milik Kim Joon adalah digital
print. Medium yang banyak mengingatkan kita dan mudah kita temui dalam
reklame-reklame atau etalase/butik di Mal-Mal, atau sebaliknya: di
kampung-kampung kumuh di Jakarta, berselebaran di iklan-iklan plastik digital
di warung kopi.
Seharusnya
kurator menyandingkan dua karya yang mengeksplorasi ide sejenis, dan
mempertentangkannya dalam satu ruang. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Shamsu
dengan Yuli atau Dadang, sementara Dhea
dengan Kim Joon. Pastilah akan semakin menarik untuk dinikmati.
Sementara
itu, kita menoleh pada karya yang agak berbeda dengan lainnya. Yakni apa yang
dilakukan arsitek cum seniman
kontemporer Budi Pradono dengan “Clay City (2014)”. Arsitek kita jebolan Insitut Berlage Belanda
ini membangun gugusan batu bata dengan komposisi yang meruang. Mengapit dua
pintu yang menghubungkan dua ruang didalam gedung Galeri nasional. Budi memberi
semacam penanda bahwa kebudayaan tua dan peradaban-peradaban kuno di sungai
Tigris, Irak atau di Asia Selatan juga memulai dengan tradisi membangun rumah
dari materi teracota. Budi menegaskan bagaimana kita dan rumah sejatinya adalah
sebuah sejarah yang panjang sampai apa
yang disebut sekarang sebagai sebuah kota dengan rumah-rumah yang dikatakan
modern.
Dari
pameran tersebut, penulis mewawancarai salah seorang kurator yang memang
mengakui ada beberapa kelemahan-kelemahan. Misalnya tidak tampilnya karya-karya
dalam jumlah dan skala besar dan bisa diletakkan di outdoor dengan kriteria instalasi site spesific. Misalnya di halaman depan dan samping
Galeri Nasional atau bisa jadi di stasiun Gambir. Bukankah seni kontemporer salah satu
parameternya adalah kekuatan menjelajah medan di luar ruang galeri, hingga
lebih dekat dengan publik luas? Ini juga
mengenai ukuran yang menghentak, yang
membuat kesadaran akan makna “kerapuhan” materi keramik bisa diperbesar, dihiperbolikkan.
Pada
akhirnya menghelat sebuah pameran besar memang mengandung resiko-resiko.
Dibalik kerja keras dan soliditas tim, ketelitian dalam menseleksi para pekerja seni & seniman kemudian
memilih-memilahkannya, mengagurmenkannya
dengan teori- teori akademis, mengamati dengan seksama tren industri keramik
dan kelompok-kelompok serta komunitas seni keramik di Indonesia bertahun-tahun
untuk meneguhkan sebuah konsep kecenderungan baru, sampai wajib “turun-gunung”.
Di beberapa wilayah meneliti kondisi – kondisi studio yang minim atau tidak
infrastrukturnya untuk residensi seniman mancanegara adalah sebuah konsekuensi.
Maka
dari sekian hal tersebut, jika ada kelemahan tentu ada hulunya , yakni:
keterbatasan-keterbatasan sumber daya manusia dan pendanaan, serta infrastruktur
dukungan. Pembiayaan yang semaksimal mungkin memang kudu segera direalisasi
dalam masa mendatang. Kita berharap Kemeterian pendidikan dan kebudayaan atau
kreatif- pariwisata dalam kabinet Joko Wi sudah selayaknya terus memiliki
kekuatan politik untuk bersikap memihak dengan tegas dalam acara-acara yang
sejenis.
Bambang
Asrini Widjanarko
Pengamat
Seni
Subscribe to:
Posts (Atom)








