Saturday, September 26, 2026

Mengunjungi Fondatione Prada

Dari Stazione Centrale, perjalanan ke Fondazione Prada terasa singkat: metro garis kuning M3 ke Lodi T.I.B.B., lalu jalan kaki sekitar sepuluh menit menuju Largo Isarco 2. Setiap kali gerbang itu terbuka, kompleks bekas distileri gin awal abad ke-20 yang diolah OMA ini selalu terasa baru. Ini kunjungan ketiga saya. Pamerannya berganti. Arsitekturnya tetap menuntut untuk dilihat pelan-pelan.

Yang paling menahan langkah saya kali ini justru yang paling dekat dengan kaki: finishing lantai kayu yang terbakar, gelap, berpori, hampir seperti arang yang sudah dipoles. Permukaannya tidak manis. Ia kasar secara halus, menyerap cahaya, dan membuat seluruh ruang terasa lebih dalam. Di sampingnya, cat dinding dan lapisan material lain bekerja dengan logika yang sama: tidak menutup sejarah industri bangunan, melainkan menahannya agar tetap terlihat. Beton, plester tua, kayu, logam, dan cat baru hidup berdampingan tanpa berusaha menjadi seragam.

Lalu ada bangunan yang selalu mencuri pandangan dari setiap sudut courtyard: gedung emas. Haunted House, bekas bangunan distileri yang seluruh fasadnya dilapisi daun emas 24 karat. Di siang hari ia tampak hampir tidak masuk akal: sebuah kotak industri yang tiba-tiba menjadi relik. Emas itu tidak merayakan kemewahan semata. Ia menandai perbedaan. Di antara plester kusam dan beton putih, bangunan itu berdiri seperti tanda baca.

Dari courtyard saya naik ke Torre, menara beton putih setinggi sekitar 60 meter karya Rem Koolhaas. Di atas, pemandangan Milano terbuka ke selatan kota: atap-atap terakota, jalur kereta Porta Romana yang sedang berubah, dan skyline yang jauh. Saya duduk dan memesan aperitivo spritz berwarna oranye yang khas. Warna itu, di ketinggian, terasa seperti perpanjangan cahaya sore. Minum di sini bukan hanya jeda. Ia menjadi cara melihat kota setelah melihat karya: Milano dari atas, setelah dunia dari dalam ruang pamer.


Over, Under and In Between: Mona Hatoum di Cisterna

Kesempatan paling dalam hari itu ada di Cisterna, tiga ruang tinggi yang dulu menampung tangki distileri. Di sanalah Mona Hatoum menempatkan proyek site-specific Over, Under and In Between (29 Januari–9 November 2026). Tiga instalasi. Tiga motif yang sudah lama hidup dalam karyanya: jaring, peta, dan kisi.


Di ruang pertama, jaring laba-laba dari bola kaca tiup tangan tergantung di atas kepala. Indah, rapuh, hampir kosmis. Hatoum sendiri pernah menyebutnya sebagai tetes embun sekaligus konstelasi. Jaring itu bisa dibaca sebagai rumah, bisa juga sebagai perangkap. Kita berjalan di bawahnya dan tiba-tiba sadar tubuh kita ada di antara: tidak di atas, tidak di bawah, tetapi di ruang yang rentan. 

Ruang tengah menampilkan peta dunia dari puluhan ribu bola kaca merah di lantai beton. Batas negara diabaikan. Yang tersisa hanya benua, dan bahkan itu pun tidak stabil: bola-bola kaca bisa bergeser, tumpah, kehilangan bentuk. Peta yang biasanya menjanjikan kepastian justru menjadi wilayah longgar yang mudah goyah.


Ruang ketiga menampung all of a quiver: struktur kisi logam yang perlahan ambruk lalu menegakkan diri lagi, dengan bunyi berderit yang hampir seperti napas bangunan. Karya itu tidak meminta kita “memahami”. Ia meminta kita berdiri cukup lama sampai tubuh ikut merasakan goyangan itu: antara runtuh dan berdiri, antara konstruksi dan kehancuran.


Hatoum, seniman Britania-Palestina yang sejak puluhan tahun bekerja dengan pengawasan, perbatasan, dan kerapuhan tubuh, membuat Cisterna terasa bukan sekadar galeri. Ruang bekas industri itu menjadi tubuh ketiga: kita masuk, berdiri di bawah, mengelilingi, dan baru kemudian mengerti judul pamerannya. Over, under, and in between bukan metafora. Itu posisi kita.

Dash: Cao Fei, drone, desa, dan dialog dengan Rem Koolhaas

Dari kerapuhan Hatoum, Podium membawa saya ke tempo yang sama sekali lain. Dash karya Cao Fei (9 April–28 September 2026) adalah hasil riset panjang di lahan pertanian Tiongkok selatan dan barat laut, serta Asia Tenggara: Thailand, Kamboja, dan kawasan sekitarnya. Judulnya merujuk pada desing cepat drone. Pamerannya merujuk pada sesuatu yang lebih pelan dan lebih besar: bagaimana pertanian cerdas, AI, dan mesin mengubah desa, tenaga kerja, dan ketahanan pangan. 

Lantai dasar Podium tidak terasa seperti museum. Ada lumbung, stasiun petani baru, kuil, hamparan padi, dan kebun pisang kecil yang dikelilingi panel surya serta peralatan pertanian pintar. Drone menggantung di udara ruangan seolah baru saja mendarat dari sawah. Batas antara instalasi dan desa sengaja dibuat kabur. Kita tidak hanya melihat teknologi. Kita masuk ke dalam ekosistem yang sedang dinegosiasikan ulang.


Yang membuat pameran ini begitu kuat bagi saya adalah ketegangan yang tidak disembunyikan. Drone dan algoritma menjanjikan efisiensi, mengurangi tenaga kerja berat, dan menjaga produksi pangan di tengah krisis iklim serta penuaan penduduk desa. Pada saat yang sama, pengetahuan tradisional bergeser, hubungan manusia dengan tanah berubah, dan desa tidak lagi hanya menjadi lawan kota, melainkan laboratorium teknologis. Cao Fei tidak membuat himne kemajuan. Ia membuat arkeologi pertanian masa kini: ritual lama berdampingan dengan sensor, dupa untuk hujan berdampingan dengan penghormatan pada mesin.

Katalog pameran memperluas percakapan itu. Di dalamnya ada dialog Cao Fei dengan Rem Koolhaas, arsitek kompleks ini, yang sejak 2012 meneliti countryside bersama OMA. Pertemuan itu terasa tepat. Koolhaas sudah lama menolak anggapan bahwa masa depan hanya milik kota. Cao Fei menambahkan lapisan yang lebih konkret: petani muda, drone, AI, industri pangan, dan pertanyaan tentang siapa yang akan memberi makan dunia jika desa berubah lebih cepat daripada cara kita memahaminya. 

Dua pameran ini, jika dilihat dalam satu hari, saling memantul. Hatoum berbicara tentang dunia yang goyah: jaring, peta, kisi yang ambruk. Cao Fei berbicara tentang tanah yang diatur ulang oleh data. Yang satu menahan tubuh kita di ruang rapuh. Yang lain menempatkan kita di depan mesin yang sudah bekerja di sawah jauh sebelum kita sampai ke Milano.

Keluar dari Podium, gedung emas masih menyala di courtyard. Lantai kayu bakar masih menahan jejak langkah. Di menara, sisa spritz oranye masih ada di gelas. Fondazione Prada, pada kunjungan ketiga ini, tidak memberi pengulangan. Ia memberi bukti bahwa sebuah tempat bisa tetap sama dan tetap mengejutkan, asalkan pamerannya jujur pada zaman, dan arsitekturnya cukup kuat untuk menahan pertanyaan baru.

Kalau Anda datang dari Stazione Centrale: M3 ke Lodi T.I.B.B., berjalan ke Largo Isarco, luangkan waktu lebih lama di Cisterna dan Podium, lalu naik ke atas. Biarkan kota kelihatan kecil dulu. Setelah Hatoum dan Cao Fei, pemandangan Milano tidak lagi hanya skyline. Ia menjadi pengingat bahwa yang rapuh dan yang produktif sedang terjadi di tempat yang sama: di bawah kaki kita, di atas kepala kita, dan di antara keduanya.

No comments:

Post a Comment