Saturday, September 26, 2026

membaca Dash antara Cao Fei vs Rem Koolhaas pada pameran di Fondatione Prada

Ini adalah catatan dari kunjungan saya pada pameran dash di Fondatione Prada : 

Yang bisa dibaca dengan jujur adalah pertemuan dua metode, bukan transkrip halaman demi halaman. Koolhaas membawa riset Countryside yang ia kerjakan bersama AMO sejak 2012. Cao Fei membawa tiga tahun kerja lapangan di sawah Tiongkok selatan dan barat laut serta Asia Tenggara. Di katalog, keduanya bertemu pada satu pertanyaan yang sama: jika kota sudah terlalu sering dibicarakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di tanah yang memberi makan kota itu?

Mengapa keduanya diletakkan berhadapan

Pasangan ini bukan ornamen institusi. Gedung Podium tempat Dash dipasang adalah karya OMA. Sejak 2012 Koolhaas secara sistematis membalik fokusnya: bukan lagi hanya kota sebagai mesin peradaban, melainkan 98 persen permukaan bumi yang bukan kota. Tesisnya tajam. Kota, katanya, sudah menjadi zona yang relatif terduga. Perubahan paling radikal justru terjadi di countryside: otomasi pertanian, pusat data, gudang logistik raksasa, subsidi, migrasi musiman, eksperimen genetik, dan politik tanah. Dunia yang dulu diatur musim, tulisnya, kini “lebih volatil daripada kota yang paling cepat sekalipun.” 

Cao Fei datang dari arah lain. Ia anak pematung, cucu petani. Di Guangzhou ia tumbuh di celah 15 menit bersepeda antara kota dan desa orangtuanya—celah yang kemudian tertutup kompleks residensial. Trajektori karyanya berjalan dari pabrik (Whose Utopia, 2006) ke gudang logistik (Asia One, 2018) lalu ke lahan pertanian. Ketika ia menyebut Koolhaas di wawancara CURA, ia tidak sedang memuji arsitek. Ia sedang menempatkan Dash dalam silsilah yang sama: “Ketika Rem Koolhaas memandang Pearl River Delta di pergantian milenium, ia tidak hanya melihat arsitektur, tetapi eksperimen peradaban yang dipercepat. Saya berharap Dash tidak hanya tentang pertanian, tetapi tentang cara kita bernegosiasi dengan teknologi hari ini.” 

Jadi dialog itu bukan “seniman bertanya, arsitek menjawab.” Ia lebih dekat ke dua orang yang sudah lama mengamati mesin yang sama dari dua sisi: infrastruktur dan tubuh yang menghuninya.

Apa yang secara eksplisit masuk ke dialog itu

Wawancara Cao Fei di D la Repubblica merujuk langsung ke percakapan katalog. Intinya: di dialog itu ia berbicara tentang kembalinya warga kota ke pertanian dan tentang sektor yang semakin terdigitalisasi. Wartawan lalu menantangnya: di lapangan masih ada petani bertopi bambu dan bajak ditarik kerbau. Jawaban Cao Fei, yang ia kaitkan sendiri dengan isi dialog itu, adalah kata kunci seluruh proyek: sfasamento—kesenjangan tempo. 

Petani bertopi tradisional, katanya, bisa berdiri di ruang yang sama dengan orang yang menggulir ponsel di kereta cepat. Waktu tidak berganti secara rapi. Ia menumpuk. Yang kembali ke desa bukan hanya nostalgia. Yang kembali adalah generasi muda dengan drone dan algoritma: “petani teknologis.” Tetapi tidak semua otomatis. Di sepanjang rel kereta drone dilarang terbang. Banyak praktik masih mengikuti ritme musim. Di negeri seluas Tiongkok, teknologi mutakhir menumpuk di dataran luas; di tempat lain metode lama bertahan. 

Itulah tulang belakang percakapan mereka, setidaknya dari sisi yang Cao Fei sendiri benarkan di depan publik: countryside bukan museum tempo dulu, dan bukan pula laboratorium masa depan yang sudah selesai. Ia adalah tumpukan waktu.

Dua peta yang saling menimpa

Koolhaas, dalam Countryside, The Future di Guggenheim (2020), membawa traktor otonom ke trotoar Fifth Avenue. Ia memamerkan pertanian presisi, rumah kaca cahaya merah muda, desa Afrika yang meloncat pembangunan lewat ponsel dan drone, petani tua Jepang yang dibantu eksoskeleton AI, serta “sublime rural” baru: kotak-kotak bisu seukuran ratusan lapangan sepak bola yang dibangun untuk mesin, bukan manusia. Argumennya politis. Arsitek dan intelektual terlalu lama miopik pada kota, lalu kehilangan kemampuan membaca 98 persen sisanya. Ketahanan pangan, katanya hampir secara eksplisit, bisa menjadi judul alternatif pameran itu. 

Cao Fei mengisi peta itu dengan yang tidak cukup masuk bingkai arsitektur: dupa untuk drone, pita merah di badan mesin, kuil dari karung pupuk, lumbung yang menjadi bioskop, petani yang menyerahkan persepsi ruang dan penilaian risiko kepada antarmuka. Di Thailand, Vietnam, Kamboja, ia melihat mesin diperlakukan seperti dewa panen baru. Bukan karena petani naif. Karena yang tak terkendali masih butuh bahasa ritual. “Yang dihormati bukan mesinya,” katanya di tempat lain, “melainkan sifat teknologi yang asing dan tak sepenuhnya bisa dikuasai.”

Di sinilah gesekan produktif itu muncul.

Koolhaas cenderung membaca countryside sebagai sistem: skala, logistik, kebijakan, tipologi bangunan pascamanusia. Cao Fei membaca countryside sebagai hubungan: manusia–tanah–mesin–leluhur. Koolhaas melihat “new rural sublime” pada gudang dan pusat data. Cao Fei melihat arkeologi pertanian masa kini, tempat GPS berbicara dengan geografi ritual, dan AI saling melatih dengan pengalaman musim. Diagramnya untuk pameran itu bernama CHT Triad: Cosmos, Human, Technics. Bukan harmoni atau ketergantungan sebagai pilihan biner. Melainkan koeksistensi baru.

Petani muda, drone, AI, pangan

Bagian yang paling dekat dengan pengalaman Anda di buku itu adalah soal regenerasi desa. Koolhaas sudah lama mencatat bahwa countryside kehilangan penduduk, lalu diisi mesin, migran musiman, dan modal. Cao Fei menambahkan tokoh yang lebih spesifik: anak muda yang kembali, bukan sebagai petani romantik, melainkan sebagai operator sistem. Mereka tidak menggantikan kerbau dengan nostalgia. Mereka menggantikannya dengan armada.

Di lapangan risetnya, perusahaan seperti XAG menjadi studi kasus: drone semprot, kendaraan tanpa pengemudi, pembacaan kelembapan tanah, pemetaan satelit. Janjinya konkret: efisiensi, pengurangan kerja fisik, produksi yang lebih stabil di tengah iklim yang tidak lagi bisa ditebak, dan desa yang menua. Harganya juga konkret: pengetahuan turun-temurun bergeser ke perangkat lunak; hubungan tangan–tanah menjadi hubungan layar–lahan; siapa pemilik data panen menjadi pertanyaan politik baru.

Cao Fei menolak memilih “teknologi baik” atau “teknologi buruk.” Sejak alat pertanian pertama, katanya, manusia dan teknik tidak pernah terpisah. Yang berubah sekarang: teknologi tidak hanya menjawab kebutuhan. Ia menciptakan ketergantungan pada efisiensi yang sering melampaui kebutuhan itu sendiri. Di pertanian, ketergantungan itu sulit ditolak karena krisisnya nyata: desa kosong, iklim goyah, pangan harus tetap ada. Di situlah dialog dengan Koolhaas menjadi tajam. Koolhaas sudah memperingatkan bahwa countryside hari ini adalah “campuran toksik” eksperimen genetik, sains, nostalgia industri, imigrasi musiman, dan subsidi. Cao Fei menambahkan bahwa di dalam campuran itu masih ada orang yang membakar dupa sebelum menerbangkan mesin.

No comments:

Post a Comment