Wednesday, May 7, 2014

The Mountain of Hope installation in Venice architecture Biennale 2014



The Mountains of Hope


Architecture Installation at Venice Architecture Biennale 2014

by budipradono architects[1]




Mountain has important part in the main landscape of Indonesia’s archipelago, in one side it’s terrifying because mount erruption will spread extremely hot air, cold lava flow that destroys anything other than homes, rice field, farms and everything man has managed. In the other side, mountain gives natural fertilizer and fertile soil that can support the life of people and environment for the next years and even the next hundreds of years. Mountain becomes a symbol in wayang (shadow puppet), an episode of a story the dalang or puppet master always uses gunungan that marks the start and ending of a story. 

















The idea that combines the mountain and roof signifies the ambiguous meaning in every detail is a deconstruction and construction at the same time, of the skillful handwork arrangement, an effort of using local materials from the remote areas, the use of indegiosity that gives back the conviction that modernity can be shown by combining several local ideas and reconstructing the shapes of traditional Indonesian houses inversely. The roof architecture in this exhibition is a reflection and at the same time is also a reminder of how dinamic the roof struggling with itself. In the instalation, every visitor is given a chance to hang any hopes in the inversely roof structure, which by itself makes a silhouette of mountain of hopes. Roof is basic concept of shelter for people live in tropic areas that don’t have four seasons as in Europe, so the relationship between man and nature has harmonious relationship. The windbreak should be the first construction that people of tropic climate built. A further development of this windbreak shows the construction of roof; the saddle type roof, which simply rest upon the ground.[2] One of the characteristic of Nusantara architecture is the absence of firm limit between nature and structure, the entire elements of walls, roof, doors, and windows have phorousity or perforation that allow wind to easily go in and out of the building. 

Roof that protects the people underneath also has numerous functions, other than becoming the storage place or warehouse it’s also used to dry food, usually there’s a fireplace underneath that becomes the heater and preserve the entire roof wooden or bamboo materials whenever it’s lit up. The Dutch architect, Henri Maclaine Pont, has made tipology analysis of region structure and various roof shapes of several regions in Indonesia and believes that the structure of traditional home has modern rationality. In that era, the different architectures from different regions in Indonesia have different shapes of roof and its own uniqueness as the local identity of each region. Henri Maclaine Pont tries to deconstruct and reconstruct this diversity by combining different richness of Indonesian traditional architecture, one of it is through the processing and mixing of the roof with European architecture, so it will become typical Nusantara architecture in Dutch East Indies area. It is shown by the architecture exhibition, titled “Koloniale Tenstoostelling” in Semarang 1914, the exhibition opened the insight of Indonesians and the world about the idea of Nusantara architecture. Roof exploration as a method of archictural search pointed out by Maclaine Pont. With the support of architect HP. Berlage, Henri Maclaine Pont has began a movement of “Indische Architectuur”, an effort in searching the identity of Nusantara architecture[1]. Even though it turned out not to be followed by other Dutch architects that invaded Indonesia in 1930’s when Batavia as the capital city was going to be moved to Bandung, what happened was Art Deco exploration becoming the most popular one. This Nusantara exploration destroyed by Indonesia’s first president, Soekarno, who brought the wave of modernity through flat roof. In the era of Soeharto, international style as the leading point of capitalism prevailed through glass facade and absence of effort to absorb Nusantara architecture. Only in the second half of his leadership in 1980’s the policy of Nusantara architecture on governmental buildings led to the prevail of modern architecture with various shapes of roofs in traditional Javanese roof, that it caused the conotation of Javanization. Roof turns out to always be in dispute, debate and politized; government suggestion on the rule of using joglo roof as additional roof was refused in campus building of Indonesia University by Goenawan Tjahjono who tried to re-interpret the shape of roof that adopts traditional roof into his campus design without forcing the use of joglo roof only as the cap.

In this exhibition I also want to show composition of several roofs that struggle in space and time, that being resistance against international style which with its rationality has put aside the basic concept of roof becoming flat concrete roof. This resistance roof is arranged upside down, so it formed the formation of stalagmites falling from the sky. The surrounding sides are the synchronization of various shapes of plaited bamboo or wood, just like its Indonesian materials. These roofs are hodling tight to each other that symbolizes the strong collectiveness and mutual aid. The installation is also an effort to strengthen the relationship between Europe and Indonesia began with spices. Maclaine Pont’s spirit is revived exactly in 100 years time. (Budi Pradono)







[1]AbidinKusno, “indischearchitectuur”: renewing local shape in a book New age of modernist generation: an architectural note, 2012, p.37-43
[1]Budi Pradono architects (BPA architecture+urbanism) is a research based architecture firm based in Jakarta, Indonesia

[2]About Nusantara Architecture: a Matter of Either-or or Both-and toward Place for Better Living in the Humid Tropic by Josef Prijotomo on International Seminar on ‘Creating Space for Better Living’, Organized by Trisakti University, Jakarta, Feb 16, 2012

Tuesday, May 6, 2014

The City within the city, Kota di dalam kota (1)

The City Within the City 
Oswald Mathias Ungers, OMA, 
and The Project of The City as Archipelago

Ini adalah sebuah rangkuman atau catatan dan terjemahan bebas dari satu bab City inside the city dari buku "The Possibility of an absolute architecture" karya Pier Vitorio Aureli. yang diterbitkan oleo MIT press tahun 2011

            Pada era 1970-an, Berlin Barat menghadapai krisis urbanitas yang berkelanjutan. Mengikuti pecahnya Perang Dunia II, perpecahan Jerman menjadi dua blok yang berlawanan, dan pemekaran Berlin menjadi dua kota – Berlin Timur sebagai ibukota Republik Demokrasi Jerman, dan Berlin Barat sebagai negara bagian kesebelas Jerman Barat – Jerman Barat menjadi sebuah pulau, sebuah negara-kota yang dibatasi oleh dinding melingkar dan dikelilingi oleh wilayah perseteruan. Karena pertahanan ini, Berlin Barat tidak pulih dari krisis setelah perang. Kota ini masih berisi lahan kosong yang luas dimana gedung-gedung berada dan bagaikan pulau yang terisolasi, dan di tahun 1970-an, populasinya menurun.
            Pada tahun 1977, sekelompok arsitek meluncurkan proyek penyelamatan yang berjudul Berlin sebagai Kepulauan Hijau. Dipimpin oleh Oswald Mathias Ungers, kelompok tersebut beranggotakan Rem Koolhaas, Peter Riemann, Hans Kollhoff, dan Arthur Ovaska. Bagi para arsitek ini, permasalahan setelah perang yang ada di Berlin menghadirkan potensi model sebuah “kota di dalam kota,” atau menurut istilah Ungers, sebuah “kota yang terdiri dari pulau.” Pendekatan ini mencerminkan konsep pengarahan dari proyek urban Ungers, yang dikembangkan oleh ia dan muridnya di tahun 1964 hingga 1977, pertama saat ia mengajar untuk pertama kalinya di Technical University di Berlin (1963-1969) dan selanjutnya di Universitas Cornell (1968-1986). Ungers ingin mengubah karakter istimewa Belin sebagai kota yang terbagi secara politis dalam kesulitan ekonomi menjadi laboratorium untuk proyek kota yang melawan pendekatan teknokratis dan romantis yang populer pada waktu itu. Berlin Sebagai Kepulauan Hijau juga bisa dipahami sebagai salah satu dari kritik awal kepada restorasi perimeter blok milik Krier bersaudara, yang akan berdampak besar pada rekonstruksi Berlin di tahun 1980-an hingga 1990-an.Realita terfragmen Berlin – sebuah kota yang menjadi reruntuhan akibat perang, namun intensitas politiknya mencerminkan posisinya sebagai ‘pusat’ perang dingin – memberikan Ungers sebuah dasar untuk menginterpretasikan kota tersebut sebagai sebuah kesatuan tidak lagi bisa dipercaya pada perencanaan kota dalam skala besar, tapi lebih membentuk kepulauan, yang masing-masing dipahami sebagai kota-mikro yang berbeda secara formal. Ungers menghasilkaan pendekatan ini dari Karl Friedrich Schinkel, yang merupakan arsitek kota Berlin selama pertengahan awal abad ke-19. Schinkel membayangkan ibukota Prussia sebagai tenunan yang diselingi oleh intervensi arsitektur tunggal, lebih dari sebuah kota yang direncanakan bersama prinsip-prinsip desain tipikal kohesif dari periode baroque. Bagi Ungers, pendekatan ini bisamengatasi fragmentasi setelah perang Belin dengan mengubah krisis tersebut (ketidakmungkinan merencanakan kota) menjadi proyek arsitektur kota. Mengikuti cara berpikir ini, Ungers mengembangkan teori sebuah kota sebagai kepulauan, menyusutkan kota hingga ke poin kepadatan urban sebagai cara untuk merespon penurunan dramatis populasi di Berlin Barat. 
             Berlin sebagai Kepulauan Hijau (green archipelago) adalah satu dari beberapa proyek dalam sejarah perencanaan kota untuk mengemukakan suatu krisis urban dengan mengganti fokus secara radikal dari problem urbanisasi – kelanjutan dari pertumbuhan kota – ke penyusutan kota. Kepulauan Unger dilihat untuk membingkai dan sehingga membentuk kota yang ada dengan menerima proses penurunan populasinya. Penerimaan ini tidak diproyeksikan sebagai sebuah “disurbanisasi” kota, tetapi sebagai cara untuk menguatkan bentuknya dengan mengartikulasikan batas-batas dari setiap “pulau” dalam sebuah kepulauan dari artifak-artifak dengan skala besar.
             Melawan visi utopian dari pembubaran kota atau, sebaliknya, keidealan mereduksi kota menjadi system yang menyeluruh, atau bahkan mengembalikan imej kontrol urban dengan konsolidasi bentuk-bentuk seperti dari perimeter suatu blok, Berlin sebagai Kepulauan Hijau menawarkan sebuah paradigma yang melampaui referensi modernis dan post-modernis dan bahkan hingga hari ini tidak terlalu diapresiasi karena logika provokatif-nya. Logika ini terungkap dengan menelusuri perkembangan proyek-proyek kota milik Ungers melalui beberapa serial proposal dan studi penelitian yang ia kerjakan pada tahun 1960an dan 1970an. Serial ini bisa dilihat sebagai suatu proyek yang mencapai kulminasi pada kota Berlin sebagai Kepulauan Hijau, khususnya saat seseorang mempertimbangkan proyek urban desain seminal karya Unger, riset didactic nya pada Berlin, dan kemudian link antara karya dan teori-teorinya dan usaha awal OMA untuk mendefinisikan “arsitektur metropolitan”. Pertukaran intelektual antara Ungers dan OMA adalah salah satu dari cara paling menarik dalam penelitian / riset tentang kota di tahun 1970-an, meskipun jika itu tidak cukup dikembangkan. Pertukaran ini tidak hanya berdasarkan kolaborasi antara Koolhaas dan Ungers dalam proyek-proyek penting, namun juga pada kesamaan ketertarikan mereka dalam pengembangan “cara ketiga” untuk menyebut proyek kota ini. Keduanya ingin bergerak melampaui kebuntuan yang direpresentasikan oleh perencanaan kota modernis dan permulaan dekonstruksi postmoderen tentang proyek apapun tentang kota.

Monday, May 5, 2014

The City within the city, Kota di dalam kota (2)


The City Within the City 
Oswald Mathias Ungers, OMA, 
and The Project of The City as Archipelago

Ini adalah sebuah rangkuman atau catatan dan terjemahan bebas dari satu bab City inside the city dari buku "The Possibility of an absolute architecture" karya Pier Vitorio Aureli. yang diterbitkan oleo MIT press tahun 2011

Pada tahun1971, Koolhaas memutuskan untuk mengunjungi Tembok Berlin dan mendokumentasikannya sebagai bahan tugas arsitektur untuk proyek tiga tahunnya.17 Deskripsi Koolhaas tentang segi arsitektur dari Tembok Berlin serupa dengan logika komposisi yang diaplikasikan pada Grünzug Süd. Koolhaas menerangkan penemuannya bahwa struktur linier dari Tembok Berlin bukan semata-mata sebuah garis yang memotong Kota Berlin, tetapi sederetan peristiwa-peristiwa arsitektur yang linier yang dipertalikan oleh hasrat politik untuk mengefektifkan kondisi ketertutupan.18 Dalam keterangannya, Koolhaas secara strategis melenyapkan esensi politis dari Tembok Berlin untuk menekankan cara institusi politik tertutup, yang dibuat nyata dalam bentuk pemisahan kota, memanifestasikan dirinya tidak dalam bentuk ideal dari sebuah garis, melainkan dalam bentuk-bentuk biasa seperti rumah-rumah, tembok-tembok, pagar-pagar, dan obyek-obyek arsitektur lain yang dapat digunakan untuk pembagian ruang.

Arsitektur “biasa” Tembok Berlin inilah yang secara tepat memberi kesan kepada Koolhaas bahwa bahkan artifak yang paling tegas menggambarkan sebuah makna sekalipun, ketika dipaparkan dalam situasi yang riil, akan kehilangan kemurniannya sebagai bentuk pemersatu. Sebaliknya, ia akan menjadi sebuah deretan dari beberapa situasi yang benar-benar berbeda. Mengikuti proyek Grünzug Süd Ungers dan rasionalisasi “retroaktif” Ungers dan para mahasiswanya terhadap situasi-situasi kritis ketika mengerjakan proyek Berlin, Koolhaas “mengangkat” Tembok Berlin sebagai penggambaran bagaimana arsitektur lebih mungkin merangsang terjadinya ketidaksinambungan daripada kesatuan. 


Kita dapat berargumen bahwa pendekatan penataan kota tersebut—pendekatan yang diinspirasi oleh proyek Grünzug Süd Ungers—menjadi dasar konseptual bagi proyek Delirious New York (New York yang Penuh Gairah) yang menggunakan kondisi-kondisi perkotaan yang paling kritis sebagai basis bagi proyek tata kotanya.20 Pada saat menelaah pertautan antara Ungers dengan proyek-proyek awal Koolhaas dan Zenghelis, kita dapat melihat perkembangan fundamental konsep kota-di-dalam-kota milik Ungers sebagai benih dari Exodus, atau Voluntary Prisoners of Architecture (1972), milik Koolhaas dan Zenghelis. Sebagaimana dikesankan oleh subjudul, subyek dari proyek tersebut adalah tahanan. Koolhaas dan Zenghelis memaksudkan “tahanan sukarela” secara metaforis sebagai penduduk metropolis pada kondisinya yang paling ekstrem, versi paling teruk dari kewarganegaraan komunitarian yang berdasar pada sikap menutup diri.21 Tahanan sukarela dalam hal ini adalah metafora dari subyek yang secara sengaja menerima realitas kota yang terbentuk lebih oleh keterpisahan dan keterasingan daripada oleh persatuan dan kebersamaan Sama halnya, Exodus terdiri dari dua tembok yang paralel yang memotong London dan membaginya menjadi delapan bagian yang tertutup. Baik kompleks perumahan pada Grünzug Süd maupun Tembok Berlin juga memotong kota yang telah ada, menampakkan dan mengakarkan kondisi-kondisi berbeda dari kota tersebut. Exodus bukan hanya sebuah garis, seperti Continuous Monument Superstudio, atau perulangan modul yang sama, seperti skema Ivan Leonidov untuk Magnitogorsk (walaupun kedua proyek tersebut merupakan inspirasi bagi Exodus); Exodus adalah sebuah komposisi linier terbentuk dari bagian-bagian kota yang secara radikal berbeda. Masing-masing bagian tersebut dimaksudkan untuk menampakkan secara tegas aspek morfologis dan perencanaan bagian-bagian kota (pinggiran kota, rumah sakit, museum, taman) dalam bentuk kiasan sosial dan arsitektural dari sebuah kehidupan perkotaan. Exodus secara sengaja mengasumsikan bahwa kondisi-kondisi seperti keterpisahan, agresi dan permusuhan adalah unsur-unsur logis untuk sebuah kota. Dengan demikian, Exodus berkembang dari interpretasi Ungers terhadap Berlin sebagai sebuah kota yang terbentuk dari bagian-bagian yang saling kontras menuju sebuah skenario politik yang lebih nyata.

Pada kuliahnya yang lebih aktual, Zenghelis mempertahankan bahwa bagian-bagian berbeda dari Exodus dapat dipahami melalui dua cara: sebagai bagian-bagian yang tersusun dalam sebuah struktur linier dan sebagai gugusan gedung-gedung otonom dalam kota yang bercirikan komunitas metropolitan yang merdeka.22 Sebagai sebuah proyek, Exodus—yang sangat dipuji oleh Ungers setelah ia bertemu Koolhaas—bisa dibayangkan sebagai sebuah penghubung antara prinsip-prinsip arsitektur yang diperkenalkan dalam proyek Grünzug Süd dan penelaahan Ungers terhadap Berlin dengan proyek Berlin sebagai Gugusan Hijau yang memiliki aspek politis yang lebih nyata. Hal itu karena Exodus menyuarakan sebuah tema yang sudah muncul pada proyek Ungers: sebuah prinsip yang mengarahkan gerakan-gerakan yang terpisah dari sebuah metropolis menjadi sebuah bentuk arsitektur yang mengacu pada dimensi kolektif dari sebuah kota.

Monday, April 28, 2014

Bambu sebagai material konstruksi utama di Desa Sekarlangit

 Desa sekarlangit terletak kira kira 12 km dari kota Magelang Jawa Tengah. Di Desa Sekarlangit diantara jalan yang berkelok-kelok kita akan menemukan hutan bambu yang asri. Yang paling menarik adalah penduduk di sekitarnya yang sabngat memanfaatkan kondisi lingkungan ini dengan memanfaatkan semaksimal mungkin keunggulan ini. Salah satu yang menrik adalah di tempat ini banyak sekali orang yang mengawetkan bambu di sungai sungai maupun di kolam-kolam sawahnya.
Mereka menebang bambu sesuai dengan hari baik sejak diajarkan nenek moyang mereka lalu dibilah-bilah digabungkan / ditangkap setiap dua keping jadilah usuk, pengganti kayu. Setelah itu mereka mengikatnya, kemudian dimasukkan ke dalam sungai yang mengalir. Bambu itu di rendam antara 6-1 tahun lamanya.


Ini telah berlangsung sangat lama. sejak dahulu kala. Jika kita berjalan-jalan berkeliling desa-desa sekitarnya tidak ada rumah yang tanpa unsur bambu ini. Sehingga bambu menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari masyarakat di Sekarlangit ini.





Thursday, March 20, 2014

Open Architecture Festival - Kota Dalam Taman, 21 - 23 Maret 2014


KOTA DALAM TAMAN, KARENA TAMAN ADALAH TEMAN
 21, 22, 23 maret 
di hutan kota jl.jakarta, Malang. 

HIMPUNAN MAHASISWA ARSITEKTUR FT
UNIVERSITAS BRAWIJAYA