Monday, February 28, 2011

Budi Pradono mengunjungi pasar loak besi bekas bersama DEMAYA dan SAMM


Usai seminar tentang besi baja dan sustainabilitas di JW Mariott Hotel,
saya menyempatkan diri mengunjungi pasar loak pengumpul besi bekas di Surabaya.
Katanya termasuk yang terbesar seAsia.

Saya merasa sangat menghargai para pemulung yang berhasil
mengumpulkan ber ton-ton besi dari seantero Surabaya dan sekitarnya.
Penuh semangat dan sangat percaya bahwa rongsokan kapal
maupun rongsokan bekas gudang bias dijual kembali,
diolah kembali menjadi barang baru.


Ketika menyusuri pasar ini-pun saya merasa adrenalin saya meningkat
seperti meminum secangkir kopi.
Bisa dibikin apa ya? ….
wah saya bisa membuat apa saja…
bisa membuat instalasi untuk taman, membuat ruang bacaan,
atau bahkan rusun?
Seberapakah kita punya tanggungjawab moral
untuk menggubahnya menjadi komposisi musik yang baru…
tidak perlu menunggu dari developer besar,
tidak perlu menunggu investor untuk berbuat banyak…
dengan kreativitas kita bisa menciptakan
sebuah gubahan dari bahan bahan bekas ini…
inilah model praktek sustainabilitas yang nyata!

tinggal menunggu waktu ketika secangkir kopi mulai habis…
Terima kasih untuk teman-teman dari demaya (desainer muda Surabaya) dan SAMM (spirit Arsitek Muda Malang) yang dengan susah payah menemani saya…mari berkreasi bersama!!!
Budi Pradono 24/02/11


Sunday, February 20, 2011

Pameran Foto: Betel Nut Beauties by Magda Biernat di Clic Gallery, New York

Foto-Foto Karya seorang fotografer perempuan Magda Biernat,
mengungkapkan sebuah fenomena tentang warung-warung kacang di pinggir jalan di Taipei.
Dengan ukuran kotak warung yang mini kira -kira 3 x 4 m, para pengemudi taxi maupun truk bisa berhenti sejenak untuk sekedar makan kacang atau minum kopi
Penjualnya juga adalah bagian dari pemanis dimana para penjual yang umumnya wanita muda diwajibkan berpenampilan keren dengan pakaian yang minim. Seperti dalam aquarium. Ini sama sekali berbeda dengan di Amerika, dimana makanan cepat saji (seperti mc donald) umumnya menyediakan drive trough bagi pengendaranya. Sementara di Indonesia para pedagang asongan lebih proaktif ditengah kemacetan pasti mereka turun ke jalan. Jadi rokok, kacang dan minuman dingin bisa datang sendiri ke mobil kita lewat jendela. Menurut saya Magda berhasil menangkap fenomena ini dengan telaten dia mencuri waktu terbaik untuk pemotretan ini, di tengah lansekap kota dan pinggiran kota Taipei. Perhatian pada detail dan kedalaman, dalam setiap fotonya refleksi jalan raya maupun kejenuhan penjaga warung dapat dihadirkan secara bersamaan.
.
Kalau model warung kacang di Taiwan diterapkan di jakarta, wah pasti menambah panjang kemacetan lalulintasnya. Pameran fotografi ini berlangsung sejak tanggal 8 February - 6 Maret 2011 di Clic Gallery New York.



BETEL NUT BEAUTIES is a photoseries documenting the compelling phenomenon of

roadside betel nut stands across Taiwan.

A fixture on the streets of urban and suburban Taiwan, these brightly lit, often ramshackle huts sell a mild stimulant made from the nut of the areca palm and wrapped in betel leaves.

Known across South Asia as paan, it is generally translated to 'betel nut' in English.

Staffed almost exclusively by young women, the stands cater to longhaul truck drivers and, like taxi dancers or cigarette girls in casinos,

the betel nut girls are encouraged to dress in skimpy clothes to lure in male customers. Snapped while waiting for their next sale, Biernat's compassionate photographs capture the isolation and tedium of these sellers who themselves are on display, a daily existence bounded by walls of glass.


Clic Gallery
255 Centre Street
New York, NY 10013
Daily 12 - 7 pm
BETEL NUT BEAUTIES
by Magda Biernat
February 8 - March 6, 2011

Sumber: http://clicgallery.com










Saturday, February 19, 2011

Invasion Verde in Lima Peru by Genaro Alva, intervensi pada kota lama

Invasion Verde ini adalah salah satu dari lima intervensi artistik dari 137 proposal untuk Lima Great Week. Terletak di Pasaje Encarnaction. Instalasi seperti ini sangat menarik, setidaknya dapat memberikan suasana baru, sebagai penyegaran pada area lama.

Invasion Verde was one of five selected artistic interventions chosen out of 137 proposals for Lima’s Great Week. Located along the paver-lined Pasaje Encarnacion, the works gives a pop of color as well as an easily accessible public outdoor seating and play space. The undulating mini-hills are covered in natural grass, recycled tires are planted with flowers and grass and mounted on stool legs, serving as fun outdoor chairs. Recycled plastic is also used as sculptural pieces throughout the park, which is planted entirely with drought tolerant plants. Lima has grown rapidly, and as the demand for housing grew, the city did little to incorporate public park and recreational space into their planning. According to the World Health Organization, every person living in a city should have 8 sq meter of recreation space, and Lima only has 1.98 sq meter per capita, resulting in a shortfall of 4,800 hectares of recreational spaces. Invasion Verde is an attempt to insert extra park space into a packed city, in order to improve the quality of life for Lima’s citizens.

Seluruh foto dan data diperoleh dari Archtizer:

http://www.architizer.com/en_us/people/profile/genaro_alva/

Kepulauan artificial Dubai yang menyusut





Monday, February 14, 2011

Tama University Library by Toyo Ito, Gabungan plastisitas struktur dan ketajaman pengolahan program ruang

Karya Rancang salah satu arsitek kenamaan Jepang, Toyo Ito, sebuah perpustakaan untuk kampus Tama Art University di Tokyo. Rancangan ini cukup menarik karena Ito mencoba membuat tampilan beton lebih ringan dan plastis. Karya Ito dulu selalu berkonotasi dengan plastisitas material industri seperti alumunium, stainless steel, dan kaca. Dia sebenarnya selalu tertarik tidak saja dengan material baru tetapi juga inovasi struktural. Berikut ini adalah penjelasan proyek perpustakaan ini:

Perpustakaan ini berada di suburban area di luar kota Tokyo. Bangunan ini berada di depan sebuah taman dengan pohon-pohon besar dan kecil seperti bukit kecil yang memanjang.

Kafetaria-nya merupakan tempat satu-satunya dimana merupakan tempat bertemunya berbagai disiplin, baik mahasiswa maupun dosen serta seluruh civitas akademika yang ada di Tama Art University ini.

Ide dasarnya adalah menciptakan ruang seperti gallery yang terbuka lebar yang memberikan akses aktif bagi orang-orang disekitarnya meskipun tidak secara langsung pergi ke perpustakaan.

Menciptakan flow yang bebas bagi orang yang lewat disekitarnya, Ito memikirkan untuk menciptakan struktur lengkung (arch structure) yang diletakkan secara random, hal ini akan menciptakan sensasi dimana lantai yang menanjak dan keindahan pemandangan merupakan sesuatu yang menerus diantara bangunan
Lengkunagn ini terbuat dari baja yang semuanya diselubungi beton.
Pada denah lengkungan ini diatur sepanjang garis kurva yang saling berpotongan pada beberapa titik.
Dengan perpotongan ini kita dapat mempertahankan lengkungan yang semakin mengecil ke sisi bawah
secara lebih extrem. Meskipun begitu masih dapat mendukung berat lantai di atasnya.
Lengkungan ini memiliki bentangan yang bermacam-macam antara 1.8 m sampai 16m.
Perpotongan dari lengkungan ini membantu mengartikulasikan secara halus memisahkan beberapa zona yang berbeda dalam satu ruang.
Rak dan meja belajar dengan berbagai macam bentuk, partisi kaca, dll. Memberikan zona-zona yang individual sekaligus kontinyu secara visual.

Tama Art University Library (kampus Hachioji)

Menaiki tangga pada lantai dua, kita akan mendapatkan buku-buku senirupa yang besar-besar dengan rak buku yang rendah menyeberang di bawah lengkungan. Di antara rak-rak buku ini terdapat meja-meja belajar dengan ukuran yang berbeda-beda. Sebuah meja yang besar dengan mesin fotocopy memberikan kesempatan pada para pengguna library untuk dptmelakukan pekerjaan editing.

Dengan perbedaan spasial kita akan berjalan mengalami lengkungan dengan bentangan dan ketinggian yang berbeda-beda dari cloister seperti rang yang dipenuhi dengan terang yang natural. Impresi seperti tunnel tidak dapat dipenetrasikan secara visual.

Perpustakaan baru ini adalah tempat dimana setiap orang dapat menemukan interaksi sosialnya sendiri dengan buku-buku dan media film seperti berjalan diantara hutan atau seperti gua, ruang baru seperti ruang arcade dimana hubungan yang halus dengan simple melewatinya; pusat adalah dimana sebuah rasa yang baru dari kreativitas mulai disebarkan ke seluruh kampus seni ini.

Saya sangat menghargai upaya Toyo Ito ini; menggabungkan antara kecanggihan tektonika beton yang berat menjadi terlihat ringan dan plastis dan ketajaman akan artikulasi lokalitasnya, bagaimana bangunan ini merespon lingkungan tamannya, bagaimana ikon baru ini sebagai melting point yang baru bagi seluruh civitas akademika di Tama Art University ini.

Project title: Tama Art University Library (Hachioji campus)
Location: Hachioji City, Tokyo, Japan
Architects: Toyo Ito & Associates, Architects
Client: Tama Art University
Program: Library

Design and Supervision
Campus Planning : Tama Art University Campus Project Team
Architects: Toyo Ito & Associates, Architects
Design team: Toyo Ito, Takeo Higashi, Hideyuki Nakayama, Yoshitaka Ihara
Associate Architect: Kajima Design
Structural engineers: Sasaki Structural Consultants
Associate Architect: Kajima Design
Mechanical engineer: Associate Architect: Kajima Design
Interaction design: Workshop for Architecture and Urbanism
Furniture design: Fujie Kazuko Atelier
Curtain design and fabricator: Nuno Corporation
Supervisor: Toyo Ito & Associates, Architects
Design team: Toyo Ito, Takeo Higashi, Hideyuki Nakayama, Yoshitaka Ihara
Tama Art University Campus Project Team
Tama Art University Former Facility Office

Contractors
Architecture: Kajima Corporation
Mechanical: Kajima Corporation
Shop drawing: Evergreen
Air-Conditioning, Plumbing & Mechanical Services: Techno Ryowa, Tonets Corporation,
Sanken Setsubi Kogyo
Electrical Installation: Kyokujitsu Electric, Kandenko, Toko Electric

sumber: diterjemahkan secara bebas dari dezeen dan arch daily